Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 21 Agustus 2011

Ia Jual, Aku Beli.

Oleh: @mailida

Matahari sudah bersiap untuk terbenam. Aku sedang asyik berjalan kaki menyusuri daerah Dago. Riuh rendah suara pedagang yang sedang menjajakan dagangannya terdengar harmonis dengan suara mobil yang berseliweran. Kolak, candil, es kelapa muda, menjadi pemandangan umum yang aku lihat di sepanjang jalan setiap bulan ramadhan.

“ Pak, café Gotcha dimana ya pa ?” Seorang petugas parkir ku hampiri. Dia menggeleng. Sepertinya ia terlalu sibuk hanya untuk menanggapi pertanyaanku.

Setiap jalan ku susuri satu persatu. Mencari alamat yang tertera di brosur yang aku dapatkan dari teman.

Café Gotcha Jl.Tubagus Ismail 8. No 9

Dimana itu? Katanya sih tinggal lurus, belok, lurus, belok. Informasi seperti itu tak mempermudah jalan ku.

Kini tenggorokan ku mulai meronta. Kaki ku pegal. Keringat sudah mengucur deras. Tapi demi beberapa potong baju lucu dengan harga murah, tak mengapa bagi ku.

Berbelanja bisa menghilangkan rasa stress ku yang sudah membuncah akhir-akhir ini. Setidaknya focus ku beralih ke baju-baju. Harus ada sesuatu yang membuat ku melupakan sejenak persoalan percintaan yang menyesakkan.

Kapasitas otak ku hampir habis dipenuhi oleh memori tentang dirinya. Buat ku, belanja dapat sedikit menguapkannya. Aku tak lagi butuh psikiater jika sudah berbelanja.

Jika satu baju diibaratkan sebagai satu butir pil penyembuh sakit hati, mungkin semua baju di toko itu akan ludes habis diborong oleh ku.

Sudah puluhan meter aku berjalan, akhirnya ku temukan juga Rumah Sakit hati ini. Teman ku sudah berada di sana. Menunggu ku yang tak kunjung datang.Terlihat dari jauh dia menyilangkan tangan. Kakinya dihentakan cepat sekali.

“ Siap? Gue mau cepet-cepet penyembuhan.” Ucap ku menatapnya mantap. Dia tak menjawab dan segera menarik tangan ku masuk ke dalam.

Ku pikir tumpukan gadis-gadis remaja yang berdesakan lebih banyak dibandingkan tumpukan baju yang berada di depan ku. Mereka sibuk menggeser hanger dengan tak santai. Berpindah dari satu booth ke booth lainnya mencari baju yang cocok untuk dirinya.

Terlihat segerombolan geng wanita bergaya urban memenuhi booth yang memasang papan bertuliskan Rp3000-Rp 15.000, mereka terhanyut dalam buayan harga murah. Aku dan teman ku berjalan menuju ruangan di pojokan. Memilih untuk menenggelamkan diri di sana. Pantas saja tak banyak yang datang ke booth yang satu ini, tulisan Rp 50.000 hingga Rp 80.000 mungkin cukup menakutkan untuk standar harga sebuah baju bekas.

Aku tak mengerti mengapa orang-orang itu menitipkan baju nya untuk di jual disini. Tak jarang aku menemukan baju yang masih layak dan sangat bagus untuk dipakai. Ternyata sesuatu yang menurut mereka sudah tak berharga, mungkin saja masih memiliki nilai manfaat bagi orang lain. Aku menyimpan banyak baju di lengan ku untuk akhirnya ku sortir yang paling bagus. Sudah hampir satu jam aku disini. Melakukan penyembuhan batin yang menyenangkan. Rasanya damai sekali satu jam tanpa pikiran tentang dirinya. Benar saja, memori tentang dirinya menguap seketika.

Jika baju-baju itu dapat berbicara, mereka akan berterimakasih kepada ku karena telah menampungnya setelah dicampakkan oleh pemilik sebelumnya. Garage sale bagaikan media perpindahan untuk para baju, serah terima dari kekasih lama yang membuangnya kepada kekasih baru yang sangat menginginkannya.

Aku bergegas ke arah kasir, membayar pil-pil yang kubeli ini. Namun langkah ku terhenti oleh pemandangan ironis yang berada di depan ku. Sebuah kaos berwarna biru bertuliskan I only date supermodel berada di tumpukan booth dengan papan bertuliskan Rp20.000-30.000 di atasnya. Aku menunduk. Mata ku mengarah kepada baju yang ku kenakan.

“ I only date Rockstar”. Bisikku membaca tulisan di baju yang ku pakai. Aku mulai mengontrol emosi ku. Berharap apa yang aku pikirkan tidak benar. Ku ambil baju biru tersebut dan mengecek lapisan dalamnya.

Ternyata benar. Ada tulisan M&B di sana. Air mata ku jatuh tak tertahan. Teman ku kebingungan melihat ku menangis di sampingnya. Aku segera merogoh telepon genggam di saku celana.

“ Bimo, kenapa di jual?”
“ Hah?” Nada suaranya terdengar kebingungan. Terdapat sedikit jeda tanpa suara diantara kita. Hingga akhirnya dia mulai mengerti arah pertanyaanku.
“Oh itu”
“ Aku hanya menjual sesuatu yang sudah lagi tak berguna bagi ku”

Aku tak tahan mendengarnya. Segera telepon itu kumatikan. Percakapan kami berakhir. Kegiatan penyembuhanku ternyata hanya menciptakan luka baru.

Kaos couple itu menyimpan banyak memori. Kaos yang selalu kami kenakan jika anniversary. Aku mengambil kaos biru itu dan menaruhnya di lengan ku. Masih tercium aroma tubuhnya menempel di situ.

Dia menjual kenangan kami seharga tiga puluh ribu. Dan aku membelinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!