Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 15 Agustus 2011

Kotak Kecil Ajaib

Oleh: @shelly_fw


Rekaman adalah sebuah pesan. Pesan adalah sebuah kata-kata yang ingin disampaikan. Kata-kata itu sendiri merupakan satuan bahasa yang dapat berbentuk gambar, tulisan, ataupun lisan. Disampaikan langsung atau tidak langsung. Tersirat ataupun tidak.
Oh, aku tidak mau mengandarkan ihwal rekaman terlalu jauh. Yang jelas, setiap kejadian sengaja atau tidak yang kau abadikan dapat kita sebut itu sebagai rekaman, bukan? Yeah, paling tidak aku telah mencoba memaparkannya pada kalian.
Well, ada satu kejadian unik nan terkenang antara aku dan rekaman. Tepatnya, antara aku dan kotak kecil ajaib yang bahkan tengah bersandar enteng diatas jemariku ini. Sambil tersenyum-senyum sendiri dan meminta bantuan pada semilir angin untuk mencoba menyegarkan ingatanku kembali, mengoyak setiap detail-detail perihal yang juga tersimpan rapi dalam sesuatu yang dapat kita sebut itu sebagai memori. Ya, aku memang memaksa setiap inderaku untuk merasakan kembali kejadian itu.
Kejadian itu jatuh pada enam tahun yang lalu, dimana saat itu aku masih menjadi pemuda di suatu desa, tepatnya desa Cisuluh, Bandung. Saat itu aku hanyalah pemuda yang mempunyai kegiatan sehari-hari sebagai marbut, yaitu penjaga sekaligus pengurus mesjid disana. Mesjidnya memang tidak megah, yang ada adalah perpaduan kayu sebagai bilik dan lantai sedangkan ijuk kecoklatan yang telah termakan usia masih tetap setia menjadi tempat bernaung para jemaah mesjid ini. Ditambah lagi pasak kayu yang senantiasa menghiasi tonggaknya serta luasnya yang mencapai sekitar enam puluh meter dengan tinggi sekitar dua puluh kaki sudah cukup menegaskan kesan kuno hanya saja jika kalian kesana kalian akan merasa sentuhan lembut angin yang datang dari arah timur dan selatan. Saking sejuknya memungkinkan kalian untuk bergidik, terlalu menggoda untuk dihindari.
Ya, itulah mengapa aku mencintai mesjid itu, sampai-sampai aku tidak pernah absen untuk melaksanakan ibadah pada-Nya—shalat fardhu, mengaji, hingga itikaf yang biasa kulakukan pada bulan ramadhan—masyarakat juga menamakan masjid itu dengan As-Salam, yang berarti damai. Aku cinta mesjid itu. Aku rindu dengan bisikan-bisikan mereka. Aku rindu manjaan kicauan burung kutilang dan kepondan. Aku juga merindukan saat-saat dimana kami semua berintegrasi dan berdzikir pada-Nya secara teguh dan nyaring.
Bukan cuma itu, ada satu hal lain yang juga membuatku jatuh cinta pada mesjid itu—Alifa.
Masih segar di ingatanku akan pertemuan pertama kami secara spontan (sumpah, benar-benar tidak sengaja!) di suatu malam ketika bulan bertandang sebagai pelita tatkala itu. Dimulai dari sayu-sayup senandung dalam celah-celah udara malam yang mengundang kakiku untuk mendekat ke asal suara yang cukup jauh dari keramaian itu secara instingtif.

alladzii khalaqa sab'a samaawaatin thibaaqan maa taraa fii khalqi rrahmaani min tafaawutin farji'i lbashara hal taraa min futhuur, tsumma irji'i lbashara karratayni yanqalib ilayka lbasharu khaasi-an wahuwa hasiir, walaqad zayyannaa ssamaa-a ddunyaa bimashaabiiha waja'alnaahaa rujuuman lisysyayaathiini wa-a'tadnaa lahum 'adzaaba ssa'iir

Begitulah nyanyiannya; sangat memanjakan indera pendengaranku sekaligus mencerahkan batinku. Sentuhan lembut yang mengalir sejuk di telingaku dari suara emas gadis itu memang sempat membuat bulu kudukku merinding permanen bahkan aku sendiri pun tak dapat menyangkal bahwa pelafalannya yang begitu nyaring itu begitu sempurna—bahkan tak ada seorang pun yang dapat mengalahkan lekukan indah dari setiap nada yang tercipta dari pita suara emasnya itu! Sambil berharap dan mensyukuri bahwa sejauh ini pengintaian melalui jendela surau kayu jati terhadap gadis-istimewa ini berjalan dengan baik namun sesuatu dalam diriku masih bergejolak tak keruan. Siapa gerangan dibalik mukena katun berwarna putih salju itu? Kenapa aku baru melihatnya? Sayangnya aku hanya bisa membisu dalam ragu jadi aku mencoba mengerti arti senandung-sarat-akan-makna itu. Aku menikmatinya. Aku jatuh cinta pada suara asing-namun-familier ini. Subhanallah. Ia mendaras surah Al-Mulk dengan begitu sempurnq!
Begitulah kejadian malam itu, yang sebenarnya juga tidak dapat dikatakan sebagai ‘pertemuan pertama’ karena wanita itu tidak melihatku atau bahkan merasakan keberadaanku. Tapi tidak apa-apa. Toh, suatu saat nanti waktu akan menentukan pertemuan pertama kami yang sesungguhnya.
Esoknya, sesaat setelah aku melaksanakan shalat isya, memenuhi tugasku sebagai marbut hari ini, dan sedikit berias agar terlihat rapi pada kaca almariku akhirnya aku memberanikan diri lagi untuk mengintip gadis itu—kali ini dengan sesuatu ditanganku, yang tak lain tak bukan adalah alat perekam atau bahasa gaulnya tape recorder—yeah, walaupun aku tinggal di kampung aku memang mempunyai alat ini. Bagaimana tidak, pamanku bekerja di bagian jasa elektronik di pusat Kota Bekasi jadi mudah saja bagi pamanku untuk mendapat rongsokan seperti ini dan memberikan padaku sebagai oleh-oleh dari sana. Tapi tidak bagiku. Ini buka sekedar oleh-oleh atau pun rongsokan, ini kotak kecil ajaib!
Malam itu, tepat pukul setengah sembilan malam ia—dan mukena serta rekal lengkap dengan Qur’an kesayangannya—kembali menghidupkan suasana mesjid senja ini. Sementara gadis itu menaiki anak tangga dengan menyelimpat seperti biasa sebelum sempat mempersiapkan tadarusan aku pun menyempatkan diri untuk meluruskan tubuh, mempersiapkan kalau-kalau nanti aku bakal encok atau pegal sekalipun meskipun sebenarnya lubuk hatiku telah merasakan sedikit kelegaan—meninggalkan kotak kecil ajaib itu di balik migrap tempat khatib biasa berceramah dengan ekstra hati-hati dan berharap pada-Nya agar semuanya berjalan lancar.
Senandung pun dimulai. Aku melihat daun-daun rimbun pada pohon bambu di sekitarku ikut melambai-lambai seolah ikut tadarusan. Angin dari arah timur yang kurasa menari di atas kulitku. Beberapa burung kutilang yang memang sengaja menghentikan kicauannya dan lebih memilih untuk mendengarkan si gadis. Atmosfer masjid ini yang begitu hidup dan memancarkan kesunyian yang diwarnai akan bisikan angin lembut memandu. Lantunan nada-nada ayat Quran yang mengisi setiap celah udara malam nan syahdu. Gesekan daun bambu terdengar berirama dan berpadu. Oya, satu lagi. Bulan yang memancarkan cahaya surga yang begitu merindu. Semua mendengarnya. Semua menikmatinya.
Dan lagi-lagi, ia menyanyikan ayat itu dengan sempurna. Bahkan lebih baik, hingga akhirnya aku merasa cinta yang begitu dalam. Oh, silahkan saja menyebut aku sedang dilanda cinta buta, toh memang itu kenyataannya.
Karena setiap kata adalah nyanyiannya. Setiap nyanyiannya begitu sarat akan makna. Setiap maknanya mengandung arti yang begitu dalam. Sangat dalam hingga membutuhkan pikiran jernih untuk memahaminya.
Oh, atmosfer malam ini sungguh berbeda. Lebih cerah dan bahkan lebih ringan dari yang kukira. Aku kagum padanya. Terlampau kagum padanya hingga aku baru menyadari gerakan aneh darinya—ia melihatnya!
“Eh, hei,” akhirnya aku menyapanya, walau dengan suara parau dan rasanya begitu payah. Sangat payah hingga ia sendiri terkesiap melihatku dan bangkit dari duduknya. Entah karena pakaian usangku atau sarung lusuhku yang kuselempangkan, tapi yang penting ia tidak mengetahui kotak kecil ajaib itu.
Aku berusaha agar tidak menyesal karena telah menggagalkannya melepas mukena. “Maaf. Siapa, ya?” lagi-lagi suara lembut itu membuatku luluh.
“Oh, saya yang seharusnya meminta maaf karena udah lancang masuk kesini.” jawabku, bersyukur karena terdengar lebih santai dari yang kuharapkan namun jantungku tak kuasa berdegup begitu kencang hingga membuatku nyaris menyerah. Astaga. Malaikat apa ini? Sungguh jelita.
Kudengar ia tertawa geli. Entah geli atau malu tapi aku menyukainya. “Kenapa meminta maaf? Bukan aku yang punya mesjid ini.”
“Ah, yeah. Maksudku—”
“Nggak apa-apa.” ia mulai membereskan barang-barangnya sementara aku membeku seperi orang tolol di hadapannya. “Lagipula aku sudah selesai, kok.” suaranya menegaskan kesan teduh hingga aku terpaku dan menikmati pertautan mata kami. Sangat bercahaya.
“Aku juga…cuma ingin membereskan masjid ini.” akhirnya otakku cerdas juga hingga aku teringat pekerjaanku, batinku.
“Kamu…marbut?”
“Bukan. Aku Rizan.” gurauku.
Sesaat aku menikmati tawanya, begitu ingin berlutut agar tidak menghentikan tawanya itu. “Alifa.”
Jelas aku harus menjawabnya dengan jujur meskipun aku kebingungan harus membereskan apa, “Nama yang bagus. Dan aku marbut sejak sepuluh tahun yang lalu,” akhirnya aku mengambil kemoceng dan berpura-pura membersihkan dinding bilik kayu di bagian timur.
“Bagus.” ujarnya lembut. Aku hanya tersenyum, terlalu berani untuk berbicara terlalu jauh. “Aku rasa aku harus pulang sekarang,”
“Pu—pulang?” sialnya aku keceplosan.
“Yeah. Aku harus berangkat mengajar murid-murid SD Salam jam tujuh pagi. Kasihan mereka kalau menungguku karena kesiangan.”
Guru. Ia bekerja sebagai guru! Kenapa aku tidak menyadarinya? Rumahku ‘kan tak jauh dari sana! “Semoga kamu besok nggak kesiangan.”
“Trims. Assalamualaikum,” pamitnya.
“Waalaikumsalam,” jawabku yang masih bertindak seperti orang bodoh. “Eh, hei,”
Kulihat ia membalikkan badannya dengan begitu anggun dan melayangkan senyuman sempurna di wajahnya hingga hampir membuatku lupa apa kata-kata yang menggantung di pikiranku. “Suara kamu…bagus. Aku suka nyanyian ayat—” aku pura-pura lupa.
“Al-Waaqiah.”
“Ah, ya. Untuk menolak kefakiran kan?” kali ini aku terpaku pada rona merah wajahnya yang nampak jelas di bawah cahaya lentera pada ambang pintu mesjid.
Ia mengangguk, kemudian berlalu menyusuri jalan panjang yang mengantarnya pada rumahnya. Sempat terlintas di benakku untuk mengikutinya, tapi sesuatu dalam diriku menolak lembut. Tidak. Berhasil mereka suaranya saja aku sudah girang minta ampun.
Aku suka Alifa. Aku cinta suaranya. Aku mengagumi senyum sempurnanya dan sungguh bangga padanya. Dirinya yang begitu anggun, begitu teduh dan terlalu kuat untuk membuatku luluh.
Dengan girang aku bawa kotak kecil ajaibku berlari sekaligus menari hingga rasanya kedua kaki ini begitu ringan meskipun rasa pegal sempat mengusikku karena selama hampir dua jam aku menikmati nyanyiannya. Jadi aku putuskan untuk mengistirahatkan diri sejenak, membiarkan pohon-pohon bambu, burung kutilang, angin malam, dan semua saksi lain mendengar suara Alifa yang begitu merdu dengan cara mereka sendiri. Sangat merdu hingga menciptakan satu reaksi—dedaunan disekitarku melambai-lambai tanda setuju . Setuju denganku yang juga mengaguminya. Mengagumi senyumnya, keanggunannya, tutur katanya, aura positif yang selalu terpancar dari wajahnya—semua itu begitu aku kagumi.
Dalam pertemuan ketiga, maksudku percobaanku-yang-ketiga untuk menemuinya aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Aku berhasil. Lucunya aku baru menyadari bahwa Alifa adalah teman Ina, yang juga teman akrabku. Berkatnya jugalah aku dan Alifa menjadi semakin dekat, terlebih mengetahui bahwa ia adalah guru Matematika sementara aku tidak ahli dalam bidang itu jadi aku dapat menjadikan itu sebuah alasan untuk mendekatkan kami walaupun hanya ada saung butut di tepi sawah dengan satu blackboard untuk menjadi ‘lahan’ kami. Kami bercanda, tertawa, bertukar pikiran, shalat bersama, dan yang paling menakjubkan…mengaji bersama. Awalnya sulit, memang, mengingat aku sendiri tidak mempunyai pita suara seindah dirinya atau nafas panjang yang mampu kuambil namun perlahan ia mengajariku. Mengajariku hingga akhirnya kami dapat memadukan setiap intonasi dan fonasi dalam beberapa ayat yang kami senandungkan, melihat dan merasakan reaksi positif alam di sekitar kami, merasakan hidupnya malam dan gerakan lembut dari tiap sentuhan angin…begitu abadi.
Namun di suatu hari dimana semilir angin tak seringan biasanya, pohon-pohon bambu bergerak secara sporadis, dan emosi matahari mulai menyeruak melalui teriknya—disaat aku akan menyerahkan kaset rekaman itu sebagai kado spesial untuk ultahnya—sesuatu yang buruk terjadi pada Alifa.
Sialnya aku memang bukan orang yang mempunyai perasaan yang kuat akan orang-orang yang kucintai jadi aku mencoba untuk mencari tahu. Kumulai dari rumahnya. Siapa tahu ada tetangga yang dapat kuhajar jika memang ia menyakiti Alifa? Atau guru di SD Salam yang dapat kuberi pelajaran? Ternyata aku salah. Mereka tidak pernah menyakiti Alifa. Sama sekali. Membentak atau memarahinya pun tidak. Namun lain dengan Pak Hardi, yang tak lain adalah ayah kandung Alifa sendiri.
Kuakui selama beberapa minggu aku mempunyai hubungan normal dengan Alifa ia memang tidak pernah mengeluh apapun. Baik itu hal sepele ataupun hal penting. Tapi begitu kembali mengintai rumahnya di suatu shubuh, dimana langit masih bergerak lamban dan udara dingin menusuk kulitku aku memberanikan diri untuk menghampirinya.
Praaaaaaang. Pak Hardi membanting piring hingga pecah dan pada saat yang bersamaan aku mendengar tangisan sendu Alifa. “Ayah mau kopi! Kopi, bukan teh, Alifa!” erangnya hingga aku mendapati pemandangan buruk sepanjang hidupku—Alifa merunduk dengan kedua tangan menutupi kuping sementara ayahnya dengan angkuh dan dengan suara membahana kembali mengusik sejuknya pagi. “Ngapain kamu mengaji, shalat, dan puasa kalau kamu NGGAK NURUT SAMA AYAH? HAH?”
Tanpa sadar kedua tanganku sudah mengepal kuat dibalik bilik bambu rumah mereka. Aku bahkan tidak dapat merasakan sejuknya pagi ataupun membayangkan lantunan indah Alifa lagi karena aku cukup panas dengan semua ini aku geram. Mataku terasa sangat panas melihat Alifa begitu rapuh dan pipinya dibanjiri air mata hingga aku dapat mendengar isak tangisnya dengan jelas terlebih tamparan demi tamparan yang mendarat di pipinya. Kupingku sakit. Sakit sesakit-sakitnya.
“Jangan. Tahan emosimu. Kamu harus menunggu waktu yang tepat untuk menyadarkannya. Menyadarkannya.” bisik angin tepat di telingaku. Aku bertanya pada diri sendiri sekaligus memaki diriku sendiri mengapa aku baru tahu fakta ini sekarang. Payah! Aku begitu payah!
Aku sudah bilang kan bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada Alifa? Pada malam ketika aku berada dalam titik puncak kemarahanku, dimana aku dikelilingi pecahan kaca dan menyesali karena Alifa tidak keluar rumah selama beberapa hari, aku merasa ada atmosfer berbeda memanggilku keluar. Begitu kuat, begitu menjalar ke seluruh nadi dan tulangku hingga akhirnya kakiku yang dilumuri oleh darah dan beberapa goresan dalam sampai pada gubuk yang letaknya tak jauh dari sumur kampung. Rumah Ina.
Pertama, aku tidak kaget melihat Alifa sedang menangis ketakutan, sendirian di kamar Ina tanpa kerudungnya dan Ina yang tidak berada di rumahnya. Kedua, aku tidak terkejut melihat reaksi Alifa yang begitu terkesiap dan ketakutan. Ketiga, aku hanya bisa membeku saat Alifa menyuruhku keluar dan melempariku dengan bantal dan guling. Tapi ada satu hal dalam diri Alifa yang membuatku kaget setengah mati hingga aku menelan ludah. Matanya yang meredup, memar pada tangannya, lebam pada pipinya. Tanpa basa-basi aku pun berlari keluar, mencari-cari orang yang patut kuberi pelajaran itu. Aku berlari tanpa henti, tak menggubris luka yang semakin dalam atau syaraf-syaratku yang menjerit kesakitan—aku lebih memedulikan Alifa. Kebahagiaannya, kebahagiaanku juga—hingga akhirnya mataku kembali mendapati pemandangan buruk.
Tidak jauh dari rumah Ina terlihat Pak Hardi sedang mengobrak-abrik rumah seorang warga, hendak mencari-cari anaknya yang hilang dengan beringas dan begitu tak normatif hingga warga yang lain hanya dapat membeku ketakutan akan ulahnya itu.
“Pak Hardi. Saya tahu dimana anak Bapak sekarang.” teriakku di tengah kerumunan warga yang mulai bising karena kaget akan ulahku.
Aku tidak kaget. Aku bahkan tidak bereaksi ketika ia menghampiri dan mencoba mencekik leherku. Kubiarkan satu tamparan mendarat di wajahku.
“Berani-beraninya kamu menyembunyikan anak saya!” matanya begitu membelalak hingga aku hanya menatap mata itu dengan…kosong. Terlalu pahit untuk dijelaskan hingga rasanya aku ingin muntah.
Sesaat kubiarkan oksigen segar mengaliri hidungku. “Maaf, Pak. Saya tidak—”
Satu tamparan lagi darinya tampaknya sudah membuatku cukup murka padanya. Aku mendengar ia memaki-makiku di depan para warga sementara aku membiarkannya, kali ini ia menjotos perutku dengan hebat.
“Pak, dengarkan dia--”
“DIAAAAAAAM,” teriak Pak Hardi pada salah satu orang yang mencoba melerai, sedangkan aku hanya merasa perlu untuk mengacungkan sebelah tanganku. “Lawan aku anak muda, LAWAN AKUUUUUUUUUUU!” kali ini aku membiarkan ia mengadukan hidungnya dengan hidungku meskipun aku dapat merasakan muncratannya.
Akhirnya, dengan bujukan angin, anggukan dedaunan pohon bambu serta kekuatan-Nya yang dapat kurasakan di seluruh tubuhku, aku menarik sebelah tangan Pak Hardi dengan perlahan. Ya, sangat perlahan hingga kerutan di dahinya terlihat sangat jelas sementara sebelah tanganku yang lain merogoh sakuku, mencari sesuatu yang berharga itu.
Ya, perlahan namun pasti aku menyerahkan kotak kecil ajaibku itu ke tangan Pak Hardi. Sambil berterima kasih pada angin, aku menarik nafas dalam-dalam dan kembali merasakan sakit pada kakiku karena begitu banyak darah mengucur tak kupedulikan. Dengan kekuatan bismillah aku pun menekan tombol merah pada perekamku dan berjalan mundur, sedikit puas dengan reaksi kaku dari tubuh-gagah Pak Hardi.


Audzubillah himinasyaitonirrajim, bismillahirrahmaanirrahiim, alhamdu lillaahilladzii anzala 'alaa 'abdihi lkitaaba walam yaj'al lahu 'iwajaa, qayyiman liyundzira ba/san syadiidan min ladunhu wayubasysyira lmu/miniinalladziina ya'maluuna shshaalihaati anna lahum ajran hasanaa, maakitsiina fiihi abadaa, wayundziralladziina qaaluu ittakhadzallaahu waladaa, maa lahum bihi min 'ilmin walaa li-aabaa-ihim kaburat kalimatan takhruju min afwaahihim in yaquuluuna illaa kadzibaa….

Kubiarkan angin menyampaikan pesan itu. Kubiarkan setiap ayat melayang diudara dalam bentuk lantunan merdu. Kubiarkan bulu kuduk mereka merinding hebat mendengarnya. Kubiarkan mereka membeku di tempatnya masing-masing, berpikir jernih akan makna dari lantunan itu. Sekarang, di balik tanganku, terdapat tangan gadis yang begitu takut dan rapuh, yang membiarkan aku menggenggamnya dengan erat dan membawanya menuju tempat dimana seharusnya ia berada.

“Sayang, kamu kenapa?” tanya Alifa kaget yang langsung menyeka air mataku engan tisu.
Aku menggeleng lemah. Terlalu lemah untuk mengatakan sesuatu. Apapun itu. Kemudian dengan lembut ia meraih kotak kecil ajaib yang bertengger di tangan kananku dengan begitu anggun lalu duduk tepat disampingku. Tepatnya di ranjangku. Kuberanikan untuk menatap matanya, oh, maksudku air mata yang mengalir di pipinya. Air mata itu begitu damai, begitu sejuk diiringi senyuman sempurna di wajahnya. Sempurna sekali.
“Kamu tahu? Pelukan ayahku saat itu…” ia memberi jeda pada kalimatnya, mencoba menerawang masa itu melalu perekam yang betah berbaring di tangan lembutnya. “…damai sekali. Aku sayang kamu, suamiku, dan nggak akan pernah melupakannya.”
Aku tersenyum. Aku juga mencintaimu, istriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!