Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 29 Agustus 2011

Sambal Goreng Ati

oleh (@ydiwidya)
widyarifianti.tumblr.com

Sambal Goreng Ati yang kumasak kali ini terasa begitu berbeda. Mungkin
karena bahan masakan yang berbeda dari biasanya. Atau mungkin karena…
***
Aku dan Rana punya ritual memasak bersama setiap minggunya. Selain
karena kami berdua memang sama-sama hobi memasak, kami juga menganggap
memasak adalah cara untuk merekatkan hubungan. Memasak adalah sebuah
lingkaran rutinitas bagi kami, hanya bisa berhenti jika ada satu sebab
yang membuat lingkaran itu putus. Aku percaya, tak ada satu sebab pun
yang dapat pemutus lingkaran itu. Sekalipun kata keramat bernama jarak
yang terbukti tak hanya dapat memutus lingkaran rutinitas para
pasangan, tetapi juga dapat memutus tali hubungan yang telah terbina
begitu lama.
Belum genap dua tahun Rana mengenyam pendidikan di salah satu kampus
terbaik di Indonesia, Rana mendapatkan beasiswa untuk kuliah di
Prancis. Ya, Rana memang brilian.
Aku ikut senang sekaligus khawatir. Jarak, sang gunting pemutus
lingkaran rutinitas kami, sudah berada di ambang mata. Tapi teknologi
telah mengizinkan kami mengalahkan jarak. Berkat adanya skype, kami
dapat melakukan ritual memasak bersama kami setiap minggunya. Bahkan
frekuensi ritual memasak bersama kami bertambah, dari yang asalnya
sekali semingu menjadi dua kali seminggu. Kami memang benar-benar
sudah dimabuk rindu. Ada hal yang luar biasa ketika kamu memandangi
wajah orang yang kamu cintai di layar laptop, memotong sayuran yang
sama jenisnya dengan yang kamu potong saat itu, berpijak di tanah yang
berbeda denganmu, tapi tetap memiliki perasaan cinta yang sama
membuncahnya denganmu.
Dan yang membuatku semakin terkesan adalah…
Hari ini dia rela bangun tengah malam hanya untuk menemaniku memasak.
Sementara disini, aku dapat memasak dengan segar bugar sebelum masuk
kuliah. Tak hanya perbedaan jarak yang menghambat kami, tapi juga
perbedaan waktu
“Hei Belle, Siap masak sekarang?” sapanya dengan suara parau dan mata
sayu . Aku tahu ia menahan kantuk.
“Hari ini kita masak sambal goreng ati ya,” ucapku manja.
Dia mendengus, “Yaah…Kok sambal goreng ati lagi sih? Kan kemaren udah.
Bosen ah!”
“Sambal goreng ati kan menu favorit kitaa….”
“Favorit sih favorit, tapi kalo udah keseringan ya bosen juga, Belle…”
aku senang dengan panggilan sayangnya padaku, Belle. Cantik.
“Tapi aku pengen…Yayaya? Ntar kalau udah jadi kita makan bareng, Ok?”
Rana terdiam sebentar,”Iya deh. Demi kamu…”
Aku langsung mencium layar laptopku saat itu juga.
***
Ini aneh.
Hampir satu bulan lebih aku kehilangan kontak dengannya. Kucoba
menghubungi dia lewat media apapun termasuk bertanya pada Arie, rekan
satu flat Rana yang berasal dari Indonesia juga. Dulu Rana sempat
menitipkan kontak Arie padaku jika suatu saat aku kesulitan
menghubunginya.
“Sori Mer, gue nggak tahu Rana dimana sekarang soalnya dia udah pindah
flat dari sebulan yang lalu,” ucap Arie saat aku hubungi lewat
telepon. Tak peduli pulsaku bengkak sebengkak-bengkaknya. Jika sudah
menyangkut Rana, aku rela melakukan apa saja.
“Pindah?” aku terkejut setengah hidup.
“Iya Mer, Rana nggak cerita sama lo?”
“…”
“Halo, Mer?”
TUUUUUUTT—
***
Rana, please kamu kasih tahu kamu ada dimana sekarang! Dimanapun…dalam
keadaan apapun…aku hanya ingin tahu kalau kamu ada. Please bilang kamu
baik-baik aja…
Begitulah kutipan emailku pada Rana. Rana tidak membalasnya secara
langsung. Sebagai balasannya, dia online sore ini.
“RAN KOK KAMU NGGAK NGABARIN AKU SIH KALO KAMU UDAH PINDAH FLAT?!”
Teriakku dengan tampang yang dibuat seflat mungkin. Biar marah yang
penting stay cool, begitulah prinsipku.
“Hei, calm down Mer…”
“MAU CALM DOWN GIMANA…Eh? Mer?” Aku menyayangkan panggilan Rana yang
diberikan padaku sore ini. Tumben-tumbennya ia memanggilku dengan
nama.
“Maaf Mer—“ belum selesai Rana berbicara, aku sudah menyelanya
terlebih dahulu, “Yaudah…aku maafin. Tapi hari ini kita masak ya!”
Raut wajah Rana berubah. Ia terlihat tidak suka dengan ajakanku.
“Mer…Aku baru pulang kuliah. Aku…capek.”
“Yaudah…” ucapku agak menyayangkan. “Eh Ran, itu…flat baru kamu?”
tanyaku sambil menelusuri pemandangan di sekelilingnya. Dalam layar,
Rana terlihat celingak celinguk. Dengan wajah yang terlihat agak
bingung, ia menjawab, “Hmm…Ya.”
“Kok mirip sama apartemen temenku ya desainnya?”
“Hah? Iya?” Tampang Rana masih belum lepas dari kebingungan.
“Hahaha…mirip aja kali.”
“Ran…” aku memanggilnya sekali lagi.
“Ya?”
“Jadi hari ini kita nggak masak?”
“Iya, besok ya Mer…Seharian ini aku kuliah dari pagi sampai sore. Aku
capek banget kayak belum tidur dari lahir, Hahaha…” Rana menertawai
kelakarnya sendiri.
“Ran, bener itu flat baru kamu?”
“Iy—Iya…Kok kamu nggak percaya gitu sih? Masak aku salah masuk flat?
Hahaha… ” tawa Rana kali ini terdengar hambar.
Sekali lagi aku melihat pemandangan di sekeliling Rana, “Kok di flat
kamu udah gelap sih sekarang?”
Rana tertegun, perlahan ia melihat ke arah belakangnya. Tepat ke arah
jendela yang menampilkan kelamnya langit…Prancis?
***
BRAK! Aku mendobrak sebuah pintu flat dengan satu kali hantaman.
Ternyata rasa cemburu bisa mendinginkan darah secara cepat sekaligus
menyulut api yang bahkan belum pernah berkobar sebelumnya.
“MERA?!” Rana terlihat terkejut saat melihat aku yang entah mengapa
bisa berdiri dengan tegar di hadapannya. Panci yang tengah Rana pegang
tiba-tiba lepas dari genggamannya, menumpahkan air dan hati ayam.
Sepertinya Rana berniat memasak sambal goreng ati, menu favorit kami.
“Rana?! Kamu nggak papa?” Suara halus itu terdengar. Aku memandangi si
pemilik suara halus itu. Mata kami saling bertautan.
‘Ciyeee…senengnya punya cowok yang jago masak. Emang kamu tahu dia
sering masak sama siapa?’
Parahnya tweets @galauers yang baru kubaca beberapa menit yang lalu,
sebelum aku memutuskan untuk mengunjungi Rana kesini, terngiang di
benakku. Membuat tatapan mataku pada si pemilik suara itu makin
intens.
“Kenapa?” tanyaku. Air mata sudah mengumpul di pelupuk mataku.
Genangannya tak kuasa bertahan untuk merintik satu persatu.
“Maaf Mer—“ lagi-lagi Rana mengucap kata maaf dan lagi-lagi aku
menyelaknya, “KENAPA?! KAMU MAU SALAHIN JARAK?! UDAH JELAS YANG SALAH
ITU KAMU!”
“Kapan kamu pulang dari Prancis?” tanyaku pada Rana.
Rana menatapku dengan segenap rasa bersalah yang ia punya, “Sebulan
yang lalu…”
“Kenapa…nggak ngabarin aku?”
“Maaf…”Lagi-lagi Rana hanya bisa bilang maaf. Kata yang tidak bisa
menjawab apapun sekaligus merubah apapun, kecuali merubah rasa cintaku
yang sudah sedemikian dalamnya padanya menjadi rasa benci.
“Karena kamu pikir udah nggak perlu lagi buat ngabarin aku kan?” kali
ini aku menatap perempuan yang berdiri di sampingnya sambil mengamit
lengannya. Si pemilik suara halus itu.
“Maafin gue juga, Mer…” ucap si pemilik suara halus itu.
Namanya Cecile. Dia…teman SMAku dan Rana. Aku tidak begitu dekat
dengannya tapi aku pernah menginap di apartemennya ini sewaktu
kemalaman pulang dari prom nite setahun yang lalu. Kebetulan lokasi
apartemennya berdekatan dengan lokasi tempat SMAku mengadakan prom
nite.
“Maaf…” ucap Rana dan Cecile hampir bersamaan.
Hening.
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab, “Ya…asalkan kalian mau makan
sambal goreng ati buatanku. Malam ini…”
Mereka setuju.
***
Sambal Goreng Ati yang kumasak kali ini terasa begitu berbeda. Mungkin
karena bahan masakan yang berbeda dari biasanya. Atau mungkin
karena…perasaanku yang kini sudah berbeda. Dulu setiap memasak menu
favoritku dan Rana ini, ada rasa bahagia yang membuncah.
Dulu.
Rana…I shouldn’t fall in love with you.
Dalam diam aku tetap mengiris potongan demi potongan hati sampai
sekecil mungkin. Samar-samar terdengar suara Rana, “Iya! Iris-iris
terus hatinya, Mer! Iris-iris! Lalu kucuri dengan air jeruk nipis!”
Ah… Rana, dia tak mungkin bersuara sekarang. Aku telah mengunci mulut
Rana rapat-rapat ketika sebilah pisau kutancapkan tepat di hatinya.
Setelah aku menancapkan pisau yang sama di hati Cecile.
Tapi, Rana…dia tetap mendapatkan perlakuan spesial tentunya. Selain
menancapkan pisau di hatinya, aku pun mengambil hati Rana, bahan utama
sambal goreng ati-ku kali ini. Kupastikan diriku orang pertama yang
mengambil hati Rana agar tak ada seorang perempuan pun yang dapat
mengambil hatinya.
Ya, aku tak akan berhenti memasak sambel goreng hati ini sebelum rasa
sakit hatiku… hilang.

2 komentar:

  1. A-aduh. *speechless*
    Merinding pas sampai di bagian akhirnya. >.<
    Keren. :)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!