Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 02 Juli 2011

You Make My Day

Oleh: Jama'atun Rohmah (@MissRohmah)

Raya meneguk gelas panjang berisi jus jambu merah yang beberapa menit
lalu baru disajikan waiter di mejanya. Kerongkongannya terasa segar
setelah dialiri oleh minuman tersebut. Dia kemudian mengelap wajahnya
yang basah berkeringat, hal yang agak aneh mengingat dia sedang berada
di ruangan ber- AC. Ini pasti karena dia sedang grogi, atau lebih
tepatnya kesal dan ingin marah. Sia-sia sudah usahanya untuk
mendapatkan pekerjaan itu. Dan semuanya hanya gara-gara masalah kecil
namun menyebalkan.
”Mbak Raya?”
Raya menoleh ke arah sumber suara. Gilang. Pria itu lagi, dia muncul
ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Pakaiannya terlihat sedikit
kusut dan wajahnya nampak lelah, hampir sama seperti dirinya. Bedanya
dia lelah karena baru pulang bekerja sedangkan Raya lelah hati dan
stress gara-gara batal mendapatkan pekerjaan.
”Boleh duduk di sini?”
”Silahkan,” Jawabnya sambil mencoba tersenyum.
Gilang duduk, tak lama kemudian seorang pelayan menghampirinya.
”Kamu setiap hari ke sini, ya? Perasaan setiap kali aku ke sini selalu
bertemu kamu.”
”Ngga tiap hari, kadang-kadang aja kalau sedang lewat.”
”Dari mana tadi?”
“Abis interview.”
“Sukses?”
“Kalau sukses mana mungkin aku galau begini.”
Pria itu tersenyum.
“Wajarlah sekali-sekali ngga lulus interview. Masih banyak kesempatan kok.”
“Kalau ngga lulus karena aku ngga capable it’s ok lah, aku terima.”
Raya sesak mengingat kejadian tadi. Rivalnya ternyata diterima hanya
gara-gara dia anak teman manajer HRD nya. Jadi orang yang
mewawancarainya tadi tidak bisa berkata apa-apa. Dia secara khusus
meminta maaf pada Raya mengenai hal ini. “aku marah banget karena dia
rivalku dari SMA dan ternyata mamanya dia adalah teman si manajer
HRD.”
“Ikut sedih mendengarnya, Mbak.”
Kemudian Gilang memanggil waitress dan memesan 3 botol soft drink. 5
menit kemudian pesanan datang. Gilang mengambil salah 1 nya.
“Minum gih, Mbak. Kata sepupuku yang cewek minum soft drink bisa
membuatnya lebih rileks ketika PMS daripada yang jamu-jamuan dalam
botol itu.”
Raya mengerutkan alisnya tidak percaya. Gilang tertawa.
“Jangan tanya aku, sepupuku yang bilang. Aku mana pernah mengalami PMS.”
Raya ikut tertawa karenanya. Dia meraih botol soft drink di depannya
dan menyesap isinya melalui sedotan. Tenggorokannya terasa serik. Dia
memang tidak terlalu suka minuman semacam itu karena tidak nyaman di
tenggorokannya. Tapi dia penasaran ingin membuktikan ucapan Gilang,
atau lebih tepatnya ucapan sepupu Gilang.
“Bagaimana?”
“Biasa aja.”
“Oh ya, ngomong-ngomong tadi ngelamar untuk posisi apa?”
“Admin.”
“Wah, kebetulan. Kantorku sedang butuh admin, kemarin ada yang resign
karena mengikuti suaminya yang dipindahkan ke luar kota. Coba nanti
apply ke sana.”
Gilang mengambil selembar kertas dari dalam tasnya, mencatat sesuatu
lalu menyerahkannya pada Raya. Itu adalah alamat kantornya. Raya
menerimanya berikut dengan kartu nama Gilang.
“Makasih.”
“Sama-sama. Senang bisa membantumu. Kalau besok ke sana hubungi aku
ya, ntar aku traktir makan siang di kantin. Ada Chinese food
kesukaanmu di sana.”
Raya tersenyum sekali lagi. Tak disangka masih ada orang baik di dunia ini.
“Bagaimana? Feeling better?”
“I think so.”
“Karena minum soft drink atau karena akan mendapatkan pekerjaan?”
“Haha… kurasa apapun itu, intinya karena ada kamu di sini. You make my
day.” Katanya dengan tulus. Gilang yang ada di depannya ikut
tersenyum. Kekesalannya hari ini semuanya terbayar, rasanya beban
berat seperti baru saja diangkat dari pundak Raya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!