Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 19 Agustus 2011

Gara-gara Mie Instan



Oleh Annisa Widyayuliana (@icha_widya)

Aku mengingat-ingat lagi kenapa aku jadi menggilai mie instan ini. Aku yang dilahirkan dengan banyak alergi termasuk mie instan tidak pernah merasakan makanan senikmat ini. Belum lagi rasa ayam bawangnya begitu terasa pada kuah panasnya. Kenapa mie ini bentuknya keriting seperti ini? Apakah ini salah satu siasat agar membedakan dengan spageti atau ketidaksengajaan. Ah! Pikiranku ngelantur.
“Gina, ayo sini bantu Ibu!” suara Ibu benar-benar mengejutkan aku. Cepat-cepat kubungkus mie instan cup-ku ke dalam kantong kresek dan segera kuungsikan ke tempat sampah.
“I…iya Bu!” bergegas aku turun menemuinya.
“Ngapain kamu? Bukannya bantu Ibu sama Bik Sum di dapur malah ngejogrok saja di kamar.”
“Kepalaku agak sedikit pusing, Bu.” Terpaksa aku berbohong. Mana mungkin aku mengaku pada Ibu kalau aku baru saja makan mie instan.
“Alasan saja kamu ini.”
Ibu memang paling ahli dalam menebak raut wajah seseorang. Tentu saja aku cuma bisa diam yang merupakan jalan aman. Sayup-sayup aku dengar Ibu menyuruh Bik Sum untuk berbelanja di mini market dekat toko buku langgananku. “Tumben sekali Ibu mau berbelanja disitu.”gumamku. Ah! Aku ingin kesana juga. Siapa tahu aku bertemu dengannya.
“Bu, aku ikut Bik Sum ya.” Ujarku memelas. Pasti Ibu sangat mengerti keinginanku ini.
“Lalu siapa yang membantu Ibu?”
“Kalau begitu aku saja yang belanja, Bu.” Tiba-tiba aku menawarkan diri. Aku ingin kesana. Sekarang.
Ibu hanya diam. Mungkin dia heran melihatku begitu antusias menawarkan diri.
“Kamu tahu kan apa saja yang harus dibeli?” akhirnya Ibu mengalah. Ia mengisyaratkanku untuk melihat daftar belanjaan di tangan Bik Sum.
“Tau, Bu. Aku pergi ya” belum sempat Ibu menengok ke arahku, Aku sudah berlari mengambil sepedaku bergegas ke mini market. Semoga aku bertemu dengannya.
Setelah memarkir sepeda, aku bergegas masuk ke salah satu mini market terbesar di kota ini. Biasanya Ibu tidak pernah mau belanja disini. Alasannya, mahal dan terlalu bonafide. Tidak ada kesan tradisional. Ibu memang kolot sekali.
Memilah-milah apa saja yang dipesan Ibu dan Ah! Aku menemukan mie instan favoritku. Rasanya ingin aku selundupan cup merah muda ini ke dalam keranjang kalau saja aku “Sial!” pekikku sehingga menarik perhatian seisi ruangan. Ibu tidak memberiku uang. Kurogoh saku mungkin saja ada uang terselip dan betapa bodohnya karena aku-tidak-bawa-uang-sepeserpun.
“Bodoh bodoh bodoh” kutepuk-tepuk keningku sambil terus memegang cup mie instan itu tanpa sadar.
“Ada apa?” ujar sesosok suara tampan yang sudah bisa ditebak siapa pemiliknya.
“Ah kamu rupanya.” Aku tersenyum manis selebar-lebarnya. Ini dia orangnya. Si tampan berambut ikal yang membuatku tergila-gila dengan mie instan. Kenapa dia selalu ada saat aku ingin membeli mie? Jangan-jangan dia adalah noodleman-pahlawan kebajikan yang akan datang ketika seseorang sedang mebutuhkan pertolongan dengan hanya memegang cup mie instan. Seperti aku saat ini.
“Lagi belanja?”
“Ah, tidak. Cuma mau beli mie instan ini saja.”aku berbohong. Mana mungkin kuceritakan kebodohanku padanya.
“Wah, kamu juga suka makanan terlarang ini.” si tampan menunjuk mie instan dalam genggamanku.
“Iya, aku suka. Suka sekali.” “padamu”gumamku.
Tak menyangka hal itu mengundang tawa renyahnya yang memperlihatkan susunan giginya yang begitu rapi. Kenapa dia begitu sempurna, Tuhan?
“Baiklah, aku traktir ya.”
“Eh, tapi….”
“Jangan menolak. Toh, kamu tidak bawa uang, kan?”
Ya Tuhan. Jangan-jangan dia ini memang seorang noodleman. Pasti senyuman termanisku ini sudah cukup mengisyaratkan keinginanku untuk mengatakan ‘iya’ padanya.
“Aku Nodi. Kamu?”
“Gina. Kamu tinggal di dekat sini?”
“Iya. Di belakang toko buku sebelah.”
“Bukannya itu kos-kosan?”
Nodi mengangguk mantap. “Ayo dimakan. Kalau dingin rasanya seperti susu basi”
Aku tertawa lepas mendengar celotehannya. Rasanya dia orang yang sangat menyenangkan. Bahagia kalau aku bisa benar-benar bersamanya.
“Hati-hati ya” ujarnya sambil melambaikan tangan dan melemparkan senyuman hangatnya.
“Iya. Mau bareng?”
“Tidak usah. Merepotkanmu saja.”
Kukayuh sepedaku menuju rumah dan diam-diam kuperhatikan sosoknya di kehangatan mentari senja. Apa? Senja? Sudah jam berapa ini? Bagaimana dengan belanjaan Ibu? Tidaaaakk!!!
********
Namanya Nodia Gardiola. Seorang Mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhirnya. Dan subjeknya kali ini adalah mie instan. Dia tertarik menjadikan aku sebagai ‘kelinci percobaan’ tugas akhirnya itu. Aku tidak mengerti detailnya. Tapi aku menyanggupi karena kami sepakat mengadakan pertemuan rutin dan tiap kami bertemu dia akan mentraktir aku mie instan. Apa saja asal bisa bertemu dengannya saja aku sudah senang.
Tiap hari kami bertemu dan berbincang banyak. Dia menceritakan suka dukanya selama menjadi mahasiswa Kedokteran. Apa yang dia keluhkan apa yang dia lakukan rasanya terlihat menarik ketika ia membicarakannya. Entah berapa lama waktu yang telah kami habiskan bersama berbanding lurus dengan berapa banyak jumlah bahan pengawet dan penguat rasa buatan yang telah masuk ke dalam tubuhku.
“Darimana saja kamu?” suara Ibu membuat aku yang masuk ke dalam rumah nyaris tanpa suara  jadi gugup.
“Dari rumah Rea, Bu.” Bohong lagi. Terkutuklah kau, Gina.
“Ya sudah. Masuk kamar sana!” Ibu tidak mau melihat mataku. Dia pasti tahu kalau aku sedang berbohong. ‘Maafkan aku, Ibu’
Hari ini adalah hari yang akan sangat menyenangkan. Karena kali ini kami akan berkencan. Sedikit menjauh dari areal tempat tinggalku. Dia mengajakku makan di restoran Jepang tempat kami bisa makan ramen terenak di negeri ini, ujarnya sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia membantunya selama ini. Aku tidak keberatan karena nampaknya aku sudah bisa terbiasa dengan makanan berbahan dasar gandum itu.
Ketika sedang menikmati suapan demi suapan ramen itu, tiba-tiba kepalaku merasa pusing. Badanku terasa berat dan rasanya aku ingin muntah.
“Kamu pucat. Kenapa?”
“Aku izin ke kamar mandi dulu ya.”
Gubrak!
“Na..Gina..kamu kenapa?” itulah suara terakhir yang kudengar sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri.
*********
“Aku dimana?”
“Di rumah sakit. Masih pusing?” suara ini suara noodleman. Tapi kenapa dia memakai jas putih?
Aku menggeleng, “Aku kenapa?”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu alergi terhadap pengawet? Kamu terlalu banyak mengonsumsinya. Seharusnya tidak apa-apa. Tapi kau mempunyai alergi. Reaksinya akan lebih cepat terlihat pada mereka yang alergi.”
Aku diam. Benar-benar diam. Rasanya aku malu karena telah berbohong pada diriku sendiri, pada Nodi dan pada Ibu. Ah! Aku jadi teringat Ibu.
“Apa Ibuku tahu?”
“Tentu saja. Dia menunggu di luar. Mau kupanggilkan?” aku mengangguk.
Kulihat mata Ibu yang terlihat kecewa dan iba melihatku. Perlahan dia masuk dan memelukku.
“Sudah kapok?” ujarnya. Aku mengangguk pasti karena aku tahu Ibu tidak akan tega memarahiku. Aku memeluk Ibu dan menangis.
“Untuk apa kau repot-repot makan mie instan untuk menemui lelaki ini?” ujar Ibu sambil mengupas apel untukku.
“Maksud Ibu?”
“Dia ini anak teman Ibu. Ibu sudah lama ingin mengenalkannya padamu.”
“Jadi kalian sudah saling kenal? Benar begitu noodleman? Eh, maksudku Nodi?”
Nodi mengangguk. Mukanya memerah.
“Kalian sudah kami jodohkan sejak kecil.” kenang Ibu.
“Benarkah itu?” mereka mengangguk bersamaan.
Rasanya aku ingin melompat dari lantai empat ini saking senangnya. Karena mie instan. Semua gara-gara mie instan. Ah! Dia akan menjadi noodleman-ku pada akhirnya.
“Kalau begitu, kapan-kapan aku yang traktir ya, Dokter.”
“Iya, tapi jangan mie instan lagi ya.”

2 komentar:

  1. well, cliche, actually. but at least it suits the theme.

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!