Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 09 Agustus 2011

Anak Hilang



Oleh Maula Ali (@maulaali)


Di luar rumah. Seorang bocah memungut sebongkah batu, memegangnya kuat-kuat, lalu sebuah tiang di depannya dipukul-pukulnya. Ting..ting..ting, udara bergetar tak karuan masuk ke lorong telinga. Percakapan di kabel telepon beterbangan sana-sini, sebagian jatuh di dekat kakinya. Ada yang nyangkut di kabel listrik rumah. Berdesis, gosong.
 Di dalam sebuah rumah, bibir-bibir yang menempel di gagang telepon tiba-tiba mingkem. Seorang Ibu, dan polisi di seberang telepon satunya kehilangan suara.
“Maaf, ada berisik apa di situ, bu?
“Loh, bukannya itu dari kantor bapak?”
“Maaf, bukan bu. Itu mungkin anak Ibu?”
“Sudah dibilang, anak saya hilang, dan saya menelepon itu buat melapor!”
“Oh maaf kalau begitu, bu. Bagaimana tadi?”
Suara “ting..ting” di saluran telepon akhirnya berhenti setelah beberapa saat. Oknum polisi dan Ibu membetulkan kuping yang rada bopeng dengan kelingking mereka. Suara yang menyebalkan. Terlihat mimik mereka sekarang menekuk. Bisa jadi, besok si polisi menuntut gagang telepon atau si Ibu melaporkan gagang telepon ke polisi.
...
Bocah yang sedari tadi menumbuki tiang terhenti. Terdiam sejenak dengan matanya yang berisi kerinduan aneh. Segenang benci memenuhi bola matanya. Dia memandangi sebuah kertas poster orang hilang di tiang, yang rusak bagian wajahnya. Batu tadi yang menghantamnya. Di sana, tak ada nama tertulis, atau alamat yang harus dihubungi. Lupa mungkin. Atau dia belum bernama?
“Namaku siapa?”
“Aku mau pulang, bu”
“Aku mau pulang, pak”
Batu di tangannya lepas, jatuh kena kakinya. Air mata sebesar nasi berjatuhan menghapus debu, pada sandal kaki. Kepala menunduk, mengutuki batu. Merutuki nasib.
...



Dua orang di gagang telepon tadi berhenti bicara lagi. Menyimak sepintas suara, lantas bebarengan mereka mengatakan.
“Anakku?!!”
Sirine panjang berbunyi. Waktunya tidur. Bunyi pintu sel tertutup mengakhiri kisah ini. Suami istri meringkuk di penjara, berdua. Mereka membuang nama anaknya, beserta keranjang bayi dari rotan, ke tempat pembuangan akhir.

3 komentar:

  1. @_@ bingung. . .

    BalasHapus
  2. saya juga bingung..

    BalasHapus
  3. ahahaha.. Ali banget. seneng bikin binun pembaca :)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!