Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 26 Juli 2011

Di Alun Alun Kota

Oleh: @tommradd

Aku kembali melihat alun alun kota. Tempat ini sudah sepi. Kini dia hanya jadi tempat para berandal yang senang menggunakan belatu. Tak lagi hangat dan ramai seperti yang dulu. Ketika hatiku masih dikuasai oleh dia. Perempuan itu. Seorang perempuan paling cantik dan hebat yang pernah ku kenal. Dia perempuan yang pernah membuatku jatuh cinta. Dalam kegelapan, tempat dimana dia berasal. Serta tempat dimana kami bertemu. Sisi gelap kehidupan.

Aku memasuki dunia gelap dalam keadaan terpaksa. Kenyataan memaksaku untuk tidak sadar. Tidak punya duit. Hidup yang morat-marit. Ya, otak siapa yang bisa bekerja jika perut tak lagi terisi apa-apa. Dan begitulah. Pikirankupun kosong sejenak. Lalu, dengan mudah tercuci. Bersih dengan busa busa yang dibawa kegelapan. Aku terbawa.

Dan disanalah aku kemudian bertemu dia. Aku tak tahu apakah nasibnya sama denganku. Yang aku tau, parasnya indah. Seperti bidadari yang sengaja dikirim oleh Tuhan untuk mengurangi kesuraman dalam dunia kegelapan ini. Dia menyapaku dengan sebuah senyuman manis. Kami pun saling bertatap. Aku terkesima. Tatapannya matanya indah. Dia mengeluarkan pertanyaan yang kupikir basa basi, namun ternyata adalah taktik untuk menguasai pikiran dan hatiku.

“Sudah berapa lama disini?” tanyanya

“tiga bulan. Kau sendiri?”

“lebih lama dari kau.”

“Oh..”

“Namamu siapa?”

“Raja”

“Apa kau sudah dapat misi?” tanyanya lagi.

“Sudah. Tapi aku masih bingung. Aku tidak terlalu berani. Dan aku masih bingung kenapa aku masuk ke tempat ini”

“Yakinkan saja hatimu. Ini perintah dari Tuhanmu.”

“Tuhan tidak mungkin membiarkan kita melakukan kejahatan seperti ini”

“Ini bukan kejahatan. Ini adalah usaha untuk membela agama mu”

“Tapi…” aku belum sempat menjelaskan. Dia menciumku. Tepat di bibir. Aku hanya terdiam. Terkesima. Dan menikmatinya. Sekali lagi pikiranku kosong.

“Kau mau melakukannya?”

“Ya…” Jawabku pasti.

Tiga hari kemudian aku berangkat ke alun alun kota. Tempat yang ramai. Sangat strategis untuk melaksanakan misi ini. DHUARRR…seketika alun alun itu porak poranda. Orang orang berubah jadi anak ayam kehilangan induknya. Aku hilang. Tubuhku berpencar kemana mana. Seketika aku sadar. Aku telah dibodohi oleh perempuan itu. Karena kemudian kudengar, dia adalah senjata pemimpin kegelapan untuk merayu para suruhan seperti kami. Untuk menguatkan hati. Melakukan bom bunuh diri.

Itulah pertemuan pertama dan terakhirku dengannya. Karena selanjutnya kami ada di dunia yang berbeda. Aku harus menyelesaikan urusanku di dunia yang entah surga atau neraka ini. Aku terjebak. Tak bisa bergerak. Terperangkap di alun alun kota. Bersama arwah korban tindakanku saat itu. Dua tahun aku terjebak di alun alun ini. Hingga mungkin, karena Tuhan sudah bosan melihat ku yang selalu menyesali pertemuan dengan perempuan itu, Dia lalu memberiku kesempatan bertemu lagi dengan perempuan itu. Di alun alun yang sepi ini. Perempuan itu lewat. Tak pernah kulupa tatapan matanya itu. Dendam. Ya, aku masih punya dendam pada perempuan ini. Tuhan baik sekali memberi aku kesempatan kedua bertemu dengan perempuan ini. Tentu tak kusia siakan. Aku harus menyapanya. Lalu, aku masuk ke tubuh salah satu berandalan di alun alun ini.

“Hai” sapaku sambil tersenyum. Dan perempuan itu tentu merasa risih. Aku kan tidak datang dalam rupa yang sama. “ Aku Raja. Masih ingat? Laki laki yang kau kuatkan untuk melaksanakan misi dulu”. Dia tersentak. Sepertinya dia ingat. Dia buru buru berlari. Tentu aku tak mau melepaskannya begitu saja. Dendam ini masih membara. Aku mengambil belati yang ada di kantung laki laki yang kurasuki ini. Dapat. Kulempar saja ke arah perempuan itu. Jleb. Darah. Tepat sekali kena di tengah punggungnya. Sepertinya tembus ke jantung. Dia rebah. Semakin lemah dan tak berdaya. Kemudian meregang nyawa. Kutunggu semenit. Ruh-nya mulai lepas dari tubuhnya. Kutunggu sekitar tiga puluh detik lagi hingga ruh nya lepas sempurna.

Lalu, kami, ruh kami, saling bertatapan. Rasanya berbeda dengan tatapan ketika pertama kali kami bertemu. Sepertinya dia marah. Aku hanya tertawa.

“Hai. Senang, berjumpa lagi. Oh iya, namamu siapa? Dulu aku lupa menanyakannya.”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!