Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Biru

Oleh: Indah Margaret Theresia Silitonga (@indahmargaret)

7 Agustus 2015

*Vienna, Austria

Seperti biasa, tumpukan partitur itu melenggang mesra di pelukanku. Aku selalu merasa sangat jatuh cinta setiap aku membacanya. Nada-nada itu, bercerita lebih dalam dari apa yang aku sebut batasan logika. Lebih dalam lagi, mereka merengkuh jiwaku.


“Hh..” Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menghangatkan tanganku yang terkepal dingin sambil menggenggam tumpukan partitur yang seolah bernada magis ini. Dihadapanku, panggung megah itu melenggang elok dengan keklasikannya yang abadi. Anak-anak kecil menari-nari dan bernyanyi indah dalam nuansa Victorian yang terkenal itu. Di ujung kiri sana, puluhan pemusik membangun harmonisasi simfoni lewat setiap ketukan yang indahnya tak bisa kulukiskan lagi.


Dan tiba-tiba saja air mataku tergelincir jatuh.


Dua hari lagi, tempat ini, Wiener Staatsoper akan menjadi saksi kerinduan panjangku yang membuncah hebat di nadiku. Dua hari lagi, disini, aku akan meletup seperti semburan kembang api menara Eiffel di setiap malam tahun baru. Dua hari lagi, aku akan menjadi bintang atas namaku sendiri. Kupandangi sebuah tiket yang berada di barisan paling atas partiturku.


“A Concert: SYMPHONY OF MOZART. Starred by Biru Atianosa Adhinata as Soprano.”


Aku memandangi setiap huruf berukiran tinta emas itu. Terlalu bahagianya perasaanku, sampai aku merasa seperti berada di ambang hidup dan mati. Jantungku berdegup kencang menggelitik adrenalinku. Tanganku dingin lagi. Kupejamkan mataku, menikmati semua ini. Disini, musik masih mengalun penuh romansa memainkan karya-karya yang akan ku nyanyikan nanti.


Ah..rohku terlepas dari ragaku.


“Biru..” Suara Pierre mengatup di telingaku.

Aku membuka mataku, dan menemukan teman bermusikku itu berdiri dihadapanku. Ah..Pierre..masih saja sama. Rambut emasnya, mata cokelatnya, dan tentu saja, senyumnya yang hangat.

“Kau tidak makan siang? Aku sedang kangen ingin makan pasta.” Tanyanya sembari memakai jaket beludru hitamnya.

“Kebetulan. Aku juga belum makan siang. Ayo.” Jawabku ringan.


Kami berjalan keluar dari gedung Wiener Staatsoper, atau sering juga disebut dengan Vienna National Opera. Keluar dari gedung ini, udara teduh kota Vienna langsung menyambut kami dengan manis. Burung-burung kecil beterbangan seolah menggodaku yang sedang berkecamuk bahagia. Sepertinya mereka tahu bahwa alasanku bahagia bukan hanya karena konserku akan digelar dua hari lagi. Namun juga karena siang ini aku sedang berjalan menyusuri jalanan kota Vienna bersama Pierre, penggoda hatiku sejak empat tahun silam. Bagiku, manis sekali rasanya, berjalan di bawah sinar matahari kota Vienna bersama Pierre. Pierre juga sama sepertiku, pecinta musik klasik, dan pengagum karya-karya maestro dunia seperti Mozart, Beethoven, juga Strauss. Pierre adalah seorang campuran. Ketampanannya merupakan harmonisasi eksotisme Paris dan Indonesia. Ya, Ayah Pierre adalah seorang Paris, dan Ibunya adalah seorang Indonesia. Itulah mengapa aku sangat menyukainya. Aku dapat bercerita banyak hal bersamanya. Tentang musik, bahkan hingga negara kelahiranku, Indonesia.

“Bagaimana rasanya?” Tanyanya lembut saat kami melewati patung Johan Strauss di pinggir kota ini.

“Hmm..aku sangat excited. Terlalu bahagia untuk bisa kulukiskan.” Jawabku dengan senyum merekah.

“Akhirnya impianmu benar-benar jadi kenyataan ya. Tidak sia-sia kamu jauh-jauh datang dari Indonesia untuk mendalami musik. Dari awal aku kenal kamu, aku tahu kamu pasti akan bersinar di bidang ini. Bakatmu cemerlang, Biru.” Ucapnya dengan dialeg campuran Paris dan Indonesia.

“Ah Pierre.. Justru aku semakin terinspirasi semenjak mengenalmu.” Jawabku.

“Tapi..setelah ini, apa kamu berniat pulang ke Indonesia?”

Langkahku terhenti saat aku mendengar pertanyaannya. Sebelum aku sempat menjawab, tiba-tiba saja aku melihat anak-anak kecil berlari-lari membawa bendera Austria di tangan mereka. Seolah ini adalah suatu kebetulan juga, warna bendera Austria mirip dengan warna bendera Indonesia. Warnanya merah-putih-merah.


Darahku berdesir. Aku rindu melihat bendera negaraku lagi. Aku rindu melihat merah-putih lagi.


Kenanganku melayang pada masa-masa sekolah dulu. Dulu, aku adalah anggota Paskibra (pasukan pengibar bendera) di sekolahku. Ada rasa bangga dan bahagia setiap aku berbaris membentuk formasi indah sebelum bendera dikibarkan pada saat upacara setiap Senin di sekolah. Aku rela kulitku menghitam karena harus berlatih Paskibra hampir setiap hari di bawah terik matahari. Tiba-tiba saja aku merasa sangat rindu akan tanah airku.

“Biru..?” Pierre membangunkan lamunanku.

“Pierre..aku ingin pulang…” Aku merindu.

***


17 Agustus 2015

*Jakarta, Indonesia

Hari ini jalanan ramai dengan segala ornamen merah-putih. Hampir di setiap tempat, mataku menemukan warna ini lagi dan lagi. Meriah dan bahagia. Itulah kecamuk perasaanku saat ini. Dan luapan ini serasa mau terbang, ketika aku sampai di gerbang sebuah rumah yang sangat familiar bagiku. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini. Masih sama seperti dulu. Bougenville ungu, oranye, atau merah muda; barisan bunga mawar, bunga sepatu, dan beberapa jenis daun-daun hias masih bergelayut cantik disana. Yang berbeda adalah, ada bendera yang berkibar di gerbang rumah ini. Sebuah bendera dengan warna yang sangat familiar di ingatanku. Bendera kebangsaanku, bendera merah putih. Tanganku tak sabar membuka gerbang rumah ini, bergegas mengetuk pintunya yang selalu kucintai selama dua puluh tahun aku dibesarkan disini.

‘tok..tok..tok..

Dan pintu pun terbuka.

“Mama!” Aku histeris dan berhambur memeluk wanita yang berdiri dihadapanku saat ini. Wanita yang telah melahirkanku 24 tahun yang lalu. Wanita yang selalu ada di dalam doaku setiap malam.

“Biruku sayang..kamu pulang nak..” Mama mendekapku erat. Beberapa menit kami terdiam dalam isak.

Sejurus kemudian Papa, dan adikku keluar. Kami terdekap dalam rindu dan peluk. Sampai adikku menyadarkanku dengan sebuah pertanyaan.

“Siapa ini, kak?” Ia memandangi sosok disebelahku, yang hampir kulupakan karena aku terlalu bergelora saat ini.

“Ah..iya, kenalkan ini Pierre…” Kemudian, seutas senyum malu-malu terbingkai di wajahku.



*The End*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!