Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 30 September 2011

Jatuh

Oleh: Rheza Aditya (@gravelfrobisher)




Jatuh...
Dia merasakan dirinya terjatuh, bagaikan dilempar dari gedung pencakar langit. Perutnya terasa ngilu, tertekan oleh daya gravitasi yang melawan pertahanan udara, membuat dirinya setengah melayang untuk sementara, kemudian terjatuh tanpa melambat.
Ya, dirinya jatuh.
Dia tidak ingat apa yang menyebabkannya jatuh. Dia juga tidak ingat dia jatuh dari gedung apa, di jalan apa, dan lantai berapa. Dia tidak ingat lagi akan namanya sendiri, identitas dirinya, masa lalunya, sahabatnya, keluarganya, semuanya. Kepalanya serasa kosong, benar-benar kosong seiring dengan jatuhnya raga menuju kehampaan abadi. Siapakah dirinya? Di manakah ia? Mengapa dia terjatuh?
Untuk sesaat, bulu kuduknya merinding. Apakah dia akan mati? Wajarnya seorang manusia akan mati bila terjatuh dari gedung yang tinggi. Tapi sudah berapa lamakah dia terjatuh? Satu detik? Satu menit? Sepuluh menit? Dia tidak tahu. Yang diketahuinya hanyalah satu: dia sedang jatuh.
Jatuh, menuju kehampaan, menuju ruang yang hanya berisikan udara. Dirinya merasa terpelanting, terbang, melayang, namun terjatuh. Merasakan aliran udara yang membumbung menembus pakaiannya, menerpa dan membelai lembut permukaan kulitnya seraya ia terjatuh. Ya... terjatuh. Kalau ditanya bagaimana perasaan dirinya saat itu, dia tidak akan bisa menjawab hanya dengan satu kata.
Dia merasa bebas, karena dirinya serasa terbang di langit luas. Dia juga merasa resah, karena semakin lama dia terbang melayang, semakin pasti dia mati ketika menyentuh tanah. Dia merasakan kepasrahan, mengingat dirinya tidak bisa berbuat banyak dalam keadaan terlepas di udara. Dia merasakan setitik penyesalan: 'mengapa dirinya bisa terjatuh?' Dan dia juga merasakan... kematian... yang berjalan mendekat.
Mungkin terdengar aneh bila dia mengatakan 'kematian berjalan mendekat', sebab 'kematian' adalah sesuatu yang tidak memiliki bentuk, dan jelasnya tidak memiliki kaki. Tapi memang, persis seperti itulah yang dirasakannya. Dia merasakan kematian tersebut berjalan perlahan, merayap mendekati dirinya yang terikat oleh seutas tali, tidak bisa melarikan diri maupun bergerak ke mana-mana. Kematian tersebut akan berjalan, semakin lambat seiring dengan setiap langkah, namun pasti. Kematian tersebut akan tersenyum tipis ke arahnya, melambaikan sensasi kengerian yang merayap dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan akhirnya...
Dan akhirnya 'kematian' akan melepaskan dirinya dari tali yang mengikat.
Ketika dirinya terjatuh, dia merasakan berbagai macam emosi yang meluap-luap dari dalam dirinya, jiwanya. Berbagai pertanyaan filosofi seperi 'mengapa dia hidup' dan 'apa yang akan terjadi kalau dia mati' melintas di kepalanya, membuat dirinya merinding berkali-kali tanpa henti. Bagaikan berada di ujung dan perbatasan dua sisi, yang satu menjerat dirinya dan tak ingin melepaskan, sementara yang satunya lagi mengundang dan berusaha melepaskan dirinya dari jeratan.
Ya, seperti itulah yang dia rasakan. Dia tidak merasakan takut. Dia tidak bisa mengingat apa-apa. Oleh karena itu, dia juga tidak bisa memikirkan apa-apa tentang dunianya sebelum dia terjatuh.
Rasa penasaran kini menghampirinya. Apakah dia mempunyai keluarga ataupun teman dekat? Lalu, apakah yang akan mereka lakukan dengan jenazahnya? Bagaimana kalau keluarganya tidak mengetahui kematian dirinya? Bagaimana kalau jenazahnya hanya akan dibuang dan dijadikan pupuk tanaman dimasa yang akan datang?
Dia tidak tahu. Terlebih dari itu, dia tidak ingat sama sekali tentang apa yang ada di kehidupannya, meninggalkan kekosongan yang janggal di dalam benaknya. Rasanya sedikit gatal, seperti ketika kau salah mengoleskan obat tanpa tahu bahwa kau alergi. Rasanya juga kesal, seperti ketika kau berusaha semampumu hanya untuk mendapati bahwa kau gagal, dan orang yang menghina dan seharusnya dibawahmu malah lebih berhasil. Kekosongan didalam benaknya tersebut akhirnya menimbulkan... perasaan resah.
Tidak, jangan salah sangka. Dia tidak 'takut' akan kematian itu sendiri. Bagi dirinyanya, ke manapun dia akan pergi setelah dirinya mati bukanlah masalah. Baginya, kematian hanyalah seperti sebuah jembatan yang sempit, yang dulunya tertutup namun kini telah dibukakan untuknya. Atau, seperti analogi ciptaan dirinya di atas, kematian baginya adalah seperti 'dijemput' oleh sesuatu, untuk membebaskannya dari jeratan dan lilitan kehidupan.
Tidak, bukan 'takut' yang dia rasakan, melainkan 'resah'. Gelisah, khawatir, dan cemas. 'Takut' membuat hatimu dikejar-kejar, terengah-engah sampai dirimu terjatuh, kemudian menerkam dan menghabisimu tanpa ampun. 'Resah' lebih mengerikan daripada itu. Dia akan mengintai, mengikutimu dari belakang tanpa kau sadari. Kemudian di saat kau paling tidak menduga... dia akan menyergapmu, menghabisimu pelan-pelan, sehingga kau dapat merasakan kesakitan dan kengeriannya setiap detik, hingga kau tak mampu merasakan apa-apa lagi.
Gelisah... resah. Dirinya merasa 'resah' akan ingatannya yang tak dapat dipanggil. Bagaimanakah kehidupannya dulu? Apakah dia orang yang baik-baik? Apakah dia menjalankan semua peraturan yang ada?  Kalau dia memiliki keluarga, apakah dia merawat keluarganya dengan kasih sayang? Apakah dia memiliki pekerjaan yang layak? Apakah dia sering menyumbang fakir miskin juga bagi yang membutuhkan? Apakah dia disenangi oleh teman-temannya? Apakah dia terkenal? Apakah dia cukup dewasa dalam bertindak?
Dia pun semakin bertanya-tanya: apakah ada yang akan menangisinya, mengenang riwayatnya, dan memperingati kematiannya setiap tahun? Apakah ada yang cukup dekat dan sayang kepadanya untuk setidaknya mengingat dirinya kelak? Apakah ada yang mau mengenang dirinya?
Dia kembali berpikir, berpikir, dan melarutkan pikirannya didalam pemikiran yang lain. Saat itulah dia tersadar, mengapa dia belum juga mencapai tanah??? Sedari tadi, yang ada di sekelilingnya adalah pemandangan gedung bertingkat, dengan permukaan tanah masih terlalu jauh di bawahnya. Bahkan setelah dia berpikir dan berkontemplasi, dia tidak merasakan adanya perubahan dengan keadaan di sekelilingnya. Kalau dia memang benar sedang 'jatuh', bukankah seharusnya jarak antara dirinya dengan tanah semakin menipis seiring dengan berjalannya waktu? Namun, satu hal yang pasti, dia yakin bahwa dirinya sedang terjatuh, sebab sensasi yang dirasakannya begitu nyata; angin yang membelai, perutnya yang tergelitik, dan tekanan udara yang memainkan posisi tubuhnya di udara.
Saat itulah perasaan resah yang ada di hatinya mulai digantikan dengan perasaan 'takut'. Apakah dia benar-benar sedang jatuh? Apakah dia hanya sedang bermimpi? Apakah dia masih... hidup?
Seketika itu juga, dirinya tersentak. Ada keanehan pada ini semua, dia tidak mengingat apa-apa, termasuk kejadian persis sebelum dirinya terjatuh. Begitu dia sadar, dia mendapati dirinya sedang terjatuh, namun mengapa dia bisa begitu saja menerimanya? Bukankah orang normal akan langsung panik? Mengapa dia tetap tidak takut meskipun dirinya tidak bisa mengingat apa-apa, terjatuh dan setengah mengambang di udara dari ketinggian sekian ratus meter? Dan mengapa dia bisa langsung menerima begitu saja bahwa dirinya akan..... mati?
Apakah sebelum dirinya terjatuh, dia memang sudah memikirkan untuk mati? Dan perasaan tersebut ikut terbawa, meskipun dirinya lupa ingatan karena suatu sebab?
Terpikir olehnya yang lebih ekstrim sehingga menimbulkan gelombang 'resah' berikutnya, apakah dia justru sudah mati?
Mati... sebagai manusia. Bagaikan seekor ulat yang sudah menetas dari kepompongnya, meninggalkan fase krisalis beku tak bergerak dalam wujud kepompong kehidupan, dan akhirnya membentangkan sayap sebagai kupu untuk menjelajahi dunia baru? Ataukah bagai seekor katak, yang telah menemukan alasan untuk hidup di daratan, setelah sebelumnya menetap dan berdiam di dalam lindungan air?
Ya... dirinya pasti sudah mati. Entah mengapa dia yakin akan hal tersebut. Semenjak awal, dia sudah mati. Dan bayangan dirinya terjatuh ini hanyalah visualisasi dari apa yang terakhir dilakukannya. Mungkin dia bunuh diri dengan melompat dari gedung, atau mungkin dia dibunuh dengan cara didorong dari atas gedung. Tak heran dia tidak bisa mengingat apapun, tak heran dia tidak bisa mengingat masa lalunya, keluarganya, sahabat dan teman-temannya. Tak heran dia tidak merasakan... 'takut'.
Karena dia sudah.... mati...
...
...
...
...tapi tunggu dulu...
...Hipotesisnya tidak sepenuhnya benar.
...Kalau dia sudah mati, maka sangatlah wajar bahwa dia tidak merasakan ketakutan lagi. Mungkin 'resah' adalah konteks yang berbeda, mungkin orang mati masih bisa merasakan 'resah', dan itulah sebabnya mengapa ada yang disebut hantu, karena mereka 'resah' dan ingin menyelesaikan urusan mereka yang belum sempat tertuntaskan. Tapi berbeda dengan dirinya, saat dia merasakan keanehan dengan posisinya di udara, saat dia tidak tahu mengapa dirinya belum menyentuh tanah... Dia, walaupun hanya sesaat, merasakan 'takut'.
… yang berarti...
...
...
...??!!
BRUKK!!
Dan segalanya menjadi gelap.












...pernah dimuat di buku writers4indonesia yang ke-7, terbitan nulisbuku.com...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!