Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 14 September 2011

Mungkin Inilah Kehidupan

Oleh: (@benjalang‏)

Tiga Hari Menjelang Wisuda

"Tenang saja, sayangku. Yang terpenting, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Aku akan selalu bersamamu."

Kubaca lagi sms itu, kata-katanya selalu bisa menenangkanku. "Aku akan mempersiapkan yang terbaik. Untukmu, cintaku." Kukirimkan balasan padanya.

Aku benar-benar menantikan acara wisuda ini. Wisuda yang awalnya tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak, hukum bukanlah bidang yang aku sukai. Tapi kedua orang tuaku mengarahkan untuk memilih bidang ini, untuk melanjutkan firma hukum papa, kilah mereka.

Dalam perjalanannya, aku mengalami pemberontakan dalam diri. Hingga aku bertemu dengan Ardy, pria yang membantuku untuk berdamai dengan keadaan. Dia mengajariku banyak hal tentang cinta dan kehidupan. Lebih tepatnya, dia benar-benar merubah diriku. Semua yang telah ia lakukan, menjadi alasanku untuk sangat mencintainya. Dia orang terpenting dalam hidupku, pembimbingku, dan kuharapkan imam yang kelak memimpin kehidupanku.





Dua Hari Menjelang Wisuda

"Cintaku, kamu lagi apa? Aku baru pulang dari kampus, mengurus ijazah dan tetek bengeknya. Aku rindu kamu." Kukirimkan sms itu kepadanya.

Ya, sms ini yang menjadi penghubung bagi kami sekarang. Sejak dua tahun yang lalu dia dipindah tugaskan ke Kalimantan. Menelpon cuma hari minggu, saat dia ke kota.

"Ada yang kangen ya? Kok bisa samaan gitu. Sibuk tadi di kampus? Tapi shalat dan makannya ga lupa kan sayangku." Dia pasti lagi senggang, biasanya balas sms itu sangat lama. Kadang membuatku kesal. Ya resiko hubungan jarak jauh.

"Berarti kita jodoh dong, udah banyak kesamaan. Enggak lupa kok, aku kan selalu ingat pesanmu, calon suamiku yang paling kucinta" Kutambahkan beberapa simbol senyum di akhir sms sebelum dikirim.

"Tuh kan, ini ketiduran atau lagi ada kerjaan, dianggurin lagi deh sms nya," gerutuku dalam hati. Tapi belakangan ini aku sudah mulai bisa memahami. Tidak seperti dulu yang selalu ngambek setiap dia membalasnya lama.


"Jika aku adalah yang terbaik bagimu menurut Tuhan, aku pasti akan menjadi suamimu sayangku. Istirahat gih, besok mau nyiapin kebaya kan." Ternyata dia belum tidur, senangnya.

"Aku akan selalu berdoa, agar kau adalah yang terbaik untukku. Sejujurnya, aku sangat ingin kamu hadir di hari pentingku. Menjadi pendampingku" Mataku mulai berkaca, mengingat orang yang kusayang tidak bisa datang di acara nanti.

"Sayangku, doakanlah yang terbaik untuk kita. Dan doakan juga sebuah mukjizat, agar aku bisa menemuimu secepat mungkin. Sebab aku juga sangat menginginkannya. Tidurlah, bermimpilah dengan segala kebaikan" Air mataku meluruh. Mukjizat, aku suka dengan kata itu.

"Tentu segala doa baik untuk kita. Malam ini, aku akan berdoa agar tuhan memberimu kesempatan untuk memenuhi janjimu, kau berjanji akan bersamaku sampai aku di wisuda, dan terus mendampingiku. Aku percaya, mukjizat itu nyata. Aamiin." Seperti biasanya, dia selalu bisa membangkitkan semangatku. Sekarang, aku memiliki harapan untuk kuserahkan pada tuhan. Semoga Dia mengabulkannya.




Satu hari Menjelang Wisuda

"Kemalaman ya Sayangku," suara itu...

"Ardy..." Aku melompat kegirangan, setengah tak percaya. "Kamu datang juga. Oh, aku tahu. Pasti selama ini kamu cuma mempermainkanku, berpura-pura tak bisa datang."

"Aku datang untuk memenuhi janjiku. Dan doamu semalam, telah melapangkan jalanku. Lihatlah, mukjizat itu ada kan?" Aku dapat melihat lagi senyuman itu, senyuman paling damai yang selalu menenangkanku.

"Aku menamainya, keajaiban cinta. Mari masuk dulu"

"Sudah malam, lagipula aku belum mampir ke rumah."

"Tapi aku masih rindu, masa cuma sebentar saja"

"Simpanlah kerinduanmu, pada saatnya nanti, itu akan menjadi sebuah ledakan maha dahsyat" Ia menggenggam tanganku.

"Kamu sakit, cinta. Tanganmu dingin sekali?" Ia menggeleng. "Baiklah, akan selalu kusimpan rinduku, untukmu.

"Aku senang mendengarnya. Segeralah istirahat, esok adalah harimu. Serta ingatlah satu hal, semua yang telah kamu lakukan selama ini akan menjadi sesuatu yang bernilai. Tetaplah bersemangat melakukan semua kebaikan, Tuhan senantiasa melindungi orang-orang baik"

Aku mengangguk. "Tuhan, jangan pernah pisahkan aku dengannya," aku berdoa di dalam hati.



Hari Wisuda

"Om, Tante..." Kusalami mereka, orang tuanya ardi.

"Sri, selamat ya. Udah jadi sarjana sekarang"

"Terima kasih Tante. Oh iya, Ardy mana Tante?"

"Ardy meninggal dua minggu yang lalu. Dia kecelakaan di Kalimantan, kondisinya sangat parah. Ia tak sanggup bertahan lama."

"Tante, ga lucu ah. Kemarin malam dia nemuin aku kok"

"Ardy udah ga ada, Sri. Dia melarang kami memberitahumu perihal kecelakaannya. Sebab dia ingin kamu bisa menjalani wisuda ini tanpa beban. Ini ada surat terakhir darinya."


"Bersemangatlah, serupa aku yang tak kan lelah berjuang agar bisa memenuhi janjiku, dengan cara apapun. Sebab, aku selalu percaya mukjizat itu ada. Jangan pernah pertanyakan bagaimana caranya mukjizat itu bekerja, sebab rahasia Tuhan muskil untuk bisa kita terima. Satu lagi, tolong jangan menangis. Aku tak ingin kuburanku banjir oleh air matamu"

Aku terhenyak, benar-benar tidak percaya. Mukjizat? "Oh, Tuhan. Ada apa ini"


*****

"Kau sungguh hebat" Kusentuh batu nisan itu. "Semua sangat berat untukku. Tapi aku akan kabulkan keinginanmu. Lihat, tak ada air mataku. Kini, aku sangat percaya mukjizat itu nyata. Aku akan tetap bersemangat, serta doaku selalu untuk kebaikan kita. Di sini kita tak mungkin bersama, tapi aku yakin mukjizat akan menikahkan kita kelak, di kampung akhirat"



---••---




"Aku rela melepasmu Sri, serupa kau rela melepaskan Ardy. Beristirahatlah dengan tenang. Maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu, istriku" kupeluk buku harian Sri. Aku tak ingin melanjutkan untuk membacanya.

"Tuhan, tiada akal yang dapat menyibak tabir rahasia-Mu. Limpahkanlah kebaikan bagi kami." Kusimpan buku harian itu.

"Sri, kau begitu elok. Bahkan tak sekalipun engkau membuatku kesal apalagi marah. Kau selalu menjadi istri yang menjunjung aku sebagai suami. Maaf, kali ini aku mengecewakanmu lagi. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, aku tak bisa menyelesaikan membaca ini. Biarlah semua menjadi rahasia terindah dari Tuhan. Aku akan selalu mencintaimu istriku, dengan caraku. Aku menunggu mukjizat untuk kita."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!