Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 25 Agustus 2011

Siapa yang Menyuapiku?

Oleh Hanif Amanati (@hanifaifaa)
 

“La, makan dulu gih!”
 
Aku melirik laki-laki yang sedang duduk di samping ranjangku, dia masih dalam posisi mengulurkan sendok untuk menyuapiku. Aku menghela napas dan kembali mengutak-atik ponselku.
 
“Males, Kak! Bosen tauk makanannya itu mulu. Mending kalau rasanya enak, lah ini tuh nggak ada rasanya,” ujarku tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselku.
 
“Latisha Putri Wiratama, kamu mau membiarkan tanganku terus terulur seperti ini? Kamu tahu,” katanya menggantung. “Pegel tauuukk!” sambungnya kemudian disertai cengiran khas darinya.
 
Aku kemudian menoleh ke arahnya dengan mata berbinar. “Kak, beliin nasi bungkus di depan dong! Beneran deh aku udah males makan menu dari rumah sakit ini, nggak enak. Beliin ya!” rajukku manja.
 
Dia meletakkan sendok yang sedari tadi terulur. “Kamu ini dikasih yang spesial malah milih yang biasa.”
 
“CK! Cobain aja deh, Kak! Itu nggak ada rasanya. Ayolah, beliin ya!” pintaku manja kepadanya. Asal kalian tahu, dia bukan kakakku, tapi. . .seseorang yang istimewa yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku. Dia kakak kelasku, jadi wajar saja jika aku memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’. 
 
”Kak Adit tuh cakep lho, apalagi kalau mau nurutin kemauanku, behhh Kim Bum aja kalah!” aku masih mencoba merayunya. Yah, meskipun sebenarnya rayuanku ini jelas tidak masuk akal.
 
Kak Adit kan orangnya hitam nggak putih seperti Kim Bum. Hei, tapi jangan kalian pikir kalau hitam itu lantas tidak cakep ya, Kak Adit itu hitam tinggi, dia kapten basket di sekolahku, gitaris band, anggota paskibra juga, dan yang jelas dia termasuk cowok most wanted di sekolahku. Lihat saja penampilannya saat ini! Celana jeans kaos biru donker, rambutnya yang agak panjang dibiarkan acak-acakan dan sedikit menutupi matanya, dan yang jelas tatapannya itu loh bikin histeris. Dia memang sederhana, tapi tetap istimewa.
 
“Nggak usah kayak anak kecil!” katanya dingin.
 
Aku mengerucutkan bibir. “Kakak ih!”
 
“Kalau udah sembuh, coba kamu dateng ke perkampungan samping jembatan merah. Di sana, kamu bakalan tahu kalau tidak semua orang bisa makan makanan seperti ini. Beli nasi bungkus sehari sekali aja belum tentu bisa.”
 
Deg! Aku menoleh cepat ke arahnya. Kutemukan mutiara hitam itu menatapku tegas, seolah memberi peringatan kepadaku agar aku selalu bersyukur dengan apa yang aku dapat.
 
“Ya udah deh iya!” aku akhirnya mengalah.
 
“Nah gitu dong!” katanya sambil mengacak pelan rambutku. Aku tambah manyun. Dia lantas menyuapkan sesendok nasi lengkap dengan potongan telur mata sapi itu padaku.
 
“Kak, katanya mau sahur on the road?” tanyaku di sela-sela mengunyah makanan. Dia tadi malam bilang padaku bahwa subuh ini dia mengikuti kegiatan sahur on the road. Tapi entahlah, tiba-tiba dia ada di sampingku sekarang, dan ini kali pertama aku sahur bersamanya.
 
Dia tidak menjawab, hanya menyungginggkan sesimpul senyum. “Hari ini kamu belum puasa kan?”
 
Aku menggeleng sambil menerima suapan kedua darinya. “Ambilin remote dong, Kak!”
 
Dia meraih remote tv yang tergeletak di atas meja dan memberikannya padaku. Begitu aku menyalakan televisi yang tergantung tepat di depan ranjangku, layar itu menampilkan gambar orang-orang yang sedang berkerumun di jalanan. Breaking News. Dikabarkan bahwa dua siswa meninggal akibat kecelakaan. . .
 
Klik!
 
“Loh, kok dimatiin sih, Kak?” protesku.
 
“Makannya diselesein dulu!” katanya datar.
 
“Aneh!” pikirku.
 
Setelah menyuapkan suapan ketiga dia terdiam sambil menatap jendela kamar, menerawang. “La, ada hal yang aku inginkan jika aku meninggal nanti. Aku ingin dikenang,” ujarnya.
 
“Yee, aku juga kali, Kak! Dan sepertinya semua orang juga ingin dikenang.”
 
Dia lantas menatapku lembut. “Kalau aku meninggal, apa yang akan kamu kenang dariku?” tanyanya.
 
“Apaan sih, Kak, aneh deh!”
 
“Jawab dong!” pintanya.
 
“Begitu banyak hal yang akan aku kenang darimu, Kak! Tapi satu yang perlu kau tahu, aku akan mengenangmu sebagai orang yang pernah memenangkan hatiku.”
 
Aku lantas tersenyum kepadanya. Dia pun menatapku dalam dan tersenyum. Tulus.
***
La yang jelek, bawel, manja, dan nyebelin. . .
Happy 2nd anniv ya! Semoga La makin sayang sama Kak Adit yang cakep ini, haha
 
Aku duduk di samping pusara Kak Adit sambil menggenggam kartu ucapan darinya untuk perayaan hari jadi kami yang kedua. Ya, Kak Adit meninggal dalam kecelakaan saat ia mengikuti acara sahur on the road pagi itu. Pagi dimana untuk pertama kalinya aku makan sahur bersamanya. Dan sekaligus yang terakhir.
 
“Kak Adit,” kataku lirih. “Tanyakan padaku sekali lagi, Kak, apa yang akan aku kenang darimu! Ayo tanyakan, Kak!” Kurasakan pandanganku mengabur karena tertutup gumpalan air mata yang memenuhi pelupuk mataku. Aku yakin, air mata ini akan luruh dalam sekali kedip.
 
“Kak, aku akan selalu mengenang makan sahur pagi itu. Makan sahur pertama dan terakhir kita,” kataku dengan tulus, meskipun saat itu ada tanya besar yang belum terjawab. Jika dia meninggal saat sahur on the road pagi itu, lantas siapa yang menyuapiku?
 
-END-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!