Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 27 Agustus 2011

keteraturan tak selamanya versus dengan kekacauan

Oleh: tiara nabila zein (@thyrnabila)

“Yaampun Sandra. Apa ini?”aku mencomot celana pendek menggunakan tangan kananku lalu menunjukkannya kepada Sandra.
Sandra hanya nyengir.
30 detik yang lalu aku masuk ke kamar Sandra. Sebenarnya aku paling malas berada di kamar ini. Kamar yang menurutku sangat jorok. Bukannya kotor. Tak ada sedikitpun debu yang ada di kamar ini. Tapi, kekacauan di sini yang membuatku malas berlama-lama disini.
Baru saja aku mencomot celana pendek dari rak buku bagian bawah. Aku hanya ingin meminjam beberapa komik milik Sandra yang ia letakkan di rak buku paling bawah. Namun yang kutemukan malah celana pendek.
Aku melemparkan barang temuanku kepada empunya yang sedang asyik membaca novel sambil tidur tengkurap di atas kasur empuknya. Barang itu mendarat dengan sukses di kepala Sandra. Tanpa terganggu sedikitpun ia meraih celana itu lalu melemparnya asal, dan akhirnya benda naas itu mendarat darurat di meja belajarnya. Mungkin tak pantas aku menyebutnya meja belajar karena tak pernah ia gunakan untuk belajar. Paling-paling Sandra belajar ataupun mengerjakan tugas kuliahnya di atas kasurnya. Meja belajar yang terletak tak jauh dari kasurnya hanya digunakan untuk menumpuk baranr-barang nya. Semuanya juga jauh dari kesan rapi. Sangat jauh. Bagaikan bumi dengan planet pluto.
Setelah mendapatkan komik yang aku inginkan dengan susah payah, aku duduk di dekan kasur Sandra. Iya susah payah. Aku mendapatkan seri ke 2 di rak paling atas. Seri ke 3 dan 4 di rak paling bawah. Itupun ia letakkan sembarangan. Bukan punggung komiknya yang menghadap luar jadi sulit untuk mencemukannya.
“Kenapa ga duduk sini aja Mel?” kata Sandra sambil menepuk-nepuk bagian kasur yang “kosong”. Kosong maksudnya yang ga ia tempati. Tapi ada makhluk lain yang sedang teronggok tak berdosa. Ada beberapa kaos, jeans, han duk, selimut. Semua barang itu tertumpuk begitu saja.
“Ogah ah. penuh gitu.”
Ia lalu menoleh ke tumpukan benda itu lalu dengan satu gerakan tangan mendorong semuanya hingga jatuh di lantai.
“Nih. Udah bersih.”
Aku melongo. Bisa-bisanya aku punya sahabat dengan kepribadian yang bertolak belakang denganku. Hidupnya penuh kekacauan. Tapi yang lebih aneh lagi, aku merasa nyaman dengannya. Aneh sekali bukan?
Sering aku berpikir, apa yang sebenarnya mempersatukan kami? Sandra yang kacau di segala hal. Bukan hanya kamarnya saja yang super duper berantakan tapi kesehariannya. Bukan hanya satu dua kali ia terlambat masuk kelas. Bahkan terkadang ia berangkat hanya cuci muka dan gosok gigi tanpa mandi. Dingin katanya.
Sedangkan aku?
Aku paling tidak suka dengan kekacauan. Pada dasarnya aku pecinta keteraturan. Lihat saja rak bukuku yang tergantung di dekat kasurku. Terdiri dari 4 bagian. Aku mengelompokkan berdasarkan jenisnya. Rak paling bawah kugunakan untuk meletakkan novel, majalah dan komik. Atasnya kuletakkan buku-buku biografi, dan beberapa buku nonfikasi. Rak kedua aku pakai untuk textbook dan beberapa modul. Rak paling atas tempatnya catatan dan jadwal harianku.
Selain itu, Aku hampir selalu tiba di kelas pertama kali. Sejak kecil aku terbiasa mengatur waktu dengan seksama. Semuanya aku perhitungkan. Mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur ada jadwalnya. Ayahku pernah bilang, orang yang sukses adalah orang yang bisa mengatur waktu dengan baik, tertib, dan disiplin. Itu yang sejak kecil aku tanamkan pada diriku.
Pernah ada yang menanyakan padaku kenapa aku yang biasa mereka sebut Miss Perfect ini bisa bersahabat baik dengan Sandra yang sifatnya bertolak belakang denganku? Jujur aku juga tak tahu. Tapi sepertinya kami ditakdirkan bersama untuk saling melengkapi. Kami perlu mewarnai hari-hari kami dengan warna yang berbeda.
***
“Melly!”
Aku terkejut dengan bentakan di ambang pintu. Masih dengan mata setengah terpejam, aku memutar badanku yang semula telungkup.
“Hmm..” itu yang keluar dari mulutku sambil menatap bunda yang sudah berdiri dengan berkacak pinggang.
Aku masih bingung. Tumben bunda pagi-pagi sudah marah-marah. Aku melihat jam dinding di seberang tempat tidurku. Masih pagi. Kenapa bunda marah-marah?
“Ada apa dengan kamarmu?”
Aku baru sadar apa penyebab bunda naik darah. Aku tersenyum.
Semalam, Sandra datang ke kamarku lewat jendela. Tengah malam. Ia berniat untuk menginap. Karena mataku yang sudah sangat berat tadi malam, aku tak lagi menggubrisnya. Tapi sepertinya ia semalaman tidak tidur. Buktinya 2 kaleng cola dan beberapa bungkus makanan masih berserakan di kamarku. Aku sempat melihatnya keluar jendela tadi saat adzan subuh. Mungkin pulang.
***
Sejak saat itu aku tidak lagi menjadi Miss Perfect yang selalu hidup dalam keteraturan. Terkadang aku merasa jenuh dengan jadwal-jadwal yang kubuat. Sebagai obatnya, aku sesekali mencoba gaya hidup Sandra yang penuh dengan kekacauan.
Terkadang mengasyikkan juga membuat bunda syok karena aku sedikit mengikuti kekacauan yang diajarkan Sandra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!