Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 23 Juli 2011

JOKO SI ANAK AYAM


Oleh Deborah Irianty (@gwdebby)

Ini merupakan cerita perbandingan dalam hidup. Cerita sederhana buat saya pribadi, tapi mungkin maknany akan berguna bagi kita anak - anak bangsa Indonesia. 23 Juli 2011 merupakan Hari Anak Nasional, mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah perayaan yang harus kita hadapi setiap tahunnya. Tapi jangan jadikan kebanggaan itu hanya dengan mengupdate status pada semua media sosial. Marilah kita menjadi anak bangsa yang berbeda. Seperti cerita anak ayam yang memperjuangkan dengan seluruh tenaga untuk menunjukkan pada sahabat-sahabatnya bahwa dia adalah anak ayam yang pantang menyerah.

Anak ayam tidak pernah tahu akan terlahir menjadi apa atau seperti apa. Bahkan ketika induk betina bertelur, dia pun tidak bisa menentukan apakah ada kesempatan baginya untuk hidup. Nasib anak ayam hanya tergantung kepada keputusan orang - orang yang memeliharanya. Ketika si anak ayam mendapat kesempatan untuk hidup, induk betina akan mengeraminya dengan tubuhnya yang hangat. Hingga waktunya tiba, telur itu akan menetas dan melahirkan anak - anak ayam yang kecil.

Lahirlah 10 anak ayam yang sangat lucu, namun ada 1 anak ayam yang terlihat beda dengan warna bulu kuningnya. Dia tidak serupa dengan saudara - saudaranya. Sisca, anak pemilik peternak ayam, sangat menyukainya ketika pertama melihatnya. Sisca meminta ayahnya agar dapat memeliharanya. Ayah Sisca mengijinkan dan memberikan si anak ayam berbulu kuning itu ke atas telapak tangan Sisca. Dengan lantangnya, Sisca berkata, "Nama anak ayam ini Joko, karena dia berbeda seperti kakek yang selalu mengutarakan pemikirannya yang berbeda." Ayah Sisca pun tertawa mengingat sang ayah, Joko. Ayah pun berkata, "Baiklah sayang."

Sisca sangat pandai merawat Joko si anak ayam. Terkadang Sisca pun bercerita pada Joko, seakan - akan si anak ayam ini dapat berkomunikasi dengan manusia. Tiba suatu hari saat Joko si anak ayam lepas dari kandangnya yang istimewa itu. Berjalan tak tentu arah sampai jalan yang tak dikenalnya. Joko pun bingung kepalang, celingak celinguk dengan panik serta penuh harap. Lalu tiba - tiba bertemulah Joko dengan anak - anak ayam lain. Bulu kuning Joko yang terang menjadi perhatian anak - anak ayam lain.

"Hei, kamu anak ayam yang asing. Apa yang kamu lakukan di sini?," kata salah satu anak ayam yang berbadan besar dan kuat. Joko pun dengan terbatah - batah menjawab, " sa sa saya J Jo Joko. S sa saya salah ja ja jalan." Anak - anak ayam yang lain pun tertawa terbahak - bahak. Si anak ayam berbadan besar itu pun berkata,"ahaha..saya punya permainan. Seandainya kamu menang, saya akan mengantarkan kamu ke kandangmu." Merasa akan ditolong, Joko pun tanpa ragu menjawab, "baik." "Baiklah, jawab pertanyaan saya dengan bijak! Seandainya jawaban kamu tidak memuaskan, kamu harus menggantikan saya untuk dipotong. Bagaimana?" Joko pun mengangguk yang menandakan setuju. Si anak ayam berbadan besar pun bertanya, "Bagaimana cara terbaik agar kita bisa selamat dari pemotongan? Manusia menikmati memakan ayam, dan ini merupakan jendela kematian bagi kita para ayam. Apa yang akan kamu lakukan." Joko pun bingung, dia tinggal di peternakan ayam dan dia biasa melihat pemotongan ayam. Namun dia adalah ayam yang istimewa, karena itu dia selamat. Joko pun terdiam lama hingga akhirnya dia menggelengkan kepala tanda tak dapat menjawab.

Joko pun menepati janjinya. Dia merasa sedih sekali, dia merindukan Sisca yang selalu menjaganya dan menjadikan dirinya sangat istimewa. Dalam kesedihannya, Joko terkaget. Dia tahu jawabannya, tetapi betapa bodohnya tidak mengatakannya. Dia pun berlari - lari mencari si anak ayam besar itu. "Hei, saya tahu jawabannya. Jadi yang istimewa, tonjolkan diri kita, berusaha sekuat tenaga untuk peduli dengan lingkungan kita, membuat sesuatu yang bermakna pada semua hal disekitar kita, menghargai yang merawatmu. Kalau memang sudah saatnya kita terpotong, itu tidak akan menjadi akhir. Kita akan menjadi orang yang bermakna saat kita masih hidup dan setelah kita mati, kita akan menjadi ayam yang sehat untuk yang memakannya. Bukankah hidup menjadi lebih berguna ketika kita memandangnya dari sisi itu?," Joko berkata dengan lantang. Semua anak ayam itu pun diam, hingga si anak ayam berbadan besar berkata,"aku akan mengantarkan kamu ke kandangmu. Itulah yang aku harapkan kepada semua anak ayam di sini, memandang hidup dari sisi yang lebih bermakna, bukan menjadikan sesuatu menjadi bencana. Lalu pulanglah Joko si anak ayam ke dalam pelukan Sisca.

Ini yang ingin saya sampaikan sebagai penulis kepada semua anak bangsa Indonesia. Tanggal 23 Juli 2011 merupakan Hari Anak Nasional, ini bukanlah hanya acara yang diperingati setiap tahunnya. Namun jadikanlah hari itu menjadi ajang kita sebagai anak - anak bangsa untuk memeriksa sudah sejauh mana kita memberikan makna pada diri kita kepada Bangsa Indonesia. Jadilah penerus bangsa yang dapat menunjukkan kepada bangsa lain bahwa kita mampu menjadi anak bangsa dan sebuah bangsa yang istimewa.
END

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!