Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 17 Agustus 2011

Selembar Batik

Oleh Gabby Laupa (@GabbyLaupa)


Lilin itu kulelehkan dalam wajan kecil yang diletakkan di atas tungku. Sekilas warnanya terlihat seperti gula merah, tapi coba kalau kau sentuh permukaannya, lengket dan berminyak. Bentuknya yang menyerupai balok sedikit demi sedikit meleleh, seiring dengan memanasnya wajan kecil yang menjadi wadah si lilin. Tidak sampai lima menit, balok itu sudah menghilang digantikan cairan panas berwarna kecokelatan.

Canting bergagang bambu sudah siap berada di tanganku. Kuletakkan terlebih dahulu ujung canting—cucuk, kata orang jawa—di tepi wajan, agar cucuk menjadi sedikit hangat dan lilin malam sisa membatik sebelumnya yang menyumbat cucuk mencair. Setelah itu baru kumasukkan canting ke dalam cairan lilin malam agar cairan lilin malam agar nyamplung, tempat cairan lilin malam dalam canting terisi. Jangan terlalu banyak mengisi canting dengan cairan lilin, bisa-bisa cairan akan menetes keluar saat canting digunakan untuk membatik. Seperti pensil, canting juga memiliki ukuran, untuk awal membatik aku selalu menggunakan ukuran nomor tiga karena ukuran nomor dua terlalu kecil untuk membuat garis dan ukuran nomor empat akan menciptakan garis yang tidak meliuk dengan indah.

Kain katun yang sudah diberi pola dikaitkan ujung-ujungnya pada tumpang bambu. Aku memegang canting berisi malam panas dengan posisi seperti memegang spidol untuk menulis di white board. Sesekali kutiup cairan di dalam nyamplung agar tidak terlalu panas. Tak lama kemudian tanganku sudah menari di atas kain katun berwarna putih, mengikuti pola-pola yang sudah digambar dengan pensil. Sesekali canting diisi ulang dengan cairan lilin malam, kadang kalau tak berhati-hati cairannya yang panas menetes di tangan. Tapi tak apa, aku sudah biasa.

Ketika seluruh pola sudah kulapisi dengan lilin malam, kain akan dicelup dalam warna pertama—warna yang paling muda. Biasanya kuning, kadang warna merah kalau memang tidak ada warna kuning yang diharapkan dari hasil jadi batik. Setelah kain dicelup dengan warna termuda lalu dikeringkan, proses pembatikan diulang lagi dari awal agar mendapatkan warna dan corak yang berbeda.

Batik bagiku adalah sebuah kehidupan. Dimana kesabaran dan ketelitian dilatih dengan bagaimana cara menuangkan lilin, mencairkannya, melapisi pola-pola kain dengan lilin yang berada di dalam canting. Ketertiban dan kedisiplinan diterapkan dalam pewarnaan kain, sekali saja salah mencelupkan warna maka kesalahan akan terbawa hingga hasil akhir si batik. Batik bukan hanya sekedar selembar kain, batik adalah semangat dan harapan yang terbentuk dalam setiap goresannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!