Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 27 Agustus 2011

Chaos in Order or Order in Chaos?

Oleh: @icha_widya

Apa yang ada di pikiranmu saat mendengat kata ‘kacau’? Apakah sesuatu yang buruk? Berantakan? Tidak enak dipandang? Bagaimana perasaanmu melihat kamar dan ruangan yang berantakan? Mengesalkan mungkin. Lalu bagaimana dengan keteraturan? Sesuatu yang baik karena sistematis dan rapi? Melihat kamarmu rapi tentu terasa menyenangkan. Namun, kau tidak akan tahu bagaimana bentuk rapi dan memelihara sesuatu agar terlihat bersih dan rapi tanpa tahu berapa banyak debu yang terus menempel di atas meja belajarmu meskipun kau membereskannya setiap hari. Atau kenapa kau harus mencuci kaos kakimu setiap hari meskipun kau yakin kakimu tidak sebusuk itu baunya. Kekacauan melatihmu menjadi lebih baik. Menjadikanmu berpikir dewasa karena Tuhan telah mengaturnya.

Bila di dunia ini manusia selalu berada dalam posisi ‘teratur’, tidak pernah merasakan bagaimana menghadapi kemacetan di jalan raya, tidak pernah merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di kota besar atau tidak pernah mencoba mengantre di loket kendaraan umum, Bagaimana dia menjadi dewasa? Bagaimana dia mau ‘naik kelas’ bila tidak melakasanakan ‘ujian’ terlebih dahulu?

Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Demikian pula dengan kekacauan yang berkontradiksi dengan keteraturan. Selalu ada keteraturan setelah kekacauan terjadi. Itulah siklus hidup. Tidak akan ada keseimbangan jika semua warna adalah putih. Tidak akan ada siang bila tidak terjadi malam. Itulah dunia. Tidak ada orang yang disebut jenius jika semua manusia memiliki kadar kepintaran yang sama. Tidak akan ada guru yang mengajar, tidak ada murid yang harus mendapatkan ajaran, dan tidak ada proses belajar yang menjadi salah satu indikasi pendewasaan diri.

Tidak ada orang yang menginginkan kekacauan. Mereka hanya ingin keteraturan sesuai ideologi hidup masing-masing. Saat semua orang bertahan mempertahankan ideologinya, terjadilah kekacauan, perang dimana-mana, banyak korban berjatuhan. Ketika itu, muncullah jiwa-jiwa sosial dalam menangani korban perang, dibuatnya lembaga penyatu ideologi dan aspirasi tiap negara, dan berharap semua kekacauan itu dapat diatur oleh lembaga tersebut. Itulah dunia. Itulah sifat manusia. Selalu ingin tahu dan membuat terobosan baru dalam perjalanannya menuju kehidupan yang kekal kelak.

-- 
always try a little harder, even when you think you've done all you can
 
cha's

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!