Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 10 September 2011

Juliet

oleh: Josephine Ambiya (@JosephineAmbiya)

“Jangan terlalu lama menunggu, Juliet. Anggaplah aku Romeomu malam
ini. Aku jamin dunia akan indah malam ini. Tak perlu lari, Juliet, tak
perlu kamu kabur. Tak ada yang akan menahanmu, jika kamu mau menunggu
lebih lama silahkan, tapi aku takkan kembali,” aku berbisik di
telingamu. Kamu hanya diam menggenggam senjatamu, agar terlihat kuat,
mungkin.

Kamu tak pernah bicara padaku, kamu bilang kamu cinta aku setiap hari
pada semua orang. Kamu bohong setiap hari dan setiap aku mendengarnya,
aku percaya. Aku percaya padamu melebihi apapun, Juliet, andai kamu
tahu.

Kamu masih menatapku dengan matamu yang dingin, mencoba mengerti
segala perkataanku. Senjatamu masih kau genggam erat, kamu mengabaikan
suaraku karena tak mengerti. Kamu berteriak tak sabar karena semua
omong kosongmu tentangku.

“Aku tidak pernah mencintaimu. Aku bahkan ingin meludah di atasmu,”
Julietku, kamu, berkata seperti itu di hadapanku sendiri. Aku hanya
mendengus tertawa, aku tahu kamu terlalu muda untukku. Aku tertawa
makin keras ketika aku ingat umurmu masih empat belas. Kamu melaju
dewasa terlalu cepat dibandingkan orang lain. Gaunmu jelas terlalu
panjang menutupi kakimu yang masih belum jenjang.

“Sudahlah, Juliet. Berlarilah, kaburlah. Menangislah seperti yang lain
dan lemparkan tubuhmu yang terbalut dunia indah itu ke atas tempat
tidur, aku tahu itu yang kau inginkan. Kamu terlalu muda, Juliet. Aku
takkan datang lagi selamanya jika kau kabur, Juliet. Tapi aku akan
selalu disini bila kau kembali, Juliet, karena aku cinta sekali
padamu,” aku membelaimu dengan lembut, kau merasa kesakitan.

“Berhentilah! Bahkan kau bukan Romeoku! Aku tak perlu lari darimu! Aku
lebih kuat dari yang kau bayangkan. Aku tidak muda lagi, aku cukup
dewasa untuk menerimamu. Aku hanya tidak mencintaimu!” pertahanmu
hancur, lalu kamu menangis. Aku menangkap air matamu, karena mereka
bilang itulah yang perempuan suka.

“Tidak, Juliet. Kau tentu boleh pergi sesukamu. Kau boleh berjalan
dengan anggunmu dan berkata kau sudah tidak cinta Romeomu ini. Apa
yang perlu dilakukan jika sudah tak cinta? Larilah! Kabur sampai semua
tak bisa menemukanmu lagi, sampai kamu kehilangan arah pulang” aku
mulai menikmati pembicaraan dua arah ini.

Kakimu memijak-mijak kuat ke tanah, aku tahu kamu bingung memilih
antara kabur ke tempat tidur atau memelukku malam ini.

“Aku pasti kuat, selama ini aku selalu menang dan aku takkan pernah
kabur,” Juliet, kamu tidur di atas tubuhku, kamu menangis hingga pagi.
Senjatamu jatuh menggelinding di bawah kakimu, tak perlu kamu ambil
karena memang sudah patah dan takkan bisa dipakai lagi, sebagus apapun
serutanmu.

Kamu bangun, Juliet, dengan lebih segar. Aku sudah tidak bersuara,
biarlah kamu menganggap bicara dengan selembar soal kalkulus adalah
mimpi buruk yang membuat tubuhmu sedikit panas. Padahal aku panaskan
tubuhmu semalam supaya kau punya waktu sehari lagi menyelesaikanku dan
kamu tak perlu kabur. Kamu tidak perlu kabur, kamu sudah dengar
solusiku ketika kau tidur.

Tubuhku mulai mengering dari air matamu, Juliet. Maafkan aku karena
membuatmu gila semalam. Bahkan namamu bukan Juliet. Maaf, aku perlu
seseorang untuk mencintaiku. Tak perlu kabur, aku ada di sini. Aku
hanya mempermainkanmu semalam, tak perlu disesali. Aku yang seharusnya
kabur dan berubah menjadi gambar-gambar indah yang dicintai semua
orang.

Aku tahu program akselerasi itu tidak membuat umurmu berakselerasi
pula, kamu terlalu muda.

Kamu mulai mengambil senjata baru, pensil dari kekasihmu yang pintar
dan tampan. Kamu bukan Juliet dan kamu tahu itu. Kamu merabaku dan
menyelesaikan aku. Aku tersenyum bahagia. Selamat ulangtahun ke
limabelas, Julietku, aku tahu kini kamu cinta aku dan kamu tak perlu
kabur kemanapun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!