Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 25 Agustus 2011

Eating Delight


Oleh : Rere (@ReReChan)

Matahari sudah tenggelam lama ketika akhirnya dia tiba juga akhirnya
di tempat pertemuan kita. Dia yang selalu menangkap mata setiap lelaki
yang menjatuhkan pandangan ke arahnya. Dia yang mempunyai tubuh
seindah para dewi dewi Yunani. Dia yang wajah dan rambutnya bahkan
dapat membuat iri para artis bintang iklan kosmetik dan shampoo. Dia
yang merupakan teman lama SMA-ku yang sudah lama sekali tidak bertemu.
Dia, Sari. Sari Kurniawati, tepatnya. Kabarnya dia sudah ganti nama
sejak menikah dengan pengusaha Arab kaya raya yang ditemuinya di
sebuah bar di pelosok Jakarta, pantas saja aku tidak pernah
menemukannya di Facebook, dia yang menemukanku di Facebook. Nama
Facebooknya Angela Hasab, Hasab merupakan nama suaminya.

Seperti jaman SMA dulu, Sari (atau sekarang lebih ingin dikenal dengan
nama Angela) selalu bisa membuatku minder. Lihat saja proporsi
tubuhnya yang aduhai dibalut gaun buatan desainer yang harganya juga
sama aduhainya, lalu lihat kakinya yang mulus ditunjang heels pencakar
langit, kemudian lihat hidungnya yang tambah mancung 1 cm seiring
dengan tahun pernikahannya dengan juragan minyak dari Arab itu. Lihat
saja kalau dibandingkan dengan penampilanku yang apa adanya dengan
tubuhku yang menggemuk seiring dengan tahun-tahun pernikahanku sendiri
dengan suamiku yang juga apa adanya. Aku tahu Sari, ups, Angela
sengaja berdandan seperti itu untuk membuatku iri. Dari dulu dia
selalu begitu, tidak tahan kalau tidak menjadi pusat perhatian!
Seperti yang dia selalu lakukan, Sari, maksudnya Angela, selalu
mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Hey, girl! Gila! Kita dah berapa tahun, nek, gak ketemu?! Rasanya
kayak udah 20 tahun!”

“Kayaknya emang udah 20 tahun tapi baru 10 tahunan kok kayaknya,”
sapaku santai sambil membalas kecupan kiri dan kanan (sampai 2 kali
kecup kiri kanan, aku sampai kagok. Mungkin tradisi di Arab seperti
itu kali yaaa).

“Indri, lo tambah cantik aja! Beneran deh. Lihat aja sekarang lo
gemukan gitu, pasti lo bahagia banget ya sama suami lo?” Angela
nyerocos tanpa berhenti sambil menyambar daftar menu dan melambai ke
arah pelayan yang kelihatannya bahagia sekali melayani wanita secantik
ini.

“Err.. ya, bahagia sih. Gw sampai punya 2 anak sama dia masa ga
bahagia sih?” Candaku ringan. Aku memperhatikan Angela memesan makanan
yang agak banyak di kafe mewah ini. Spaghetti (jangan terlalu
berminyak), Foie gras (jangan terlalu kering), Steak (medium rare),
segelas Wine terbaik yang dimiliki kafe ini dan blueberry cheesecake
untuk dessert. Kupikir dia memesan untukku juga tapi dia langsung
menengok ke arahku setelah selesai memesan dan memberikan isyarat,
‘kau mau pesan apa?’

Gila, makanan semua, tuh? Bahkan tanpa appetizer, everything is main
course! Tunggu. “Oh, sebentar. Dan sup krim asparagus untuk appetizer.
Oh, kok bisa ya gw lupa appetizer? Hahah…,” Tawanya terdengar renyah
sehingga bahkan si pelayan langsung mengacuhkan jumlah main course
yang edan-edanan untuk wanita berbadan sekecil itu dan berbalik arah
ke arahku untuk mencatat pesananku. Terbata-bata aku menanyakan
makanan yang direkomendasikan oleh pelayan itu dan memesan itu saja
dan juga segelas wine.

Obrolanku dan Angela berkisar seputar perkembangan situasi dan berita
serta cerita selama 10 tahun kami tidak bertemu. Sari, eh, Angela
ternyata tidak sepicik dan sedangkal yang kuduga semula. Anaknya sudah
ada dua orang juga dan dia sedang pulang ke Jakarta untuk membantu
merencanakan (dan membiayai) pernikahan adik ketiganya sementara adik
keempatnya juga sedang menanti waktu untuk wisuda. Dia lah penunjang
keuangan keluarga satu-satunya. Seluruh keluarganya dari orangtua,
adik, kakak, sampai ke kakek, nenek, sepupu dekat, sepupu jauh
semuanya menempel padanya seperti lintah. Dia memang tidak secara
spesifik cerita seperti itu, tapi itulah kesimpulan yang bisa aku
tarik.

Aku memperhatikan selagi dia bicara, dia terus menyuapkan makanan
sesendok demi sesendok, segarpu demi segarpu tanpa jeda dan anggun
pula tanpa terlihat rakus seperti kurang makan. Orang akan
membayangkan dengan tubuh seindah itu pasti dietnya juga gila-gilaan
dan akan maklum jika sewaktu-waktu dia akan menggila membalas dendam
dengan makanan yang banyak dan berlebihan. Aku tersenyum maklum sambil
makan sedikit-sedikit dan menanggapi ceritanya yang mengalir tanpa
henti.

Aku sering mendengar cerita-cerita itu, tentang mereka yang mempunyai
eating disorder. Apa tuh namanya? Anoreksia, mereka yang memilih untuk
tidak makan sama sekali dan pada kasus yang ekstrim, bahkan tidak
minum sama sekali karena merasa gemuk hingga hanya tinggal kulit dan
tulang saja terlihat seperti tulang berjalan, dan juga bulimia, gejala
kelainan dimana seseorang makan terus seperti orang kelaparan, merasa
bersalah lalu memuntahkan semua makanan yang baru mereka makan,
menimbulkan kerusakan pada lambung karena terus menerus memuntahkan
makanannya sehingga lambungnya stress dan bisa menimbulkan kerusakan
serius pada organ-organ lain di tubuh, bahkan gagal jantung! Dari mana
aku tahu? Kalau tidak salah aku nonton dokumenternya di National
Geographic Channel.

Aku kurang bisa mengobrol sambil makan, multitasking bukan bidangku.
Aku makan sedikit-sedikit meskipun makanan yang ada di depanku ini
rasanya enak sekali. Jarang-jarang aku makan di restoran semewah ini.
Angela melirik makanan yang tidak habis dan dimakan seperti orang yang
kurang menikmati. “Kenapa lo? Lagi diet? Aduh ngapain diet diet
segala?! 'Dah cantik, 'dah okelah lo. Hahahah…,” tawa Angela renyah
sekali sampai beberapa lelaki di meja sebelah menyempatkan diri untuk
melirik ke arahnya secara diam-diam takut ketahuan teman kencannya.
Aku cuma bisa bilang kalau aku masih kenyang dan kau tahu apa
katanya? Dia bertanya apa dia bisa menghabiskan makanan yang tersisa
di piringku. Aku agak terperangah. Gila, itu perut apa karung?! Makan
banyak banget jangan-jangan bulimia, lagi?! Tinggal tunggu waktu saja
kapan dia akan pamit ke kamar mandi dan menguras isi perutnya.
Diam-diam aku mengamati dia makan sambil terus mengobrol dan
bertanya-tanya sendiri kapan Angela akan pamit ke toilet. Sampai
akhirnya semua makanan di meja habis dan Angela dijemput suaminya, aku
masih menunggu dia pamit ke toilet seperti orang tolol.

“Gila ya, pa! Coba kamu liat si Angela, eh, si Sari makannya kayak
apa! Lebih banyak dari aku!” Ujarku sambil memberi isyarat tangan yang
berlebihan, menunjukkan porsi makanan yang bahkan lebih besar dari
meja yang kutempati sekarang. Di atas meja terdapat satu bucket ayam
goring salah satu restoran fastfood yang kubawa sebagai oleh-oleh,
sisa makan malam yang dimasak bi Minah, satu box besar eskrim rasa
strawberry kesayanganku, satu porsi spaghetti yang kupesan dari
restoran itu untuk menunjukkan kalau restoran itu oke tapi sayangnya
suamiku bilang sudah kenyang tapi sayang kalau dibuang, Fish and chips
sisa kemarin, dan satu botol besar coke. Suamiku hanya melirik sanksi
melihatku menggigit satu paha ayam crispy sembari mengoceh
terus-terusan menggosipkan keluarganya Angela, eh, Sari.

Aku makan karena tadi tidak sempat makan di kafe tadi. Bukan masalah,
kok, biasanya kalau sudah kekenyangan aku akan muntah di toilet, malas
pergi ke Gym besok!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!