Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Hadiah

Oleh: Acha (@achadarini)


Hanya sendiri, merasakan semilir angin yang menerpa mahkota peraknya, menyaksikan lembar-lembar daun yang tak kuasa menolak ajakan sang bayu untuk menari, bersuka cita menikmati indahnya sinat matahari yang telah berbaik hati mengurangi kegarangannya.


Hanya berdiam diri, melantunkan doa dalam hati. Doa terdalam untuk orang terkasihnya, mendoakan segala yang terbaik yang mampu ia pikirkan.


Hanya pada sudut itu, ia arahkan mata beserta kacamata usang kesayangannya. Menanti kembalinya seorang ksatria, ksatrianya, hanya miliknya.


Ya, memang hanya itu. Tapi, andaikan saja kau tahu, betapa besar arti hal itu baginya. Kau tak akan pernah lagi mengatakan ‘hanya itu’.


Selalu begitu, selalu itu yang terjadi. Ia tak pernah bosan, tak pernah jenuh dengan rutinitasnya. Ia nikmati setiap penantian, setiap rasa sakit yang ia percaya akan berujung indah.


Selalu begitu, selalu itu yang terlihat. Latar yang masih sama seperti bertahun-tahun lalu, tak sedikitpun berubah. Tak ia hiraukan tubuh rentanya yang semakin lama semakin tak mampu berdamai dengan cuaca. Ah, dasar tubuh manja, urusanku lebih penting darimu, pikirnya.


Selalu begitu, selalu itu yang dirasa. Kerinduan, kerinduan yang teramat menyesakkan dada. Menyeret paksa nyeri tak terperi setiap kali rasa itu mendesak ke permukaan.


Selalu, selalu dan selalu akan tetap begitu.. Sampai seorang malaikat datang menjemputnya, mengantarkan ia bersua kembali dengan pujaannya.


Kau tahu? Kesetiaannya senantiasa ia jaga, tak pernah ia biarkan pergi walau hanya sekejap mata.


Kau tahu? Sorot matanya yang teduh, mengisyaratkan berjuta harapan, yang baginya merupakan seluruh dunianya, nafasnya, hidupnya.


Kau tahu? Ia tak pikirkan berapa detik yang telah terlampaui, berapa menit yang terbuang, yang ia tahu hanyalah ia mampu, walau sesak yang dirasa.


Kau tahu? Baginya, entah benar atau salah, ia tak peduli, ia akan tetap menanti, tetap berharap, tetap menanamkan benih kesetiaan yang akan disemainya nanti. Ketika ia yang ditunggu kembali menggenggam erat tanggannya dan tak kan pernah dilepas lagi.


Maukah kau tahu, apa yang ada dibenaknya? Sejujurnya, dibenaknya hanya bersemayam satu hal, asa seorang wanita biasa, berharap pulangnya lelaki terkasih yang gagah perkasa, kembali dari palagan untuk mengambil hadiahnya, sebuah bendera yang melambangkan keberanian sang lelaki serta sucinya cinta sang wanita. Bendera yang dijahitnya dengan sepenuh hati. Agar kelak, suatu saat nanti bendera itu dapat menyapa para rakyat Indonesia dengan senyum hangatnya, dengan penuh kebanggaan yang menyeruak begitu kuat di sanubari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!