Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 27 Agustus 2011

Kembali

Oleh: Widya Arifianti
@ydiwidya
widyarifianti.tumblr.com

Ia bilang hidupku berantakan.
Aku bilang hidupku teratur. Ya, aku teratur menggebuki orang sekali
seminggu. Teratur mencuri uang orang tua. Juga teratur berganti
pasangan setiap sebulan sekali. Awalnya aku ingin terus melalui
kehidupanku yang serba teratur ini. Namun, ia berhasil memutus
lingkaran rutinitasku yang serba teratur itu. Pada suatu pagi yang
kelabu, dimana aku ketahuan memperkosa seorang gadis yang tak
bersalah, ia mengirimku ke penjara.
Hari-hariku berantakan setelah itu.
***
Aku tak percaya, jumlah luka yang kupunya bertambah dua kali lipat
semenjak aku mendekam di penjara terkutuk ini. Mungkin inilah jadinya
bila para penjahat disatukan. Rasanya sedih juga jadi orang yang
tertindas, harus mengalah demi kelangsungan hidup.
“BUK!” tinju Bonjer meluncur dengan lancarnya mengenai wajahku. Semua
ini gara-gara masalah sepele tadi malam: aku tidak mau membagi 70%
jatah makanku dengannya.
“BUKKK!”sekali lagi tinju Bonjer menghadapi wajahku. Menceloskan pipi
tembamku ke dalam.
“Maaf Bang…”dalam rerintihan aku masih bisa mengucap. Bonjer tak
menjawab, ia hanya menginjak bahuku dengan kaki gempalnya. Ya, Bonjer
memang pendiam. Tapi tangan dan kakinya sama sekali tidak bisa diam.
Bonjer dan anak buahnya pergi ke selnya diantar oleh sipir yang juga
tak berdaya. Ia tak pernah sendiri ketika menyerang. Bukan, bukan
karena ia tak mampu menyerang sendirian. Kebanyakan anak buahnya hanya
menonton selama ‘pertandingannya’ berlangsung dengan napi-napi lain.
Bonjer hanya ingin mengingatkan para anak buahnya untuk tetap selalu
menuruti kata-katanya bila tidak mau jadi lawan tandingnya yang selalu
berakhir mengenaskan, termasuk aku. Lukaku yang sama sekali belum
sembuh ini ditambah lagi dengan luka baru.
Arman, teman satu selku hanya bisa menatapku iba. Namun, ia lebih bisa
berbuat banyak ketimbang sipir-sipir pecundang itu. Dengan tangan
dinginnya, ia mengobati lukaku dengan cekatan. Membuatku merasa baik
dan seolah tak pernah punya luka.
“Bagaimana bisa menata hidup kalau begini terus?” gumamku ketika Arman
mengobati luka di dekat bibirku. Aku mengernyit kesakitan.
“Sebenarnya yang membikin hidup kita berantakan itu bukan orang lain,
tapi diri kita sendiri…”sahut Arman. Dia adalah didikan lembaga
pemasyarakatan yang berhasil. Aku yakin dia bisa langsung dilepas ke
masyarakat luas dengan kelakuan baiknya seperti ini.
“Tuhan telah mengatur dan menata diri kita sebaik-baiknya…yang
memberantaki itu diri kita sendiri,”ucap Arman lagi. Kini ia telah
selesai mengobati lukaku.
“Saya pesimis bisa jadi orang baik-baik, Mas Arman…setelah semua yang
sudah terjadi…Saya malu. Sama Tuhan, sama teman, sama keluarga...”Aku
menggantung kata-kataku.
“Sama Ayah…”sambungku. Arman hanya tersenyum.
“Lebih baik jadi mantan orang jahat ketimbang jadi mantan orang
baik-baik…”mendengar perkataan Arman, aku terdiam.
“Pulanglah ke keluarga Mas Wisnu dan buktikan kalau Mas sudah
berubah…jadi orang yang baik-baik, jadi orang yang teratur. Buktikan
juga sama Ayah Mas Wisnu yang mengirim Mas kesini kalau Mas berubah
bukan karena penjara, tapi karena tekat kuat dari diri Mas sendiri…”
Aku semakin terdiam.
“Sudah saatnya kita kembali dalam keteraturan yang sudah menjadi
kodrat awal kita kan?” tanya Arman tanpa butuh jawaban.
Dalam diam, aku mengangguk. Oh Tuhan, aku ingin pulang.
***
Ia berubah, tak lagi teratur seperti dulu. Selain itu, ia lebih
cerewet sekarang. Pada setiap orang yang ia temui, ia membagi-bagikan
kisahnya secara cuma-cuma. Tapi, ia tak pernah selesai bercerita
karena pasti selalu ada cerita lain yang menggodanya untuk ia
ceritakan. Ia seperti…mengambil beberapa jumput-jumput kecil memori di
benaknya lalu mengolahnya menjadi satu rangkaian yang tak
berkesinambungan. Acak.
Namun aku tetap menyukainya karena ia teratur bercerita, karena ia
mengingat dengan jelas detail jumputan-jumputan memori acak yang ia
ceritakan.
“Anak pertama saya itu, Si Wisnu…dulu senang sekali nonton tinju.
Eeh…udah gedenya malah seneng ngegebukin orang. Nah, kalau anak kedua
saya…Kintan. Dia senang sekali baca buku,”ucapnya sebelum menyeruput
kopi tanpa gula buatan Ibu. Untuk pesanannya yang satu ini, ia tak
pernah lupa mengingatkan Ibu. “Minta kopi tanpa gula,” begitu pesannya
setiap kali minta dibuatkan kopi.
Setelah menyeruput kopi, ia kembali bercerita. “Oh iya,
ngomong-ngomong soal Hong Kong…dulu saya pernah dapat tiket gratis ke
Hong Kong. Sebenernya sih bukan saya yang dapet. Tapi Si Wisnu, anak
pertama saya menang undian dari beli cokelat.”
“Wisnu itu…senang makan cokelat ya Pak?” tanyaku mengetesnya.
“Oh iya! Dia sangat sukaa sekali. Saking sukanya, dulu waktu masih
kecil dia sering curi uang recehan saya buat beli cokelat di
warung,”lanjutnya. “Kalau Mas Aji, suka makan cokelat ndak?”tanyanya
padaku.
“Hem…Iya,”jawabku. Bersamaan dengan itu, Ibu yang baru dari dapur ikut
duduk di sebelahku. Ia mengelus pundakku sambil tersenyum. “Sabar ya…”
Aku seolah dapat mendengar perkataan itu dari mulut Ibu.
“Oh Iya, Mas Anto dari tadi belum dibikinkan minum ya?”tanyanya ketika
melihat cangkirku yang sudah dulu kutandaskan. Aku terpaksa
mengangguk.
“Ah Bu, kok ada tamu gini nggak dibikinin minum sih?” Kini ia ganti
menyalahkan Ibu yang hanya bisa tersenyum kecut. Ibu lalu beranjak
lagi ke dapur.
Tamu?
Jadi aku ini…tamu?
“Maaf ya, istri saya itu orangnya memang pelupa…”ucapnya. Ya, ia
memang pelupa dan memiliki ingatan yang acak. Tapi aku salut karena ia
masih mengingat istrinya, Ibu…
“Oh, nggak usah Pak…saya sebentar lagi mau pulang kok,”ucapku memohon diri.
“Lah Mas Daniel kok buru-buru gitu sih? Masih banyak lho yang mau saya
ceritaken sama Mas…”Ia terlihat kehilangan.
“Maaf Pak, bukannya saya nggak mau. Tapi, saya masih ada urusan…” alasanku.
“Urusan apa tho Mas?”
“Bikin paspor… susah Pak sekarang, bikin Paspor harus tiga kata
sementara nama saya cuma dua kata.”
“Memangnya nama panjang Mas siapa?”
“Wisnu Aditama. Rencananya mau saya tambahin jadi Wisnu Aditama
Prihandoko, ngambil nama terakhir ayah saya…Danar Prihandoko.”
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Aku tahu aku telah menyulut api yang
sudah lama tak berkobar. Setelah ini ia pasti akan marah-marah dan
mengataiku pembohong. Namun, di luar dugaanku…ia malah memelukku
dengan erat. Saking eratnya, aku sampai kesakitan. Melihat hal itu,
Ibu langsung melepaskan pelukannya dariku lalu mengiringnya masuk ke
kamar untuk tidur siang. Setelah berhasil membuatnya tertidur, Ibu
menjumpaiku. Raut wajahnya riang tak terperi.
“Ayah ingat sama Wisnu Bu!” sahutku girang.
“Jadi…tak ada alasan buat kamu untuk pulang ke kosan kan? Rumah kamu
disini, Nak…”
“Tapi Wisnu sangsi kalau Ayah mau memaafkan Wisnu. Setelah ingat sama
Wisnu beliau juga pasti bakal ingat sama kesalahan-kesalahan Wisnu…”
“Nggak Wis, asal kamu tahu…Ayah telah memaafkan kesalahan-kesalahanmu
di hari yang sama ketika Ayah mengirimmu ke penjara. Setelah itu
beliau melupakan kesalahanmu…sampai sekarang.”
“Nggak cuma kesalahanku aja Bu, dia juga lupa sama aku…”
“Bukan salah Ayahmu Nak, Ibu juga nggak tahu kenapa Ayahmu bisa jadi
pikun begitu mungkin karena shock begitu tahu kamu dinyatakan bersalah
oleh polisi. Dokter bilang itu Alzheimer, tapi dia pun masih sangsi.
Penyakit Ayahmu itu merupakan kasus langka, Nak.”
“Jadi Ayah bisa begitu…karena Wisnu Bu?”mendadak perasaan bersalah
menjalari seisi hatiku.
“Bu!” belum selesai aku mengobrol dengan Ibu, tiba-tiba Ayah terbangun
dari tidur siangnya yang hanya sekejap mata itu. Ibu langsung berlari
menghampiri kamar utama. Aku pun menyusulnya.
Ayah mengulur selimutnya. Ia terlihat segar dan ceria. Apalagi ketika
menatap wajahku. Kuputuskan untuk memeluknya, sebagai balasan atas
pelukan erat yang telah ia hadiahkan padaku barusan.
“Bu, siapa ini…? Temannya Kintan ya?” tanyanya polos.
Aku langsung menatap Ibu. Sepertinya aku harus benar-benar kembali ke
rumah ini…untuk memperbaiki kekacauan yang telah kubuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!