Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 28 September 2011

Moving On

Oleh: @TengkuAR

Beruntung aku jadi perempuan pas-pasan, pas tingginya karena masih ngelewatin 155 cm, pas mukanya karena tertolong dengan kulit wajah yang putih, pas berat badannya karena meskipun berat badanku saat ini 55 kg, aku gak termasuk obesitas, tapi gemuk atau bahasa yang lebih menyenangkan adalah molek. Itulah aku; diriku; kebahagiaanku. Keberuntunganku mungkin tidak sebahagia pengalamanku hingga pada akhirnya aku mempunyai prinsip mulai detik ini yaitu "Jangan pernah menyukai seseorang duluan.".

Empat tahun yang lalu aku menyukai seorang pria yang jarak umurnya 14 tahun di atas aku. Jangan tanya kenapa bisa? Karena sampai detik ini aku gak tau jawabannya. AL namanya, dia adalah tetangga tanteku. Menurut pandanganku saat itu, dia menarik, pintar, dan gak banyak bicara kalau tidak terlalu penting.

Ya, memang aku yang memulai pendekatan dengan dia, karena aku penasaranngeliat sifat coolnya, gemes banget kalau ngobrol karena dia yang irit bicara. Satu bulan aku mungkin hanya dianggap anak kecil yang centil, karena sering menghubungi dia duluan. Tapi lama kelamaan dia inisiatif dengan sms dan telepon aku duluan.

Sasaran mencair, aku pun berhasil!! Dan akhirnya kami pacaran.

Di awal pacaran, hubungan kami jauh dari kata mulus, karena 'Sang Mantan' masih saja menganggu dan mengahrapkan aku, tapi aku gak berniat balik sama dia. Aku sudah tutup buku 'Sang Mantan', aku butuh sesuatu yang fresh, hubungan yang baru. Pacarku punya perasaan sensitif, dia tau kalau aku pusing dengan kelakuan 'mantan'ku. Oleh karena itu, bukannya pergi, dia malah gencar memenuhi hari-hariku dengan kehadirannya. Agak sedikit membantu sih, karena aku juga gak punya waktu buat bimbang atau kasihan terhadap 'mantan'ku.

Hari kebebasanku datang juga akhirnya, 'Sang Mantan' menyerah dan memilih menikah dengan perempuan lain. Sejak saat itu, aku konsen sama hubunganku dengan AL. Kita pasangan yang tak terpisahlan, karena AL tetap menemaniku setiap hari kalau dia sedang tidak bekerja.

Seiring berjalannya waktu semua yang indah di awal, koq jadi begini ya? AL tidak peduli dengan marah-marahku, mau karena jealous, telat atau karena dia tidak menepati janji, judulnya adalah CUEK. Gak jarang aku nangis sendirian, karena dia gak pernah minta maaf lagi atas kesalahan-kesalahannya. Aku jadi berpikir mungkin dia ngerasa sudah memiliki diriku seutuhnya. Dia gak takut kehilangan aku, karena aku lah yang bergantung sama dia. Dia berasil membuat peremouan mandiri ini menjadi perempuan manja, bodoh, dan cengeng.

Bingung aku mulai dari mana, tapi aku harus kembali menjadi diriku yang dulu. Karena sikap dia terhadapku, nyaris membuat aku menjadi perempuan yang gak berfungsi dan mati rasa terhadap lingkungan sekitar.

Aku HARUS LEBIH BISA BAHAGIA.
Aku HARUS LEBIH FOKUS TERHADAP DIRI SENDIRI.
Dan Aku PASTI BISA!!

***

Aku dan pembelajaran di dalam kebingunganku. I love you, but i love me MORE!!

------------------------

Sebuah catatan kecil dari seorang sahabat yang terinspirasi dari kehidupan percintaan pribadinya....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!