Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 23 Agustus 2011

Pada Tanda Seru‏

Oleh: @ydiwidya

widyarifianti.tumblr.com

“Ak…Ak…Ak…”Sekeras apapun aku bersuara, tetap saja tak ada yang mendengar.

“Ak…Ak…Aku…”Kini aku telah berhasil menggenapi satu kata, tapi percuma saja…tak ada maknanya. Orang-orang yang kuharapkan untuk mendengarku meninggalkanku begitu saja.

“Akkkuuu…Say…”Hampir dua kata kugenapi dan ia masih menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya.

***

Oke, aku tak tahu pasti sejak kapan aku gagap. Yang pasti, menjadi gagap itu tidak menyenangkan. Jangan tanya bagaimana rasa kesal yang kuhadapi ketika orang-orang yang mendengarku mencemoohku dan menirukan gaya berbicaraku dengan gaya yang menyedihkan. Itu semua tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa kesalku pada mantan Ayah tiriku.

Ya, dialah yang membuatku menjadi seperti ini.

Dialah yang menasihatiku dengan lecutan. Dialah yang melarangku dengan tamparan.

Dialah yang menghukumku dengan jambakan. Dialah yang menjawab tanyaku dengan seruan panjang yang membuat hatiku mencelos. Meluluhlantakkan kata-kata yang sudah bertengger di ujung lidah.

Apa yang salah?

Apa yang salah sampai-sampai pertanyaan yang disampaikan dengan rendah hati dijawab dengan kata-kata bertanda seru lebih dari empat buah?

Apa yang salah…?

***

“Akku…Say-yaang…” Ah, aku putus asa. Meskipun sudah kugenapi dua kata itu. Aku tetap tak bisa merubah apapun. Dan tak bisa menggugah siapapun.

“Aku juga sayang…kamu…”lamat-lamat kudengar ia menjawab.Aku lega setengah mati. Pernyataan yang belum sempat kugenapi, dijawabnya dengan lembut.

Rana, adik tiriku. Dia memang selalu berusaha untuk mengerti aku.

“Kammuu… gg-gg-gak takkut. D-d-dimarrrah…hin… Aaa-yah?”tanyaku.

“Apa yang salah dengan menyayangimu?”jawabnya dengan pertanyaan lagi. Aku merasa tersanjung. Jarang sekali aku mendengar jawaban tanpa embel-embel tanda seru.

“SALAH! JELAS SALAH!”teriak sebuah suara yang mengagetkanku itu. Badanku melemas. Akhirnya kudengar juga teriakan yang terdengar asing tapi familiar itu. Teriakan yang sudah tidak kudengar lagi semenjak sebelas tahun silam. Sosoknya kini mulai menengahi kami. Menengahi aku dan Rana yang tengah duduk berdua di beranda rumahnya…Rumah mantan ayah tiriku.

“BERANI-BERANINYA KAMU DEKATI ANAK SAYA!!”kini lelaki ganas itu mencekal tangan Rana dengan satu tangan. Aku prihatin atas itu, melihat Rana berdiri ketakutan dalam genggaman Ayahnya. Rana, mantan adik tiriku ini…ternyata sama denganku. Sama-sama takut dengan lelaki pelolong itu.

“PERGI KAMU! KAMU DAN IBU SIALANMU TAK PANTAS MENGINJAK RUMAH INI LAGI!!”teriakannya membelah langit. Menggetarkan seluruh rongga jiwaku. Aku berlari tunggang langgang, meninggalkan Rana dalam ancaman. Ya aku tahu, aku memang pengecut. Aku, dari dulu sampai sekarang, masih takut padanya. Pada tanda seru yang selalu menjadi embel-embel dari setiap pertanyaan maupun pernyataannya. Pada tanda seru yang mengancam. Pada tanda seru yang menjawab segala tanda tanyaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!