Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 15 Juli 2011

Sebentar Ya

Oleh: Andi Susanto

Wajah putih artis itu memenuhi layar kacanya. Bibirnya yang merah dan berbentuk sempurna bergerak-gerak cepat, dengan kata-kata makian yang kemudian keluar darinya. "Saya nggak akan sudi ketemu sama dia lagi! Saya juga perempuan, punya hati. Tiga tahun saya berjuang mempertahankan pernikahan, ternyata seperti ini saja. Sudah!" katanya.

Kemudian layar dipenuhi oleh wajah dua orang baru. Kali ini seorang wanita, berambut panjang, dengan lekuk tubuh sempurna, didampingi oleh seorang laki-laki bertampang blasteran yang mengapitnya erat melewati sebuah kerumunan di mall di Jakarta. Sebuah suara menarasikan adegan itu.

"Artis yang namanya sedang naik daun, Ario Setyodani, tertangkap kamera sedang menggandeng mesra seorang wanita tidak dikenal, di sebuah mall di Jakarta timur. Siapakah dia? Mengapa Ario berani menghancurkan rumah tangganya?"

Tarni mendecak-decak. Orang-orang di TV ini benar-benar mengesalkannya. Ada-ada saja tingkah laku mereka. Setiap hari, ada si anu yang bertengkar dengan si itu, ada si artis ini menuntut uang dari suaminya, ada yang berselingkuh, ada yang sombong, ada yang putus. Tapi baginya, ini tontonan yang tidak pernah dilewatkannya tiap hari. Dia selalu duduk di sana, di depan kotak yang berukuran tidak seberapa, dengan gambar yang kadang bergeser-geser dan ber"semut". Mengatai artis-artis itu tidak pernah ada habisnya.

"Assalamualaikum, Bu..."

Terdengar sapaan lemah dari anaknya, Andi. Bocah mungil itu menyeka peluhnya dan menyimpan topi merah putihnya di meja. Tarni menjawab pelan salamnya.

"Bu, tadi kepala sekolah manggil aku lagi. Mereka minta kita segera melunasi SPP..." Andi menarik lengan bajunya.

Tarni menatap Andi sejenak, terpana, tapi kemudian mengembalikan tatapannya ke TV. "Ini artis parah sekali, Ndi. Dia selingkuhi istrinya yang sudah mati-matian mempertahankan dia!"

Andi terdiam. Duduk di sebelah ibunya dengan lesu. "Ibu masih nonton itu?"

Tarni tidak menjawab. Kembali menatap layar kaca. Ini satu-satunya cara untuk lari. Lari. Lari.

1 komentar:

  1. gravelfrobisher15 Juli 2011 21.55

    Waaaw O.O
    Lucu juga ya si 'kotak' itu jadi tempat melarikan diri xD

    Kalau lebih panjang kayaknya bakalan lebih seru ;D

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!