Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 28 September 2011

Bicara (ke)hilang(an).

Oleh : Martesia Klarissa (@heyechi)

Bagaimana kalau esok tidak ada?
Buat aku.
Buat kamu.
Atau buat siapapun.

Apa semua masih akan sama? Apa akan tetap ada tawa yang lepas? Apa air mata akan mengalir?

Kita kehilangan.

Kamu siap kalau harus bertemu dengan hilang? Kalau aku tanya pada diriku sendiri, jawabku adalah tidak. Aku tidak mau sok tegar. Juga tidak mau sombong dengan bilang "kapanpun hilang datang. Aku pasti bisa menghadapinya."

Hilang itu bukan perkara yang ada jadi tidak ada. Juga bukan soal nanti juga ada gantinya. Atau, tenang saja aku sudah siapkan cadangannya. Tapi ini tentang kenapa tidak dijaga supaya tidak hilang.

Misalnya saja, buku kesayanganmu. Yang kamu beli dengan susah payah menyisihkan uang sedikit-sedikit setiap hari. Bisa saja untuk beli yang baru kan? Tapi tetap saja kamu akan marah-marah karena kehilangannya.

Belum lagi menghadapi sedih dan trauma. Apa tidak kelimpungan kamu dibuatnya? Berurai air mata sampai semuanya mengering. Ketakutan. Luka. Perih.

Semua orang bilang, ikhlaskan, relakan. Padahal kalau mereka alami sendiri. Apa mudah melakukannya?

Katanya, kalau memang masih ditakdirkan bersatu pasti akan kembali. Tapi menunggu itu juga menyakitkan. Menunggu itu sama dengan hilang. Hanya tidak mau percaya bahwa sudah berpapasan dengan hilang. Dan memungkiri kenyataan bahwa sudah tidak ada lagi.

Kamu mau lakukan apa kalau di tengah jalan hilang menegurmu? Lari? Dan menganggap pertemuanmu tadi hanya ilusi? Atau berjabatan tangan dengannya? Berkenalan. Mengakrabkan diri. Dan menjadikan sahabat.

Jangan-jangan selama ini kita semua bermusuhan dengan hilang. Tidak mau ada urusan, dan mengucilkannya.

Padahal hilang itu ada di sekitar kita. Kita mengalaminya terus. Setiap saat. Sadar ataupun tidak. Seperti uang 100 rupiah yang terloncat dari saku lalu masuk ke dalam selokan. Tapi karena buatmu itu tak penting, kamu mengabaikannya. Katamu, "biarin deh, cuma 100 rupiah aja." Karena buat kamu 100 rupiah hanya benda kecil, bernilai (sangat) kecil di matamu.

Seharusnya kita berdamai saja dengan hilang. Hilang itu pasti. Tidak ada yang abadi bukan di dunia?

.27september2011.kamardelusional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!