Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 03 Agustus 2011

Pencuri Hari Ulang Tahun



Oleh: @dhanarun

Aku bisa mendengar bagaimana jam itu berdetak tanpa suara. Detik demi detik berlalu meninggalkan semua yang telah berlalu menjadi masa lalu. Ini masih jam 10 malam di hari rabu. Masih tersisa sekitar dua jam lagi menuju hari ulang tahunku besok. Tapi aku merasa ulang tahunku sudah berlalu kemaren lusa dan itu adalah hari ulang tahun paling menyedihkan yang pernah aku alami.
Well, seperti yang ku jelaskan diatas, ulang tahunku sebenarnya hari kamis besok. Lalu siapa yang berulang tahun di hari senin kemaren? Oh itu ulang tahunnya Dira, teman sekelasku sekaligus . . hm, pacarku. Ulang tahunnya tepat sekali dengan dimulainya ujian semester untuk para mahasiswa tingkat dua.
 
“Kamu mau apa buat ulang tahun?” itu pertanyaan yang ku lemparkan pada hari senin yang lalu-lalu.
“Nothing” tanpa diam sejenak atau menerawang memikirkan suatu benda, dia langsung menjawabnya dengan singkat.
“Seriusan?” aku bertanya lagi dengan penuh harap. Aku ingin jadi seorang pacar yang sempurna yang membuat ulang tahun dia terasa sesempurna mungkin.
“Emang kalo aku minta Ferrari, kamu mau ngasih?” disaat yang cukup serius seperti ini, dia malah bercanda
“Um, ng-ngg-nggak juga sih . .” aku menjawabnya ragu. Apa betul dia mau benda itu? Dia bukan tipe cowok yang suka barang mewah.
“ Nah kan, nggak usah ngasih kado segala. Nggak kan ada yang inget koq sama ultah aku”
“Aku inget koq” jawabku cepat “Dari sebelum kita jadian, aku udah nyari tau ultah kamu di Facebook dan nggak nyangka Cuma beda beberapa hari gitu sama ultah aku”
“ Oh ya?” aku mengangguk dengan semangat “ Kalo gitu kamu mau apa buat ultah nanti?”
“ Kalo aku ngomong aku mau Eiffel tower, emang kamu mau ngasih?” aku menantangnya balik.
“ Hmm, mau lah”
That’s it! Itu yang bikin aku jatuh cinta sama dia. Dia begitu pintar bikin mood aku seneng. Rada gombal sih, tapi tak apalah.
 
Tengah malam tinggal setengah jam lagi. Aku tak mau berharap tapi tetap saja mataku tertuju pada hpku di ujung meja sana. Apa dia masih sudi buat nelpon aku, jadi orang pertama yang ngucapin ulang tahun buat aku sementara aku sendiri bukan orang pertama yang ngucapin ke dia? Aku merasa tak pantas mendapatkan telepon itu tapi hati ini terkait oleh pengharapan yang sangat besar.
Dia nggak mungkin rela bergadang demi aku ditengah rasa kesalnya sama aku. Betapa kesalnya dia sampai dikelaspun dia tak menegur aku. Raut mukanya yang dingin dan datar jadi pemandanganku dari pagi hingga sore.
“Kamu ngasih apa buat Dira?” Tanya teman disebelah
“ Hmm . .” sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah kado. Bukan Ferrari seperti yang dia minta. Hanya sepotong polo shirt hitam. Karena aku suka saat dia mengenakan warna hitam, terlihat lebih . . ganteng dan aku ingin menghentikan ocehan Puri, the queen bee yang mengomentari kemeja biru dia yang bisa eksis tiga hari dalam seminggu.
Aku ingin yang terbaik buat dia, tapi aku nggak mau ngelukain ego dia juga. Akhirnya polo shirt itu tersimpan di dasar lemariku sampai sekarang. Melihatnya begitu menyakitkan.
“Dia nggak mau dikasih kado katanya” jawabku sambil mencoba tersenyum.
“ Oooh . .” Autum mengangguk “ Tapi kamu nelpon dia pas jam 12 teng, kan?”
Perutku sakit bukan main mendengar hal itu. Sebagai orang yang sudah tau ulang tahunya dari dua semester yang lalu, aku malah ketiduran disaat seharusnya nelpon dia dan jadi orang pertama yang ngucapin. Padahal alarm sudah dipasang tapi ketika aku bangun, yang kulihat adalah jam tiga pagi.
Aku berusaha mengetik sms dengan susah payah. Tak disangka dia membalasnya dengan cepat. Saat kutanya ‘koq bisa blsnya cepet? Gak tidur kah?’ dia menjawab ‘Nggak, tadi abis ada yg nelpon’.
Aku pengen mati rasanya.
Dan hari senin itu adalah hari terpanjang yang pernah aku alami.
 
Bentar. Jam berapa ini? Aku malah ketiduran saking sedihnya mengingat hari senin itu. Udah jam satu pagi sekarang. Dengan kepala yang masih berputar-putar, aku bangun dan meraih hp di meja belajarku. Ada 10 pesan baru yang masuk. Pertama dari teman baikku di SMP lalu yang kedua adalah . . Dira!
‘Selamat ulang tahun, Alana . .
Maaf aku nggak bisa nemenin kamu hari ini.
Ada acara keluarga dan aku harus balik ke rumah’
Sedih tapi aku merasa pantas mendapatkan semua itu. Aku terlalu egois ingin mendapatkan semua yang sempurna di hari ulang tahunku ini. Terlalu egois tanpa menyadari ada orang lain yang juga berulang tahun di luar sana.
Aku terlalu sedih untuk membaca sms lainnya. Ku baringkan badanku lagi dan terlelap dengan segera.
 
Jam tujuh pagi di hari kamis, hari ulang tahunku. Mama mengetuk kamarku dan berteriak kalo ada seseorang didepan sana yang mencariku. Dia bilang itu Dira.
“ Bohong!” aku terteriak dengan suara yang masih serak. Mama aku terlalu sibuk untuk mendengar teriakanku.
Ku paksakan bangun dan turun ke bawah, berjalan dengan lemas menuju ruang tamu. Dan benar saja, sudah ada cowok yang sibuk menyalakan dua buah lilin diatas kue black forest.
“ Dira?” Dira terlihat sama kagetnya dengan aku “ Tapi kan kamu, kamu harusnya . . kenapa . . disini dan itu kue . . “
Dia bangkit dan tersenyum. Senyumnya begitu tulus sehingga aku merasa makin bersalah dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku masih tak mau percaya dengan apa yang ada dihadapanku sekarang “ Aku udah nyuri hari ulang tahun kamu, aku udah ancurin sampe . .”
“ Itu ulang tahun aku. Sedangkan ini hari ulang tahun kamu. Aku mau yang sesempurna dan sebaik mungkin buat kamu”
“  Tapi kan . . .”
“ Udah, lupain aja hari senin itu” dia mengibaskan tangannya seakan itu hanya masalah kecil “ Selamat ulang tahun, Alana . .”
Aku, Alana,  telah mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dari seseorang yang begitu hebat. Tak perlu bersikap buruk untuk membalas perbuatan buruk seseorang. Rasanya hati ini tak hentinya bersyukur mempunyai Dira sebagai pacar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!