Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bendera di Perbatasan

Oleh: Dinda Amalia


“Kita harus buat sesuatu di 17 Agustus nanti?” ucap Bima

Ketiga temannya melongo mendengar ucapan Bima. Aneh! Tidak biasa-biasanya Bima sok bersikap nasionalis seperti itu. Memang yang diucapkan Bima bukan hanya persoalan perayaan 17 Agustus saja. Tapi lebih daripada itu. Mereka menamai diri mereka dengan sebutan Pendekar Cilik. Pendekar Cilik yang terdiri dari Bima, Ayu, Nunu dan Parman. Mereka memang spesial karena mereka tinggal di daerah perbatasan. Mereka tidak pernah melihat di desanya ketika 17 Agustus tiba ada perayaan seperti di daerah lainnya. 17 Agustus di desanya bagaikan hari biasa saja.

“Makanya kita harus melakukan sesuatu nih?” ucap Bima sekali lagi

“Iya tapi apa Bim?” keluh Ayu

“Kita bikin upacara Bendera aja, ajak orang sekampung.”

“Emang pada mau? Bendera aja kita nggak punya” selak Nunu

Nyatanya, memang jarang sekali warga disini yang punya bendera. Mereka pun terdiam. Memikirkan beberapa ide yang kiranya pas untuk dijalankan pada saat 17 Agustus nanti. Mereka harus mencari cara terbaik untuk mendapatkan sebuah bendera merah putih.

“Oke..tenang teman-teman. Misi kita sekarang adalah membuat bendera. Caranya adalah kita harus mengumpulkan uang untuk membeli kain untuk dijahit menjadi bendera merah putih. Karena jahit lebih murah daripada membeli bendera. Nah masalah jahit, tenang aja ada emak ku yang siap membantu. Bagaimana?” ucap Bima membara

“Horeee!! Setuju”

~0~

Dua minggu berselang, para Pendekar Cilik berkumpul lagi dengan membawa uang yang mereka sisihkan untuk membeli beberapa meter kain untuk dijadikan bendera. Mereka mengumpulkannya ke dalam sebuah kaleng bening. Memandanginya dengan seksama.

“Apa iya, uang kita cukup Bim?”

“Aku rasa sih cukup. Besok pagi-pagi sekali kita ke kota untuk membeli kain.”

Mereka saling bartatapan. Tatapan penuh makna dan semangat yang membara. Besok Pendekar Cilik akan menjalankan misi kenegaraan. Mereka tak sabar menunggu pagi itu tiba.

Sebelum matahari mucul di permukaan, para Pendekar Cilik sudah menembus dinginnya pagi. Mereka berjalan ke arah jalanan desa. Menunggu omprengan yang menuju ke pasar kota. Dingin yang menusuk tidak menjadi penghalang bagi anak-anak ini untuk menjalani misi mereka. Membeli kain untuk dijadikan sebuah bendera.

Sesampainya disana, mereka benar-benar bingung karena tak satupun toko kain yang mereka jumpai. Kaki mereka letih untuk mencari namun semangat di hati mereka tak pernah padam. Menunggu keajaiban.

“Harusnya kita tidak perlu nekat sejauh ini”

“Kalau tidak nekat bukan pendekar cilik namanya. Lagipula selalu ada keajaiban bagi Pendekar Cilik.”

“Huh!”

Mereka terus mengamati sekeliling. Siapa tahu ada memang benar-benar ada keajaiban seperti cerita di dongeng-dongeng. Tapi nihil, di depan mereka justru hanya ada seorang nenek tua yang sedang kerepotan memegang belanjaannya dan berjalan tertatih-tatih.

“Teman-teman, kita ada misi lain nih” kata Bima dengan semangat

Mereka langsung dengan sigap membantu dan mengantarkan nenek tersebut ke rumahnya, yang jaraknya tidak jauh dari pasar. Dengan antusias, mereka bercerita kepada nenek tersebut bahwa mereka berasal dari desa perbatasan ke kota hanya untuk mencari toko kain untuk membeli kain yang nantinya akan dijadikan sebuah bendera merah putih untuk upacara di desa . Namun naas disini tidak ada toko kain.

Dengan tersenyum nenek itu berucap, “perbuatan kalian mulia sekali, sebentar ya.” Nenek itu pun masuk ke sebuah ruangan lalu membawa sebuah kain. Bendera merah putih.

“Ini untuk kalian. Hadiah dari nenek karena kalian sudah membantu nenek”

Dengan mata yang berbinar-binar mereka menerima bendera yang diberikan nenek. Memang selalu ada keajaiban bagi Pendekar Cilik. Kini, misi mereka hari ini tidak sia-sia. Misi mereka berhasil. Mereka pulang dengan kemenangan dan semangat yang membara untuk secepatnya merayakan 17 Agustus untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Walaupun tinggal di perbatasan, tetapi hati dan cinta mereka untuk Indonesia tak kenal batas.

Untuk pertama kalinya, bendera merah putih berkibar di desa mereka. Bukan hanya 17 Agustus saja bendera merah putih berkibar. Tapi akan berkibar membentang hingga tak kenal lelah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!