Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Bendera bernama Sessa

Oleh: Priscila Stevanni (@priscilstevanni)



Halle, Jerman.

Rio menatap gunungan surat di meja apartemennya. Setelah mengambil napas panjang, ia mulai membuka setiap amplop, membaca isinya, lalu melipatnya lagi. Ekspresi wajahnya berubah-ubah pada tiap lembar yang ditelitinya. Setelah ia selesai membaca semuanya, surat-surat itu kini terbagi ke dalam dua kelompok, yang satu lebih banyak dari yang lain.

Rio memandang tumpukan yang lebih tinggi dengan senyum terkembang puas. Sempurna, batinnya. Dengan bersemangat ia mengambil salah satu surat di tumpukan tersebut, menghempaskan diri ke sofa, dan menyusuri setiap kalimat yang tercetak dengan jantung yang berdegup semakin cepat.

“Gue diterima,” bisiknya dengan senyum mengembang. Dari sekian banyak lamaran yang diajukannya ke berbagai universitas, akhirnya ia diterima di tempat impiannya.

“Gue diterima di uni nomor satu di Jerman!” ia meyakinkan dirinya sekali lagi. Ingin rasanya ia berteriak dan melompat kegirangan untuk merayakan keberhasilannya itu. Lalu tiba-tiba nama seseorang terlintas dalam pikirannya. Buru-buru di sambarnya ponselnya dan menekan sederet nomor yang sudah ia hapal luar kepala.

“Halo,” jawab seorang gadis yang dikenalnya.

“Sessa!” Rio tidak dapat menyembunyikan antusiasme dalam suaranya,”Gue diterima! Gue bakal ke Berlin!”

Di ujung sana Sessa berusaha mencerna kata-kata sahabatnya itu. Nampaknya euforia membuat Rio tidak dapat menyampaikan maksudnya dengan jelas. Tak lama kemudian gadis itu tertawa kecil,“Oh, jadi lo diterima di uni yang lo mau? Congrats ya! Udah gue bilang kan? Lo pasti bisa. Be a good doctor then.”

Rio tersenyum mendengarnya. Sessa adalah satu-satunya teman dekat Rio di Jerman yang sama-sama berasal dari Indonesia. “Elo gimana? Dapet uni yang lo mau?”

“Iya,” nadanya terdengar riang, rasanya semua kerja keras selama preparation setahun ini terbayar sudah,”Tadinya gue mau ngabarin lo secepatnya, tapi ternyata lo baru balik dari Indo kemarin”.

Kalimat terakhir Sessa membuat Rio diam. Ia jadi ingat beratnya kembali ke sini setelah pulang tiga minggu ke tanah air.

Rio melirik kalender yang terletak di meja belajarnya. 12 Agustus. Ia membayangkan seperti apa semaraknya Indonesia menjelang hari kemerdekaan. Mendadak ia rindu dengan rumahnya. Ia rindu dekorasi merah putih yang menghiasi setiap sudut kota, ia rindu dengan berbagai perlombaan di sekolah, dan anehnya ia rindu menatap sangsaka merah putih yang membumbung tinggi di tengah hangatnya siraman mentari. Padahal dulu ia benci setengah mati dengan upacara bendera, tapi kini ia malah berharap bisa merasakan lagi pegalnya berdiri di lapangan bersama teman-teman dan teriknya matahari dengan hanya dihalangi sebuah topi.

Aneh. Ia rindu Indonesianya.

*

Tok-tok-tok! Sebuah gedoran keras membangunkan Rio dari lelapnya. Dengan langkah diseret ia bergerak menuju pintu.

“Merdeka!” Seru Sessa disusul dengan senyum playful yang bermain di wajahnya.

Masih terdisorientasi, Rio menatap cewek itu sejenak. Hari itu Sessa mengenakan baju bernuansa merah putih. Melihatnya, barulah ia sadar bahwa hari ini adalah tanggal 17 Agustus.

Rio menaikkan kedua alisnya, hampir meledak dalam tawa. “Elo semangat banget. Kita nggak bakal upacara di sini kan?”

Sessa menggeleng mantap,”Tapi gue orang Indonesia, dan gue pengen ikut ngerayain. Paling nggak hari ini ngingetin gue alasan sebenarnya gue ada di sini.”

Alis Rio bertaut tak mengerti.

“Nunjukin kalau orang Indo nggak kalah sama orang asing. Di sini gue akan berkibar dengan cara gue, dan saat gue balik ke Indo nanti, gue berharap bisa ikut membangun Indonesia dengan apa yang udah gue dapet di sini,” Sessa berkata dengan penuh determinasi, membuat Rio tersenyum simpul.

Memang nggak ada yang bisa mengalahkan semangat empat lima Sessa dalam hal ini, tapi justru karena itulah ia jadi punya semangat untuk berjuang di sini, demi negaranya, tempatnya berpulang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!