Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 05 Juli 2011

Sepasang Mata



Oleh : Rifa Puspa Safira ( @rifapuspa )


BOOOM! BOOOM!
Aku terkesiap dari lamunanku. Itu dering handphone-ku, tanda sebuah SMS telah masuk. Kucek sebentar dengan mata yang masih kiyep-kiyep. Hah, sudah kuduga. Dari Mamah. Nama yang sudah tak asing untuk didengar. Nama yang memenuhi inbox-ku dengan kata-kata yang hampir sama setiap harinya.

Sayang… plg sendiri y, mamah ada meeting lg sore ini… klo mau mkan delivery aja, ok? love u always muah

HAH… rasanya sudah beribu-ribu kali aku mengeluh. Ya sudah, tanpa pikir panjang aku memilih untuk pulang dengan mobil harianku saja, alias angkot….
*

Sepasang mata. Sepasang mata itu kerap hadir dimana dia berada. Sepasang mata. Sepasang mata itu selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata itu mengintip lewat seluk-beluk helai rambutnya yang pirang. Sepasang mata itu selalu tahu apa yang harus dilakukannya….
*

JELEGER!
“Hati-hati ya, Vir… Dadah!” Fina melambaikan tangannya sambil berlari menembus hujan. SH*T! F&$K!!!! Rasanya semua nama kebun binatang hampir terucap oleh batinku. Di musim kemarau yang harusnya cerah, kenapa bisa hujan tiba-tiba begini?? Hmm…. Aku coba iseng menanyakannya pada beberapa teman yang masih menunggu untuk dijemput para dayang-dayang dan algojonya. Jawabannya beragam. Gustav, si cuek yang melebihi bebek, diam saja acuh tak acuh, James, si blasteran Indo-Belanda malah curhat soal masa kecilnya, di Belanda, kampung halamannya, yang sebenarnya gak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaanku.  Siska, si hobi dandan, malah sibuk dengan peralatan make-up nya yang segudang yang juga gak kalah sama salesman door to door. Berbeda dengan Rafa, si otak encer yang menanggapi pertanyaanku dengan segudang rumus fisika yang sudah ia hapal di luar kepala. Juga Riva, si kutu buku yang hanya menanggapiku dengan dua kata, “Global warming....” sambil tetap fokus pada lembaran-lembaran kertas yang mencetak huruf-huruf sebesar protozoa itu. Tapi… aku paling suka dengan jawaban Leon, sieasy-going yang selalu tersenyum, bilang, “Nikmati sajalah….”. Ya, nikmati saja haha.

TES! TES! TES!

Semakin lama, bunyi tetesan hujan di hadapanku semakin jelas terdengar. Entah karena satu per satu temanku mulai meninggalkanku sendiri atau memang aku yang sendiri di tempat ini. Ya sudah... biarpun tanpa payung, aku bisa menembus hujan ini, sakit sedikit biarlah… Nikmati sajalah….
*

Sepasang mata. Sepasang mata itu kerap hadir dimana dia berada. Sepasang mata. Sepasang mata itu selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata itu mengintip lewat seluk-beluk helai rambutnya yang pirang.
Sepasang mata itu berdiri tidak jauh dari tempat dia berada. Sepasang mata itu tahu kalau ia sedang kesal dengan bunyi dering dari handphone-nya. Sepasang mata itu ikut menunggunya dibalik tawa hujan yang mengeras. Sepasang mata itu pun ikut tertawa melihat tingkah polosnya. Sepasang mata itu selalu terhipnotis dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Sepasang mata itu selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata itu selalu tahu apa yang harus dilakukannya….
*

Aku mulai kedinginan dan tidak ada satu pun angkot yang lewat. What the……?? Aku tak habis-habisnya menggeram dalam hati. Sudah lima belas menit aku berdiri di sini dan tidak ada satu angkot pun yang lewat. What the hell with them? Memangnya di hujan deras begini mereka boleh cuti apa?? Kalau cuti pun ya satu aja... gak usah berjamaah juga.... AAARRGGHHH sudahlah! Daripada capek memaki-maki genangan air yang membisu, mendingan aku berjalan kaki saja....
Hah, aku sudah tidak peduli dengan rupaku yang seperti apa. Mungkin seperti kertas tisu yang lepek dan hancur karena kebasahan. Atau mungkin seperti kuntilanak dengan seluruh rambutku yang jatuh menutupi seluruh mukaku. Ah, terserahlah… yang penting aku cepat sampai di rumah!

TES! TES! TES!

Tiba-tiba... aku merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang merasuki seluruh seluk-beluk tubuhku. Kehangatan yang menghapus seluruh resah dan getir gelisah. Kehangatan yang menghapus seluruh air mata dan menggantinya dengan senyuman. Kehangatan yang aku pun tak tahu datangnya dari mana....
Dia memayungiku. Memelukku hangat dan menggenggam sebelah tanganku erat….

Sepasang mata itu selalu mengawasi setiap gerak-geriknya. Sepasang mata itu selalu tahu apa yang harus dilakukannya….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!