Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 06 Mei 2011

Hujan pun Menangis

Oleh: lightsfromwithin



Hujan.
Hujan yang turun membasahi bumi. Gemericik bunyi air yang jatuh
menimpa tanah, menyerang bebatuan dan rerumputan tiada henti,
mengucurkan tangisan dari gemuruh awan nun jauh di atas sana. Petir
dan kilat yang berlomba menunjukkan kekuatan, dan angin yang berhembus
melantunkan melodi kepedihan.
Retak bebatuan, lumut yang beranak-cucu di sela-selanya. Tanda
kerapuhan yang mulai menggerogoti sosok yang kokoh itu.
Ketika tangisan langit jatuh mengguyur bumi perkotaan, ketika semua
motor menepi dan semua mobil memelankan kecepatannya. Ketika semua
orang berteduh dan menatap langit seolah memohon ampun. Juga kepada
awan mendung yang menghalau kebiruan angkasa.
Sebuah batu berdiri menjulang, melupakan identitas dirinya. Sudah lama
sekali semenjak terakhir kali dia diperhatikan orang. Sudah lama
semenjak terakhir dia dikunjungi oleh manusia. Terlupakan, terabaikan,
dan tenggelam dalam arus waktu.
Sebuah ukiran nama yang tertera di tubuhnya, ditato tiada ampun tanpa
mengetahui sang batu mengaduh kesakitan dalam prosesnya. Ukiran nama
tersebut sudah lama tidak dilirik oleh siapapun.
Tidak ada sang istri yang datang membawakan bunga.
Tidak ada sang anak yang menangis tersedu-sedu.
Tidak ada sanak saudara yang menatap penuh rasa prihatin.
Ya, ‘dilupakan’ mungkin merupakan salah satu perasaan paling
mengerikan di dunia. Ketika kau merasa seperti batu itu, sendirian di
tengah hujan. Sendiri, tanpa seseorang untuk memayungimu, juga tanpa
wajah-wajah familiar yang tersenyum—atau bahkan menangis—di hadapanmu.
Ditiup hembusan angin yang dingin, didera terik matahari saat musim
kemarau. Ditampar debu dan asap, diabaikan puluhan, ratusan kendaraan
yang lewat. Terendam dalam gelombang pasang, dicekik oleh sulur
tanaman yang tak kunjung dipangkas.
Batu itu terus berdiri kokoh.
Layaknya tugu yang tidak boleh melupakan tujuannya didirikan, batu
tersebut masih berdiri hingga kini. Meski pincang dia berdiri karena
lumpuh kakinya. Meski harus direlakan tubuhnya dijadikan tempat
berlindung makhluk-makhluk kecil lainnya. Meski setiap hari, dia hanya
diperbolehkan melihat pemandangan yang sama.
Rerumputan yang tumbuh dengan ganas, mengamuk dan mencabik-cabik
sepetak bunga yang ditanam penuh kasih sayang bertahun-tahun lalu.
Merusak keindahan dari sebuah lahan tempat pesan perpisahan terakhir
disampaikan.
Jalanan yang semakin hari semakin menyempit. Roboh pinggirannya karena
air hujan yang melumatkan. Retak tubuhnya karena truk gandeng yang
selalu lewat tanpa pernah mengurangi beban mereka.
Genangan air yang selalu terisi, tak pernah menguap kering sampai
hujan berikutnya datang. Tak pernah terlihat habis meski matahari
membuat rerumputan di sekelilingnya menguning dan mati; terlalu rapuh
untuk disentuh.
Batu itu masih berdiri. Dan tidak ada yang mengingat dirinya.
Meski letaknya begitu dekat dengan pusat kota, dimana ribuan suara
langkah kaki menggema. Meski dirinya hanya sedikit tersembunyi di
balik tikungan menuju jalanan rusak tak terurus.
Batu itu tetap berada di sana. Dari saat kamu masih kecil. Sampai saat
anakmu lahir, dan cucumu dikandung. Batu itu tetap ada di sana, tidak
pernah melupakan tugasnya barang sedetik pun. Oh, sungguh malang
nasibnya!
Tidakkah ada seseorang yang mau datang kepadanya saat musim terik
melanda? Menyiramkan barang seciduk air, boleh air bersih ataupun air
selokan kepadanya? Memandikan tubuhnya yang sudah penuh debu dan
kotoran?
Tidakkah ada yang mau memayunginya saat hujan? Atau menyampirkan jas
hujan untuk menghalau butiran-butiran air? Tidak adakah yang mau
menemaninya di sore hari? Meminum secangkir teh panas dan menikmati
momen-momen terakhir sang surya bersamanya?
Tidakkah ada yang mau memperhatikannya? Meliriknya barang sekali saja
ketika lewat?
Tidakkah ada yang mau mengingat dirinya? Meskipun nama yang terukir di
tubuhnya sudah kabur dan tak terbaca? Meskipun tidak ada sanak saudara
yang masih hidup untuk memastikan perawatannya? Meskipun dirinya
tersembunyi di antara bebatuan lain yang lebih kecil, namun banyak
jumlahnya?
Tidak, tidak ada.
Begitulah dijalani oleh batu tersebut selama bertahun-tahun.
Sungguh berat. Berat dan menyedihkan nasibnya! Malang sekali, namun
tidak sepatah kata penyesalan terucap darinya. Tidak ada keluhan yang
terlolos dari dirinya. Batu yang sama yang terus menaungi, Batu yang
sama yang telah dilupakan itu!
Sayup-sayup terdengar suara biola. Suara merdu yang bergerak menembus
rinai hujan, menghantarkan melodi kepedihan lagu yang dimainkannya
menuju siapapun yang mendengar. Suara tersebut datang tak jauh dari
sana, dari balik pintu kaca menuju toko alat-alat musik yang sudah
hampir gulung tikar.
Siapapun yang memainkan biola itu, pasti sedang bersedih.
Melodi yang dimainkannya begitu menyayat hati, menggoreskan dan
membuka kembali semua luka-luka yang sudah lama ingin bersembunyi.
Sang batu mendengarnya. Dirinya menegang sesaat, mengenali melodi yang
sedang dimainkan itu. Melodi yang sama pernah dimainkan di hadapannya
seratus empat puluh tahun yang lalu. Persis di bawah tirai hujan yang
berkibar, ditemani oleh orkestra petir dan gemuruh yang
sahut-menyahut.
Sang batu mengetahui melodi itu.
Seketika, dia menangis. Teringat akan siapa yang dikuburkan tepat di
bawah tubuhnya. Teringat akan keluarganya yang selalu datang
mengunjungi setiap tahun, membawakan bunga dan menyiramnya dengan air.
Teringat akan sang istri, yang menyiraminya dengan air bersih setiap
panas terik menyerang raganya yang semakin rapuh. Juga kepada anak
perempuan kecil yang selalu memayunginya saat hujan, menemaninya
dengan secangkir susu panas di musim yang dingin.
Sang batu teringat akan orang-orang yang melewatinya, menggunakan
sepeda, motor, atau kendaraan beroda empat.
Sang batu ingat betapa mereka semua akan menoleh kepadanya,
melambaikan tangan atau menunjuk-nunjuk dirinya dengan raut wajah
penasaran. Sang batu ingat akan betapa dirinya ingin balas melambai,
seandainya dia mempunyai tangan.
Melodi kepedihan itu selesai dimainkan.
Dan batu itu pun selesai melaksanakan tugasnya, menyerahkan raganya
yang sudah rapuh untuk dimakan gravitasi. Permohonan maaf kecil
terselip di akhir hidupnya, ‘maaf tak bisa menaungi lebih lama’
katanya.
Hujan pun menangis, dan melodi kepedihan kembali dilantunkan.





inspired by the song "Requiem of Birth"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!