Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Merah Putihku

Oleh: @shelly_fw


“Fiona! Fiona! Fiona! Fiona!”
Oh, gemuruh yang melantunkan namaku itu  terdengar begitu jelas hingga satu-satunya yang dapat kulakukan adalah merunduk secara skeptis, setengah tidak memercayai kenyataan dihadapanku ini—gemuruh penonton yang memenuhi studio, jantungku yang terasa mau copot karena berdegup begitu kencang, serta batinku yang berteriak dengan gamblang, “ayo, Fiona. Inilah saatnya.”
Tunggu. Ini belum saatnya. Tentu saja mereka memanggilku karena MC acara National Teen Talent yang kebetulan diselenggarakan di Kota Sydney, Australia ini memang meminta mereka untuk memanggil namaku. Yayaya, sepuluh menit lagi aku memang akan naik ke atas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu kepada mereka semua sekaligus memeriahkan acara live ini namun sesuatu dalam pikiranku membisikkan sebuah kontradiksi yang juga bergaung secara intens.
Mereka begitu jamak, gaungan mereka begitu memenuhi seisi studio ini dan kabarnya panggung ini mempunyai luas seratus dua puluh enam meter hingga membutuhkan lighting yang begitu megah dan tentu saja menghasilkan suara yang nyaring dan membahana bagi siapapun yang berdiri dan menyanyi diatas sana. Tapi bagaimana denganku? Apakah aku dapat menghidupkan suasana megah seperti ini? Apakah tubuhku yang mempunyai tinggi lima kaki tiga inci ini dapat menghasilkan suara nyaring seperti Ashley, Collin, dan George yang juga turut memeriahkan acara ini?
Bunuh aku. Oh, ya ampun. Rasanya aku mau mati saja bahkan—
Aku tertegun. Kucoba untuk menelan ludah, mengamati suatu obyek yang berhasil mengunci pandanganku selama hampir beberapa menit itu. Warna merah dan Putih yang tergambar jelas pada jam tanganku memang sempat membuatku menitikkan air mata hingga aku mendesah sedikit lega kemudian sesuatu dalam pikiranku membawaku ke dimensi lain sesaat setelah aku memejamkan kedua mataku.
Saat itu, aku berumur dua belas tahun dan ibu memintaku untuk membantu ayah menalikan tiang kayu bendera merah putih pada pagar besi rumahku. Awalnya aku menolak, dan bertanya pada Ayah mengapa aku harus mengibarkan bendera itu. Kulihat ayah tersenyum sampai suatu kesejukan dari aliran di matanya membuat kepalaku meneleng sedikit ke kanan, mencoba menyimaknya. Well, aku memang tidak ingat persis kejadian itu sampai akhirnya aku mengerutkan keningku, mencoba dengan keras kata-kata apa yang hampir terlupakan itu. Sulit, memang, mengingat hal itu di saat—
Fiona, it’s your turn. What are you waiting for?” tanya seseorang yang muncul secara tiba-tiba dari tirai hitam yang menutupi backstage ini. Aku menyeringai.
Lucu sekali. Saat aku melangkahkan kakiku menuju panggung melalui anak tangga yang bersinar berkat beberapa lampu lantai yang di-design secantik mungkin aku malah merasa begitu nyaman. Sinar lampu sorot yang sempat membuatku menyipitkan mataku serta alunan biola yang mengalir begitu lembut membuatku merasa begitu ringan, begitu menikmati alunan suara sopranku sendiri sampai-sampai aku memejamkan kedua mataku dan bahkan aku dapat mengusir kontradiksi antara pikiran dan hatiku sehingga mereka berbisik dengan lembut, “panggung ini milikku. Lagu ini milikku dan suara ini milikku. Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk saat ini. Saat ini.”  
Akhirnya, pada saat aku membuka kedua mataku untuk yang kedua kalinya aku tertegun, lagi-lagi karena pemandangan yang kudapati begitu absurd. Mereka mengikutiku.  Sebagian dari mereka mengiringiku bernyanyi dan mereka cukup hafal laguku.
Jadi aku dapat menyanyikan lagu Merah Putih-ku dengan nyaring, 
    
Merah Putihku Satu
Semangat nasionalisku berpadu
Kepatriotanku begitu teguh
Tak pernah pudar ataupun luntur

Merah Putihku Satu
Berkibarlah dengan tangguh
Tunjukkan merahmu
Tunjukkan putihmu

Karena kaulah bendera pusaka kami
Kaulah semangat utama kami
Juga harta berharga kami
Yang lahir dari tangan Ibu Fatmawati

Ya, aku dapat menyanyikan laguku dengan baik. Bersamaan dengan tepuk tangan meriah dari penonton, iringan musik yang masih terdengar dan lampu sorot yang menari-nari, aku teringat kata-kata ayahku itu. “Suatu saat kamu akan bangga dengan Merah Putihmu.”






*terdengar seperti puisi, memang. Anggap saja lagu =)
*sebagian dari mereka’ adalah teman-teman dan keluarga Fiona
*terima kasih Writing Session, karena telah membangkitkan rasa nasionalis dan patriotisme saya =D


130811

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!