Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 24 September 2011

Rasa Yang Terabaikan

Oleh: @agusriyanto_


Status bbm mu malam itu membuatku panik setengah mati.

‘ Kok tau – tau drop begini yah :(( ‘

Aku berusaha untuk tak memperdulikan status bbm mu, tapi aku tak kuasa menahan rasa khawatir ini. Aku ingin tau apa yang sedang terjadi denganmu, bbm ku pun berbicara.

“Eeh, kamu kenapa? Kamu sakit?”

Tak ada jawaban. Tiap menit kupandangi layar blackberryku, tapi tetap tak ada balasan darimu. Dua puluh menit berlalu dan kau tetap membisu.

“Kamu udah tidur yah?”

Sunyi membisu.

“Met istirahat yah…”

Tetap tak ada jawaban, panik. Jantungku berdetak semakin kencang, seakan berpacu seiring detak jarum jam bahkan lebih cepat. Malam yang dingin pun terasa panas membara, bahkan acara Opera Van Java kesukaanku tak dapat mengalihkan fikiranku darimu.

Detik demi detik berlalu tapi tetap tak ada kabar darimu. Aku ingin sekali menelponmu tapi kuurungkan niatku, aku ingin sekali langsung datang ke kosmu tapi juga kubatalkan niat itu.

Saat sang rembulan bersiap meninggalkan malam dan mentari mulai menyapa pagi, aku masih terjaga memikirkan apa yang sebenarnya terjadi denganmu. Masih sama seperti semalam, tetap tak ada jawaban.

“Morning pagi... Bangun2…”

Tetap tak bergeming.
Hingga akhirnya kesunyian itu pun terhapuskan.

“Pagi”
“Iya aku sakit…”

Sial, setelah semalaman aku tak bisa tidur memikirkan apa yang terjadi denganmu tapi kau balas bbm ku hanya seperti itu, tapi setidaknya aku lega kau masih hidup.

“Ya ampun, sakit apa? Trus sekarang gimana keadaanmu? Udah minum obat?”

Sunyi sesaat.

“Meriang + sakit kepala + lemes… Udah, ini mau istirahat…”
“Ooooh, ya udah met istirahat yah..”

Itu bbm ku terakhir untukmu. Kini lima hari berlalu, kau belum membalas bbm ku dan hatiku menjerit sedih. Selama lima hari aku menahan diri untuk tidak menghubungimu, selama itu pula aku mengamatimu dari status bbm serta twit di twitter mu. Selama itu pula aku berusaha untuk mengabaikanmu, dan selama itu juga kurasakan sakit dalam hatiku.

Cukup sudah, setelah sekian lama aku berusaha dekat denganmu, sekian lama pula kau memberikan harapan semu untukku, dan selama itu pulalah rasa ini tumbuh dalam jiwaku. Kini setelah kau memilikinya, kau abaikan aku. Bila itu mau mu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku akan berusaha mengabaikanmu, walaupun itu sulit bagiku. Sangat sulit bagiku untuk mengabaikan rasa dalam diri ini rasa yang tumbuh dan berkembang seiring waktu, aku sangat menyukaimu dan bahkan aku mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!