Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Benderaku

Oleh; Clarice Natasha (@C_arice)‏

Aku memegang erat kain bendera itu. Disini terjadi kerusuhan tapi tidak, aku tak dapat melepaskan kain ini dari tanganku. Aku memasukannya kedalam kantong celanaku lalu berlari secepat kilat. Indonesia, yang dahulu makmur sekarang saling membunuh. Apa yang telah terjadi? Semuanya mengarahkan senapannya pada sesama, semuanya saling menumpahkan darah sesama manusia. Dan aku terdapat di tengah-tengah pertempuran ini. Dengan berbagai cara aku mencoba untuk menghindari serangan dan orang-orang yang berjatuhan. Lebih tepatnya gugur dalam perang. Badanku kecil jadi mungkin itu sebabnya aku tak terlihat.
Namun tiba-tiba sebuah tubuh jatuh tepat di depan badanku. Berlumuran darah dan di lengan kanannya terdapat sebuah kain berwarna merah putih. Aku mencoba menahan tangisku dan melewati tubuh itu perlahan. Aku mohon, cepatlah berakhir. Aku melanjutkan perjalananku dan berlari secepat mungkin, aku melihat ke sekitarku. Baru saja aku keluar dari medan perang. Aku memegang kantong celanaku dan memastikan kalau kain itu masih berada ditempatnya. Ada. Kataku tenang, lalu menghela napas perlahan. Tapi ini bukan saatnya tenang, ingatku tiba-tiba. Sekarang kau harus mencari ayah dan ibumu Milka. Dimana mereka berada? Perasaanku mulai tak enak, aku langsung berlari kea rah kota di depanku yang bagaikan kuburan itu. Gedung-gedung runtuh, bercak-bercak darah ditembok-tembok, dan beberapa tubuh terkapar di jalanan.
Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja.
Aku melihat rumahku yang berada di tengah sebuah lapangan luas sendiri. Sempat aku bersyukur karena tak ada apa-apa yang terlihat rusak dari kejauhan. Tapi begitu mendekat, pintu rumahku terbuka. Aku langsung berlari menuju kedalam rumah itu dan melihat mimpi buruk itu. Tidak, aku pasti bermimpi, tak mungkin! Semua dalam rumahku hancur. Meja yang kebalik, lampu pecah dan tubuh itu. Tubuh-tubuh yang berbaring di lantai. “AYAH, IBU, KAKAK!” Aku berlari menuju mereka. Berharap dengan sepenuh hati kalau mereka hanya pingsan atau tidur. Aku mohon bangun, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku menggoyang-goyangkan tubuh mereka. Tapi percuma, tak ada yang terjadi. Tak ada.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri.”
Air mata itu tak terbendung lagi, semuanya bergulir deras. Kenapa semua ini harus terjadi pada diriku? Kenapa semua yang berarti dalam hidupku hilang? Kenapa harus aku, kenapa harus aku menderita? Aku menangis sekencang-kencangnya dan memeluk mereka erat. Jangan tinggalkan aku. Keheningan itu meraja rela.


Setelah berjam-jam menangis, aku menutupi mereka dengan seprai tempat tidur berwarna putih dan mengunci pintu rumah. Ya Tuhan, semoga jiwa-jiwa orang yang melindungi Negara ini selalu Engkau lindungi. Setelah berdoa aku berjalan menuju kota itu sambil membawa sebuah tas berisi beberapa roti dan susu. Aku melihat ke sekitar kota dan menemukan seseorang yang terkapar namun tangannya terlambai-lambai lemas. Dengan cepat aku menghampiri tubuh itu, seorang pria memakai baju militer dan kepalanya berdarah. “Kak, bertahanlah.” Aku mengambilkan susu itu dan meminumkannya pada mulut pria itu. Aku mohon bertahanlah. Dia mencoba melihatku dengan susah payah, bola matanya sudah hampir tak dapat terbuka. “Adik kecil, apa yang kau lakukan disini?” Tangannya yang bergetar itu mengusap kepalaku, air mataku mulai turun lagi. “Disini tempat yang berbahaya, kau harus cepat pulang.”

Aku menggeleng dan menghapus air mataku lalu tersenyum. “Rumahku sudah tak ada lagi. Aku juga berada disini untuk sebuah misi.” Aku merangkulnya dan membawa dia kedalam salah satu gedung disana, merobek sedikit gaunku dan membalut tangannya yang terus mengeluarkan darah. Aku menaruh beberapa roti dan air di samping pria itu lalu beranjak. “Adik kecil, kemana kau akan pergi?” Aku sempat berhenti di depan pintu itu dan menoleh kearah pria itu. “Aku akan mengembalikan bendera pada tempatnya.”



Aku berlari sekuat tenaga tetapi aku tersandung dan jatuh. Tidak sedikit lagi, tiang itu sudah ada di depan mataku. Dengan cepat aku berdiri dan terus berlari mencoba melepaskan diri dari orang yang terus mengejarku. Kenapa oranfg Belanda itu harus tahu aku disini dan membawa bendera ini? Aku bersembunyi di belakang pohon dan mencoba mengatur napas agar tidak terdengar. Aku tak akan menyerah sampai aku dapat menaruh bendera ini di tempatnya. Aku melihat ke kanan dan kiri lalu perlahan ke belakang, tak ada siapa-siapa, mungkin dia sudah tak ada. “KETEMU.”

“TIDAK!” Aku berteriak dan mencoba menghindari moncong senapan yang terarah padaku itu. Lalu aku terus berlari dan mulai mengeluarkan bendera merah puti itu, dengan cepat aku memanjat tiang itu. Semua yang berada di sekitarku yang tadinya adalah medan perang sekarang sunyi sekali. Semuanya berhenti dan melihat diriku. Orang-orang belanda dan Indonesia. “Apa yang kau lakukan? Tembak dia!” Seru orang yang tadi mengejarku itu. Tapi semuanya mematung. Sebentar lagi, setelah mengikat tali ini maka bendera aka nada di tempatnya. SELESAI! DOOOR

Ditengah kebahagiaanku, terdengar sebuah suara besar. Ah, peluru itu mengenai perutku. Tapi tidak, tidak apa-apa, yang penting hanyalah bendera Indonesia itu sudah berada pada tempatnya. Aku tersenyum dan terjatuh dari tiang. Orang-orang yang mematung itupun berlarian mengejar untuk menangkap tubuhku tapi ah, tak usah, yang terpenting adalah bendera itu di tempatnya.


Mia Iskandar, 8 tahun. Ditemukan tewas di tengah medan perang, saksi mata menyebutkan kalau gadis kecil itu rela mengorbankan dirinya demi mengikat bendera Indonesia itu pada tiang bendera yang dahulunya adalah bendera belanda. Demi bendera merah putih itu, dia meninggal pada umur yang masih sangat dini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!