Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bendera dan Seteguk Air Untuk Ali

Oleh: Ifnur Hikmah (@iiphche)
www.ifnurhikmahofficial.blogspot.com

"Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku"

Seorang anak kecil melambai-lambaikan bendera di tangannya. Selembar kain yang terdiri atas dua warna itu -merah dan putih- terlihat angkuh di bawah terpaan sinar matahari yang menyorot tajam. Peluh bercucuran di dahi anak itu. Baju kaos yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, membuat kaos yang sudah lusuh itu -tidak jelas warnanya apa- semakin kelihatan buluk, terlebih jika dikenakan oleh tubuh kurus kering dengan kulit hitam legam akibat terpapar sinar matahari dalam jumlah banyak.
Tidak jauh dari tempat anak itu bernyanyi, duduklah seorang pria paruh baya dengan wajah kuyu termakan usia. Keningnya selalu berkerut, pertanda ada yang sedang dipikirkannya. Ditopangkannya punggungnya ke gerobak kayu berisi barang dagangannya seraya tangannya mengipas-ngipaskan topi lusuh yang sedari tadi dikenakannya.
"Ali, ayo duduk. Jangan bergerak terus."
Ali, anak kecil itu, hanya menoleh sebentar dan kembali berlarian kian kemari. Bendera yang digenggamnya masih berkibar-kibar tertiup angin.
Pria itu hanya bisa mendesah pasrah menghadapi ketidakpatuhan anaknya. Yang ada di pikirannya hanya satu, bagaimana jika anak itu haus? Diliriknya botol minuman yang terletak di atas gerobak. Botol itu telah kosong semenjak setengah jam yang lalu, setelah Ali menenggaknya tanpa sisa untuk menghilangkan haus di tengah hari yang panas ini. Bagaimana jika Ali meminta minum lagi? Meski ada warug kecil tidak jauh dari tempatnya berjualan, pria tua itu tidak memiliki uang. Belum ada sehelai benderapun yang terjual. Kantongnya kosong dari dentingan uang logam.
Kerutan di kening pria itu semakin banyak.

"Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu"

Bulan agustus telah memasuki minggu kedua. Hanya tinggal menghitung hari saja hingga negara ini merayakan hari jadinya. Perayaan yang semarak dengan warna merah putih kian terasa. Namun, untuk tahun ini, merah putih tak lagi menjadi malaikat penolong di keluarga Ali.
Tak ada satupun yang mampir ke gerobak pria tua itu untuk membeli bendera. Seolah bagi mereka perayaan hari kemerdekaan bukanlah sesuatu yang istimewa. Harapan tinggi yang digantungkan Ayah Ali dalam selembar kain berwarna merah putih tidak pernah menjadi kenyataan. Doa agar dapat menangguk rupiah dari helai-helai bendera tidak pernah terkabul. Tumpukan bendera itu tetap tidak berkurang.
Kemana rasa cinta tanah air rakyat negeri ini? Meski untuk sekedar memasang bendera pun mereka sudah enggan. Mungkin, apa karena negeri ini sudah terpuruk sehingga mereka bersikap acuh tak acuh?

"Hiduplah tanahku
Hiduplah negeriku
Tanahku rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia raya"

Sekali lagi pria tua itu menghela nafas. Dia mencintai negeri ini, tempatnya dilahirkan dan tumbuh besar. Disini jugalah Ali terlahir. Namun, negeri ini pulalah yang memberikannya hidup dalam serba keterbatasan. Lalu, mengapa bendera-bendera ini tidak membalas rasa cintanya? Pria itu tidak mengharap banyak, cukup beberapa rupiah saja asalkan dia bisa memberi makan istri dan anaknya.
Sama sekali tidak diduganya, bendera yang sangat diagung-agungkannya itu turut mengkhianatinya, mendorongnya kian jauh ke dalam lobang kemiskinan dan ketidakmampuan.

"Indonesia raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang ku cinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia raya"

Ali menghentikan larinya. Peluh kian membasahi tubuhnya. Bendera yang sedari tadi berkibar pongah seiring gerakannya, kini menjuntai pasrah. Ali mendekati bapaknya, membuat kerutan di kening pria tua itu bertambah banyak.
"Pak, aku haus."
Pria tua itu tertunduk lesu. Ketakutannya terbukti sudah.
"Minumnya habis nak."
"Kan bisa dibeli, Pak?" Yah, anak sekecil Ali memang belum mengerti persoalan keuangan yang menimpa keluarganya.
"Nanti ya, kalau ada yang membeli bendera ini, uangnya kamu beliin minuman."
Ali mengangguk antusias. Kembali dikibarkannya bendera itu. Kelelahan yang menghampirinya membuat gerakannya tidak seleluasa tadi. Bendera itu hanya melambai pelan sebelum kemudian menjuntai pasrah. Sepasrah raut wajah pria itu dalam menghadapi kehidupannya.

"Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang ku cinta
Indonesia raya merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia raya."

Bahkan, untuk membeli sebotol minumanpun, bendera itu tidak mampu menolongnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!