Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 07 Agustus 2011

Si Lelaki Bodoh

Oleh: @rezanufa‏

Pada malam hening itu, terjadi pertengkaran di YM.
Gadis kecil: Aku gak suka kamu. Kamu cerewet!
Lelaki bodoh: Maaf... Aku cerewet juga buat kebaikan kamu... Dan cerewetku itu juga ga cuma omongan kosong tanpa makna, kan?"
Gadis kecil: Aku masih muda, belum waktunya serius-serius kayak kamu. Jadi, kalau kamu mau serius, pergi sana, jangan ganggu aku! Masalahku udah banyak. Dan kamu cuma nambahin kesel aja! Ga pernah bikin aku ketawa!!!"
Lelaki bodoh: :(
Di balik gelisah, aksara tanpa mimik menyajikan peluang salah paham antara keduanya. Si lelaki bodoh itu memukul dadanya yang mulai terasa sesak. Rasa bersalah menghimpit kencang, bahkan hingga napasnya berat, hendak diajak mati oleh penyesalan. Penyesalan atas kekeliruannya dalam mencintai.
Gadis kecil: Kita gak cocok!
Lelaki bodoh: Apa selama ini aku gak pernah bikin kamu bener-bener ketawa? :(
Gadis kecil: :-/
Lelaki bodoh: Oke. Aku memang salah karena sering cerewet. Banyak ganggu kamu. Tapi, kamu juga kadang nyebelin. Dan kamu bahkangak pernah sekali pun minta maaf. Aku gak berharap maaf darimu, tapi, kebodohan ini seakan mutlak milikku... Ah, aku memang salah. Maaf...
Gadis kecil: Terserah.
Lelaki bodoh: Hmmm...
Gadis kecil: Kita impas. Sama-sama nyebelin. Ada lagi?
Lelaki bodoh: Kalau gitu senyum dong. Anggap aja kita mulai sesuatu yang baru. Aku janji akan merubah diri.
Gadis kecil: :-?
Lelaki bodoh: Hmmm... Aku tahu kamu masih kesel. Yaudah deh, aku udah beneran gak kuat buat ngobrol. Kita lanjut di kesempatan yang lebih baik dari ini...
Matanya tidak meneteskan air mata, tapi dadanya hampir saja pecah menumpahkan sesal. Bukan saja sesal, bahkan sudah menjadi kehilangan. Kesakitan. Kesendirian lagi. Dadanya makin sesak, tangannya bergetar, bahkan untuk menekan papan tombol saja kesulitan.
Gadis kecil: :-/
Lelaki bodoh: Selamat malam. Semoga besok kita masih berteman. Aku tahu kamu bosan, ingin sudahan, tapi aku mohon,  jangan sampai kita berubah jadi musuh.
Gadis kecil: Terserah.
Lelaki bodoh: Hmmm... Kamu sudah benar-benar gak peduli. Aku mati sekarang pun kamu pasti gak peduli...
Gadis kecil: -__-
Gadis kecil: AKU TUH KESEL BANGET SAMA KAMU! PENGEN NAMPAR KAMU!
Gadis kecil: *lega*
Lelaki bodoh: Syukurlah kalau lega. Nanti kalau udah ketemu lagi, tampar aja. Aku rela. :)
Si lelaki bodoh sudah merasa tidak ada lagi yang bisa dia tawarkan, agar gadis kecil itu mau menjadi baik lagi. Bahkan sudah sampai pada titik dia merelakan mahkota lelakinya diluluhlantakkan, si gadis masih enggan memperbaiki hatinya.
Keesokan harinya, lelaki bodoh kembali menyapa si gadis di YM.
Lelaki bodoh: Hai.. Selamat malam. :)
Lelaki bodoh: Lagi apa?
Gadis kecil: Malam.
Gadis kecil: Lagi chat. Kenapa?
Lelaki bodoh: Gak apa-apa.. nanya aja.. itu pun kalau boleh...
Gadis kecil: Gak ada yang ngelarang.
Lelaki bodoh: Oooh..
Gadis kecil: :-?
Lelaki bodoh: Yaudah, lanjut deh chatnya. Aku cuma nyapa aja kok. :)
Gadis kecil: ok
Lelaki bodoh itu pun menyadari, bahwa memang sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Gadisnya sudah benar-benar tak peduli lagi. Dengan perasaan cinta yang masih sangat besar, dia kemudian merajut kata-kata penutup.
Lelaki bodoh: Hal yang aku akui; memang aku ini si lelaki bodoh. Hal yang harus kamu akui; aku ini bukan si ingkar janji. Aku juga bukan si bajingan. Aku juga bukan si penipu perasaan. Semua kesalahanku selama ini, karena aku masih bodoh. Namun kebodohan tidak akan selamanya.. aku yakin aku akan jadi pintar, bahkan bisa membaca hatimu.. Sayangnya kesempatan itu tidak akan pernah datang lagi, sejak malam ini... kita pupus.
Dan si lelaki bodoh tidak pernah tahu, apakah gadis kecil itu menangis membacanya? Ataukah gadisnya itu tak tergerak sedikit pun? Atau justru dia tertawa lega karena terbebas darinya?
***
Burung gagak hitam kelaparan di loteng gereja
Tikus kurus sembunyi di tangga-tangga kayu masjid tua
Aku bersujud tanpa kata, harap noda terlepas saja biar lega
Dan gadisku menengadah penuh nada, pun dengan segala warna nan ceria

Salahku, memberi madu pada ulat yang belum jadi kupu-kupu
Dan nanti, ketika dia  menjadi kupu-kupu, maduku sudah habis tertumpah pada bilah belati
Lalu, dia tetap mengejar madu itu, dia kehausan, kupu-kupuku kehausan..
Dia meminum madu itu tanpa takut ditebas, tanpa cemas akan terjerat penderitaanku pada manisnya

Sudahlah...
Biarlah aku mati
Hatiku sudah dimakan tikus, dan tengkorakku terlanjur dilubangi gagak peragu..

Reza Nufa.
Minggu, 07 Agustus 2011.

1 komentar:

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!