Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 09 Juli 2011

Tokyo, Aku Jatuh Cinta

Oleh: Destini P Lestari (@realdestini)

Jam menunjukan pukul dua dini hari. Aku menguap lebar, mataku mulai lelah dan perutku mulai menjerit minta diisi. Huh, kalau aku boleh memilih lebih baik aku tidur daripada bengong di depan notebook menunggu email dari Rangga datang.

‘ping!’ sebuah email baru saja masuk. Aku mengucek mataku dan segera mengeceknya. Ya, benar dari Rangga.

Ran99a : Yanis, belum tidur?

Princessyanis : belum J

Ran99a : ini hampir tengah malam loh, ngga ngantuk?

Aku menguap lebar. Tentu saja aku mengantuk tapi demi bisa chatting dengan kamu aku rela kok menunda tidurku.

Ran99a : kalo ga salah di sana udah jam dua ya?

Princessyanis : iya, Rangga gimana kabar? Kuliahnya lancar? Bagaimana kabar Solo?

Dan obrolan kami berlanjut sampai pukul empat pagi. aku mengecek jadwal kuliah, oh syukurlah hari ini ngga ada kuliah pagi jadi aku bisa tidur lagi sampai siang. Kurebahkan badanku diatas kasur. Seperti biasa sebelum tidur pikiranku melayang entah kemana. Dan saat ini rasanya aku sedang bahagia sekali karena di sela-sela obrolan kami di messenger tadi, Rangga bilang ‘kangen’. Yah, meskipun aku yakin Rangga hanya menganggapku sebagai sahabatnya, tak salah kan jika aku berharap ia memiliki perasaan spesial untukku.

Pukul 12.00, waktu Tokyo.

“Yanis!”

Aku membuka mataku. Hooaam, aku menguap lebar. Kulihat Tera, teman satu flatku berdiri di depanku.

“Dasar tukang tidur! Cepat bangun! Satu jam lagi kita harus ke kampus,”

Tera melempar handuk dan menyuruhku lekas mandi. Tak sampai setengah jam, aku sudah rapi dengan hoodie, ankle boot, dan ranselku.

“Lo ngga laper? Makan nih!” Tera memberiku sepotong burger lengkap dengan cola. Wah kebetulan aku lapar, segera kulahap habis fasfood berkalori tinggi itu.

Aku bersyukur bisa satu flat dengan tera. Cewek asli Jakarta itu baik dan perhatian banget. Kadang dia memang nyebelin , suka usil dan suka ngupil. Tapi nggak ada teman sebaik Tera, selama aku study di Tokyo dialah yang menjadi malaikat penolongku.

“Hari ini jangan lupa ketemuan sama mas Unggul,” ucap Tera. Aku tersedak.

“Ya ampun! Aku belum siap Ra, laporan kegiatan kemarin belum aku selesein, aduh gimana nih? Ngga bisa ditunda ya Ra?” aku cemas, kenapa harus ketemu mas unggul hari ini? Dialah orang yang paling aku hindari akhir-akhir ini. Semenjak mas Unggul mencalonkan aku untuk menjadi ketua Perkumpulan Pelajar Indonesia di Jepang, aku jadi nervous jika ketemu dengannya. Dialah yang dengan seenak udelnya menunjuk aku yang nggak ada pengalaman berorganisasi ini menjadi ketua klub karate, ketua klub kesenian jawa, sampai ketua klub paduan suara.

Mas Unggul, dia memang sosok kharismatik, terkenal tegas dan memiliki disiplin yang tinggi. Dulu aku sempat suka dengan sosok jangkung itu, tapi entahlah semenjak Rangga sering menghubungiku perasaan spesial itu kini kian memudar.

“Ya mas Unggul kirim email ke gue, katanya lo ditunggu di Tokyo Park, pukul lima nanti,”

Aku lemas, habis deh aku kena damprat!

Tokyo Ueno Park, 05:10 p.m

Berulang kali aku mengecek jam di ponselku. Haduh, katanya mau datang jam lima, tapi sampai sekarang kok belum nongol juga? Aku memandang sekeliling, Tokyo Ueno Park memang selalu cantik saat Autumn tiba.

Sehelai daun maple jatuh menimpa rambutku. Aku merasakan kepalaku hangat. Sebelum aku mengambil daun itu dari kepalaku ternyata seseorang terlebih dahulu menyingkirkannya.

“Nih, daun maplemu yang pertama,”

Aku terdiam, kaget. Oh tuhan! Dia Mas Unggul!

“Maaf membuatmu menunggu,” sosok jangkung nan kharismatik itu tersenyum kepadaku. Subhanalloh, senyumnya sungguh manis sekali mengalahkan senyum bintang korea favoritku. Kacamataku melorot dan aku masih saja diam.

“Yanis kamu baik-baik saja kan?”

Aku tersadar dari lamunanku.

“Oh maaf mas, laporan keuangannya belum jadi, kemarin aku banyak tugas dan semalam kelupaan untuk mengerjakan,” aku merepet sebelum mas Unggul menanyakannya.

Cowok bermata sipit itu tertawa.

“Sudahlah, untuk kali ini lupakan soal laporan itu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan,”

Mas Unggul menarik tanganku dan aku hanya bisa mengikuti kemauannya.

“Kamu mau kopi?” tawarnya. Aku mengangguk. Tentu saja aku mau, siapa yang tahan di udara dingin begini tanpa kopi atau cokelat panas?

Selama satu jam kami menghabiskan sore di taman kota Tokyo. Walau tak banyak cerita mengalir dari mulut kami, tapi aku cukup senang. Sosok cowok menyebalkan yang selama ini aku sematkan pada diri mas Unggul perlahan runtuh. Dan...rasa itu sepertinya muncul kembali. Aku senang.

Pukul 10:00 pm waktu Tokyo

‘ping’ sebuah message dari Rangga mengajakku chatting. Segera kualihkan perhatianku dari buku kuliah dengan notebook keasayanganku.

Ran99a : yanis, aku kangen kamu

Proncessyanis : J aku memang ngangenin

Ran99a : dari dulu pasti ngomong gitu, huuuu

Princessyanis : haha

‘ping’ bbku berbunyi, ada pesan dari mas Unggul. “oyasumi Yanis Aprilia, J” aku sampai shock membacanya. Ya ampun si mr. Perfecto mengirim pesan yang langka. Segera aku berlari ke kamar Tera. Gadis jakarta itu tengah asyik maskeran.

“Lihat deh raaaa...cepetan baca!”

“Ya ampuuun sabar napa? Gue masih maskeran nih,” Tera bersungut-sungut melepas dua buah irisan mentimun dari matanya yang cantik.

“Mas Unggul kirim message ke aku, baca nih! Pake tanda senyum juga, kyaaa! Aku seneng banget,” kugoncangkan tubuh Tera.

“Wait...wait..ada angin apa si mr. Cool itu kirim message ke elo? Jangan-jangan....”

“Dia suka aku!” aku tertawa. Tera buru-buru menimpukku dengan bantal patrick star kesayangannya.

“Pede banget sih lo! Mungkin mas Unggul salah kirim kali...hihihi,” Tera tertawa lepas, merasa puas telah menghapus semua khayalan indahku.

“Sirik aja kamu,” kutimpuk Tera dengan selimutnya. Ia hanya meringis kecil dan melanjutkan acara maskerannya.

Segera aku balik ke notebook untuk melanjutkan ngobrol bareng Rangga, tapi ternyata dia sudah off, pesan terakhirnya berbunyi :

Ran99a : aku sayang kamu Yanis

Aku bengong di depan notebook. Apa lagi ini? Ya ampuuun hari ini memang shocking day, dua orang cowok berputar-putar di kepalaku. Sosok mas unggul yang kharismatik dan Rangga yang attractive. Tera sampai geleng-geleng kepala setelah mendengar curhatku.

“Lo pake dukun mana sih sampe laris gitu?”

Sekali lagi kutimpuk kepalanya dengan bantal guling.

University of Tokyo, pukul 10:00 am

“Yanis...”

Aku menoleh. Sosok jangkung itu mendekatiku. dadaku berdebar kencang, namun aku berusaha tetap bertingkah sewajarnya.

“Mmm...malam ini kamu ada acara?” tanyanya.

Aku menggeleng. Wajah kharismatik itu terlihat bahagia.

“Syukurlah, aku ingin...hmmm...aku...ingin mengajakmu makan malam,”

aku melihat wajah itu bersemu merah begitu pula dengan wajahku. Dia mengajakku makan malam? Mengajakku kencan? Si mr. Perfecto yang sangat aku kagumi, sekarang tengah berdiri di depanku dengan wajah bersemu merah ala pai apel bibi desi. Ya ampuuun mimpi apa aku semalam? Jika ada Tera, ingin kupeluk dia sekuat mungkin.

“Kau bisa?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Baiklah, aku akan menjemputmu pukul delapan, tunggu aku di flatmu,” sosok jangkung itu perlahan meninggalkan aku. Masih dengan senyumnya yang mampu menyihir ribuan gadis jomblo seperti aku dan Tera.

Pagi itu aku tak langsung pulang ke Flat. Aku memilih menghabiskan hariku di coffee shop. Menunggu kelas budaya Jepang Tera selesai dan aku akan membrondongnya dengan keluh kesahku. Hmmm, aku bingung dengan diriku saat ini. Apalagi setelah email Rangga semalam.

Yanis, aku suka kamu. Would you be my girl?

Sebuah pesan yang singkat dan jelas, tapi membuat kepalaku cenat-cenut. Bukankah semenjak SMA aku selalu memimpikan hal ini terjadi? Sayangnya email itu tak pernah bertengger di inbox-ku sampai aku kuliah semester 2 di Tokyo. Aneh, rasanya baru kemarin aku berjingkrak saat menerima email darinya, berjoget senang saat ia bilang kangen, dan rela begadang sampai jam dua pagi demi bisa chatting dan ngobrol dengan Rangga yang ada di Indonesia.

Perasaan itu berubah semenjak kedatangan si Mr. Kharismatik. Yap, dia memang memiliki ribuan kharisma sehingga aku dalam sekejap bisa menyukainya. Sebenarnya rasa suka itu muncul sejak setahun lalu, saat acara buka bersama di kedubbes Indonesia. Posisinya sebagai ketua perhimpunan mahasiswa di jepang membuat siapa saja, terutama para mahasiswa baru mengenal sosoknya yang tinggi, putih, dan berkharisma .

Jadi siapa yang harus aku pilih? Aku mencoba merenung. Ternyata memilih kekasih tak segampang memilih sepatu atau baju. Jika kita tak cocok dengan baju yang telah kita beli, dengan mudah kita menggantinya dengan membeli yang baru. Tapi, kalau pacar, tegakkah kita menggantinya dengan seenak hati saat kita sudah bosan nanti?

Carrebian late-ku sudah habis dua gelas. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, dan Tera belum juga datang. Kuteguk habis gelas ketiga carrebian late-ku. Kutinggalkan uangku diatas gazebo dan aku segera meninggalkan coffeshop.

Tokyo Ueno Park tidak seramai kemarin. Aku memilih duduk di bangku panjang yang menghadap jalan raya. Kunyalakan ponselku. Jemariku mulai menulis sesuatu.

Maaf, sepertinya kita lebih pantas menjadi teman.

To : Rangga

Send

Aku telah memilih dan aku telah membuat keputusan besar. Aku memang tak cinta dengan Rangga, aku hanya terbelenggu nafsu sementara. sekarang aku ingin melanjutkan hidupku. Life must go on, aku masuk ke dalam sebuah salon kecantikan. Hmmm facial dan potong kuku sepertinya bisa membuatku tampil lebih cantik. Aku bermimpi pangeran berkharisma itu menjemputku nanti malam.

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!