Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 20 September 2011

Anggraini


Oleh Sylvana Wijaya



Malam itu aku sedang menunggu Shinta untuk dinner bareng. Kami bersahabat sejak kuliah, sama-sama di jurusan psikologi dan sama-sama nyasar di pekerjaan kami. Aku dengan jabatan marketing team di salah satu biro iklan di Jakarta. Sedangkan Shinta memilih menjadi artis sinetron. Kariernya dibilang cukup bagus untuk ukuran pendatang baru. Dan benar perumpamaan semakin tinggi pohon berdiri, maka semakin banyak angin menerpa. Resiko menjadi selebriti adalah banyaknya gosip-gosip yang kebanyakan menjatuhkan nama si artis. Karena itu pula, intensitas pertemuanku dan Shinta berkurang dan harus dilakukan diam-diam. Katanya, ia tidak ingin aku terseret dan dikejar-kejar wartawan seperti dirinya. Sambil menunggu Shinta, aku mulai memperhatikan interior restoran ini yang juga salah satu hobiku.
“Ibu Anggriani?”
Aku menoleh ke arah suara yang memanggil namaku. Seorang pria berpakaian formal lengkap dengan bunga ros di tangan itu memanggil namaku. Tapi bukan aku yang dimaksud. Wanita bernama Anggriani itu duduk di meja belakang dan balas memanggil “Yes, beib” pada pria itu.
Pria itu tersenyum sehingga memperlihatkan deretan gigi putih. Kalau bukan tampan pasti ganteng yang cocok untuk mengkategorikan pria ini.
“Angryani”
Tanpa menoleh pun aku tahu siapa yang memanggilku. Shinta. Hanya dia yang usil mengutak atik namaku menjadi Angry-Ani.
“Shinting” balasku sambil memeluknya.
Kami berdua tertawa dan hanyut dalam percakapan hangat. Dia meminta maaf karena tidak sempat menhubungiku belakangan ini karena kesibukannya. Belum sempat aku memberikan 'hukuman', terdengar suara meja dibanting dari belakangku. Shinta dan aku terdiam setelah mendengar percakapan atau lebih tepatnya makian dari meja belakang.
“Tenang beib” ujar perempuan itu
“Gimana bisa tenang? Kamu nggak percaya sama aku!”
“Bukan gitu, aku cuma pengen lihat investasiku selama ini”
“Nah kan, itu tandanya kamu udah gak respek dan percaya sama aku lagi”
“Tenang Evan, aku gak suka kamu teriak-teriak begini. Kita jadi tontonan”
Suara itu terakhir itu sepertinya akrab di telinga. Dan kecurigaanku memuncak ketika pria yang bernama Evan itu meninggalkan meja sambil berkata “Kita putus, Anggriani”
“Shinting, aku kebelakang dulu ya” kataku sambil beranjak menuju 'TKP'.
Perempuan itu duduk disana ditemani segelas wine kosong dan makanan yang belum tersentuh. Aku tertegun “B..Bu Anggriani?” kata ku terbata-bata. Aneh rasanya memanggil nama sendiri. Tapi lebih aneh lagi kejutan di depanku.
Dan Bu Anggriani sama terkejutnya melihatku “K..Ka..Kamu”
Bu Anggriani yang tampak arogan di kantor terlihat rapuh. Ia memegangi keningnya yang dihiasi kerutan halus. Rambut sasak khas menara pisa yang menjadi atributnya kini malah tampak lurus dihiasi bando bunga besar. Penampilannya mirip ABG, berbanding terbalik dengan usianya. Sejenak aku menyetujui istilah puber kedua.
“Tolong, kamu lupakan kejadian ini” katanya dengan nada memerintah.
Kubalas dengan anggukan. Lagi pula aku tidak tertarik membocorkan masalah orang lain. Bu Anggriani membereskan tasnya dan berdiri, mungkin ia tidak ingin kepergok kerabatnya.
“Saya pulang dulu...” ucapnya sambil melihatku, berusaha mencari tahu dengan siapa ia berbicara.
“Anggriani, Bu” buru-buru kujawab.
Ia menatapku dalam beberapa saat, setelah itu ia tersenyum “Dua bulan kita rapat bersama, tapi aku gak sadar nama kita sama” gumamnya.
Aku tersenyum basa-basi.
“Selamat malam Angggriani” pamit Bu Anggriani.


Pak Condro menjentikkan lengannya tepat di depan wajahku “Melamun aja! Kaget liat angka segitu?”
“Kok Bu Anggriani bisa tiba-tiba menyetujui nilai kontrak sepuluh miliar dengan kita, pak?” tanyaku heran.
Devi ikut heran “Bukannya masih banyak yang harus di revisi ya?”
Pak Condro mengangkat bahu “Mana saya tahu, dia bilang sangat tertarik pada presentasi Anggriani dan ingin segera kerja sama dengan kita”
Devi kontan melongo “Tertarik gimana? Orang selama presentasi dia protes melulu, yang rencana cetek lah, tidak rasional lah, sampai make up kita aja di komentari”
“Sudahlah, yang penting kontrak sudah di tangan. Anggriani, kamu yang bertanggung jawab dalam proyek ini karena Bu Anggriani suka dengan idemu. Oh ya, kalau proyek ini berhasil, Bapak akan mempromosikan kamu” ujar Pak Condro lancar.
Kali ini aku yang melongo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!