Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Benderaku Yang Hilang

Oleh: @TengkuAR

“Nyerah nggak?”
“Iyaaaaa…aku nyerah! Ampun!”
“Nggak usah teriak kek, nanti aku yang dimarahin Ayah nih!”
“Bodo amat! Kan Kakak duluan yang mulai…”, teriakku sambil memegang bendera putih.

Kangen! Iya, aku kangen sekali masa-masa kecilku, terutama kakakku. Aku anak kedua dari empat bersaudara. Aku mempunyai kakak laki-laki yang selalu melindungiku dan selalu ada untukku. Umur kami tidak terlalu jauh hanya berjarak satu tahun setengah, dimana sekarang aku berumur 27 tahun. Berbeda dengan dua adikku yang masing-masing terpaut lima tahun. Adik laki-lakiku saat ini sedang berlayar dan memang Ayah telah mempersiapkan pendidikan dia dari kecil. Sedangkan, adik perempuanku yang terpaut sepuluh tahun denganku baru saja lulus dari sekolah menengah atas dan siap untuk berkuliah.

Jadi mau bagaimana lagi? Bukan maksud membandingkan kedua adikku yang lain. Aku memang sangat dekat dengan kakakku. Mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama kami ditempatkan dalam sekolah yang sama oleh kedua orangtuaku. Alasannya supaya mudah untuk dipantau pergaulannya dan kegiatan akademiknya. Hal itu juga yang membuatku dan kakakku semakin dekat. Bahkan saking tidak terlalu jauhnya perbedaan umur diantara kita, orang lain kadang menganggap kita kembaran. Lucu ya?

Predikat orang lain yang diberikan kepada kita berdua memang kadang menjadikan aku dan kakakku selalu bertengkar, entah dalam urusan pakaian atau mainan. Orangtuaku kadang saat membelikan pakaian untuk aku dan kakakku sengaja disamakan, mungkin yang membedakan hanyalah warna tapi motifnya tetap sama. Begitu juga dengan mainan, saat kakakku dibelikan mobilan oleh orangtuaku, maka keesokkannya aku harus dibelikan mobilan baru juga.

Pernah ada cerita yang selalu aku ingat saat umurku lima tahun. Saat itu aku dan kakakku mempunyai permainanan yang dinamakan, Bendera. Masing-masing kita harus mempunyai satu bendera berwarna merah dan putih. Maksud dari warna-warna tersebut adalah untuk menyatakan penyerangan dan menyerah. Aku dan kakakku biasanya menggunakan saat permainan dimulai. Memulai permainan ini bisa kapan saja, karena permainan ini dibuat saat keisengan kita berdua timbul. Layaknya saudara kandung pada umumnya. Bendera yang kita masing-masing bisa terbuat dari apa saja. Bisa dari kain, kertas atau pun plastik yang terpenting bisa mewakili warna yang kita sudah setujui.
Saat itu, kakakku pulang dari sekolahnya. Kebetulan aku sendiri belum bersekolah karena umurku dan biaya yang belum siap dan tersedia. Dan kita berdua tidak pernah mengalami sekolah taman kanak-kanak yang konon sangat menyenangkan, tapi tetap tidak membuat aku dan kakakku iri. Kakakku memang tipikal orang yang susah sekali dibangunkan untuk bersekolah. Setiap bangun pagi untuk bersekolah harus ada ritual menangis dulu, lalu baru berangkat sekolah. Mungkin hal itu yang selalu membuat hari-harinya murung setiap pulang sekolah. Aku yang saat itu tidak tahu apa-apa dan masih suka bermain, akhirnya memulai permainan Bendera itu.

“SERAAAANG! CIAT-CIAT-CIATTTT!”, aku memulai dengan beringas menghujam kakakku yang masih berpakaian lengkap sekolah.
“Aku lagi males main ah, Dek!”, dia menjawab dengan mukanya yang tiga belas lipat karena sedang keki dengan urusan sekolahnya.
“Ah! Kakak nggak seru! Ciiaaat-ciiiatt!”, sambil terus menghujam dia dengan bendera merahku yang terbuat dari palstik.
“Udahan nggak? Atau kakak marah nih.”
“Hiiiiat-Ciiiat-hiiiaat! Wuuushhh!”
“Oh beneran ya?”

Tak berapa lama kita berkejar-kejaran. Dan diakhiri dengan tangisanku yang mendunia keseluruh isi rumah sambil memegang bendera putihku sebagai tanda menyerah. Namun aku tetap senang dan jadi pemenang karena kakakku yang selalu kena omelan oleh orangtuaku.

Begitulah kisahku dan kakakku ketika kecil. Kakakku yang selalu dan akan tetap selalu ada. Aku merindukannya, semoga engkau di sana, di sisi Tuhan selalu baik-baik saja dan tenang selamanya. Selama 19 tahun aku masih harus belajar untuk jadi anak pertama, menjadi kakak dari adik-adikku di keluarga ini setelah kepergianmu. Kakakku adalah Benderaku yang hilang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!