Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 09 Agustus 2011

Cinta Yang Musnah



Oleh Rahmi Afzhi (@Afzhi_)



Klara menatap ke arah ruang kesenian itu sekali lagi. Matanya serasa
menembus jauh ke belakang celah pintu. Melihat seorang pemain drum
yang perawakannya bisa membuat Klara terpikat. Dialah Kevin, drummer
band SMA 32.
“Kevin ganteng, ya?” Siska membuyarkan lamunan Klara.
“Emang ganteng, Nyun. Eh, lo kok nanya kaya gitu? Lo naksir ya ama dia?”.
“Enak aja. Gue kan temen setia. Nggak mungkin gue pake semboyan temen
makan temen. Yuk ah cepetan pulang,” Siska yang digelari si “Manyun”
oleh Klara bersungut.
Setibanya di rumah, Klara segera masuk ke dalam kamarnya yang dihiasi
dengan cat serba pink dan nuansa hello kitty. Segera dibukanya laptop
miliknya. Lalu dikliknya icon connect pada bagian wireless modem.
Setelah arus internetnya telah tersambung, segera dibukanya alamat web
twitter melalui Mozilla fire fox. Hmmm… followersku udah 572 orang
nih. Nambah 4 orang dari kemarin dong. Bagus! Batin Klara kegirangan.
Dia akan selalu bahagia jika followersnya bertambah. Ini siapa ya? Sok
kenal sok dekat banget deh, Klara kembali membatin ketika membaca
sebuah mention dari seseorang yang memakai username @MyNameIsNoName.
Isinya : Hay @Klaragokil! Gimana sekolahnya hari ini? Lancar?
@MyNameIsNoName Maaf, ini siapa ya? Emang kita pernah chatting sebelum
ini? balas Klara.
@Klaragokil nggak pernah sih. Tapi aku liat di bio kamu aja kalo nama
kamu Klara. Dan kamu sering males kalau banyak ulangan di sekolah,
orang yang mendapat mention dari Klara ternyata sedang on juga
@MyNameIsNoName oh gitu…. Gpp kok. BTW, nama kamu siapa n anak mana?
@Klaragokil apa perlu aku sebutin nama aku? Aku dari Jakarta.
Begitulah chatting itu terus berlanjut. Sampai akhirnya Klara tahu
kalau orang yang tidak mau menyebutkan namanya itu juga masih SMA.
@MyNameIsNoName oh ya, sekarang aku mau makan siang dulu. Nice to meet
U, tulis Klara mengakhiri pembicaraannya.
@KlaraGokil OK. Nice to meet you too.
Sambil tersenyum-senyum kecil, Klara menekan icon sign-out di twitter.
Eh, aku lupa baca bio si No Name itu. Huft,,,, kepaksa masuk lagi!
Gerutu Klara. Aku adalah seorang drummer. Hanya itu? Nyebelin banget
deh. Kasih info lebih detail kek, sungut Klara.
Esok harinya, Klara menemukan setangkai bunga mawar di dalam laci
mejanya di sekolah.
“Dari siapa ya? Kok nggak ada namanya?” Siska balik bertanya ketika
Klara menceritakan kejadian yang menimpanya pagi ini.
“Ya elah. Gue nanya, elo nya balik nanya juga. Kasih jawaban dong.”
“Eh, jangan ngomel-ngomel gitu dong. Kalo elo mau jawabannya,
jawabannya adalah gue nggak tau!”
“Sabar buk. Elo kaya nggak tau sifat gue aja. Oh ya kemaren ada
peristiwa aneh bin aneh juga lho!”
“Apa?”
“Gue kemaren chatting!”
“Bujug buneng, kalau itu gue juga udah tau. Elo kan hantunya ngenet
yang pernah absen tiap hari.”
“Tapi ini lain, gue chat sama orang yang nggak mau kasih tau namanya.
Hanya satu yang dia kasih tau ke gue, kalo dia itu sekarang SMA.
Terus, pas gue liat biodatanya, dia bilang kalo dia itu, seorang
drummer!”
“What? Kayanya gue tau deh siapa orangnya.”
“Siapa, Nyun?”
“Masa lo nggak tau sih? Lola banget deh kalo gitu cari aja sendiri.
Bye!” Siska berlalu pergi sambil mencium telapak tangannya dan
menghembuskannya kepada Klara.
“Huft, dasar lo. Gitu amat jadi orang. Ya udah deh. Silahkan sana!”
Semenjak pagi itu, Klara selalu mendapat hadiah tiap pagi dari admire
secretnya itu sampai suatu hari. @MyNameIsNoName thank’s for
unfollowed me! , tulis Klara ketika dia mengetahui tidak bisa lagi
mengirim direct messaage kepada si No Name. Dia kesal. Akhir-akhir ini
si No Name itu jarang chat lagi dengan dirinya setelah si No Name
mengatakan bahwa dia sedang sibuk untuk persiapan untuk pentas seni di
sekolahnya. Lama Klara menunggu. Namun tak kunjung ada balasan. Ya,
sudahlah. Buat apa nunggu orang yang nggak penting kaya dia? geram
Klara dalam hati.
“Klara, ternyata dugaan gue bener,” Siska menyambut kedatangan Klara
pagi itu dengan sebuah pernyataan.
“Dugaan apa?”
“Dugaan kalo yang jadi secret admire elo selama ini adalah Kevin.
“Hah! Beneran?”
“Beneran dong. Gue sengaja datang pagi-pagi ke sekolah demi ngebuktiin
hipotesis gue selama ini. Dan ternyata itu bener.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Klara langsung menuju kelas XI IPA I,
kelasnya Kevin. “Oh jadi, elo ya yang selama ini…” perkataan Klara
segera terhenti karena Kevin segera memotongnya. “Maaf, kalo gue
selama ini gue menghantui lo. Tapi, sebenarnya itu bukan gue. Itu
adalah abang gue anak kelas XII IPS II. Dia minjem akun twitter gue
buat bisa chat sama elo. Dan dia selalu ngirim hadiah-hadiah buat lo
lewat gue. Dan maaf kalo gue kemaren nge-unfollow lo. Itu karena kakak
gue udah meninggal dua hari yang lalu karena sakit kanker hati yang
dideritanya. Sekali lagi maaf.”
Klara terdiam mendengar penuturan Kevin, orang yang disukainya selama
ini. Luluh semua harapannya. Padahal dia baru merasakan senang saat
Siska mengatakan bahwa Kevin adalah secret admire-nya. Dan sekarang,
semuanya telah musnah. Pupus tanpa bekas.

3 komentar:

  1. Menyesakkan dada. . . - . -.

    BalasHapus
  2. mulai mantap.....lanjutkan terus berkarirnya buat cerpen nak...

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!