Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 24 Maret 2011

Harapan ke-10 Vira


By.Riezky Oktorawaty (@riezkylibra80)

            Sobekan kertas usang itu menggangguku. Kertas bercorak yang terjepit di mesin kotak musik. Akupun terpaksa merusak kotak musik ditanganku ini agar kertas usang itu bisa aku keluarkan. Kotak musik milik Vira saudara kembarku. Aku buka sobekan kertas itu dan hanya ada angka 10 dan huruf N, S, Y yang terbaca oleh ku. Tulisan apa yah?
            Hari ini, Vira saudara kembarku, telah pergi meninggalkan aku karena penyakit ginjal – ginjal akut. Sedari kecil, Vira memang terlahir lemah. Ia juga sangat pendiam, walaupun kita kembar, kita tidak terlalu dekat. Ya, mungkin karena Vira lebih sering bolak balik ke rumah sakit untuk berobat, sedangkan aku yang terlahir sehat benar-benar menikmati masa-masa mudaku. Terkadang aku iri pada Vira, karena Mama dan Papa lebih perhatian kepada Vira ketimbang ke aku.
            Seharusnya hari ini adalah hari bahagiaku, dan tentunya Vira pun ikut berbahagia walau harus tinggal di Rumah Sakit, ya, hari ini adalah hari pernikahanku dengan Yuan – teman kecilku. Aku dan Yuan berteman sejak umur kita 10 tahun. Masih teringat hari kepindahan keluargaku ke kota ini, semuanya demi Vira, Ia butuh kota yang tenang untuk pengobatan. Rumah Yuan ada di depan rumah ku, dan kita berteman sejak itu.
            Sempat tak percaya saat Yuan melamarku setahun yang lalu. Kedekatanku dengan Yuan yang hanya sebatas teman, ternyata membuat Yuan mengartikan lebih. Tapi aku menyukai kedekatan ini, mungkin nggak ada lelaki lain yang dekat denganku selain Yuan, sehingga aku menganggap Yuan lah lelaki terbaik, aku juga sayang sama Yuan. Kita selalu bersekolah di sekolah yang sama, sampai kuliah pun kita mengambil jurusan yang sama.
            Hari pernikahanku berubah menjadi duka. Mama dan Papa menangis di samping jenazah Vira, aku hanya diam terpaku, lagi-lagi semua karena Vira. Tak ada setetes air mata pun yang keluar dari sudut mataku. Pasti dalam hati para pelayat menganggap aku sangat tegar, padahal tidak. Ya, di hari meninggalnya Vira, aku pun tetap membenci Vira.
******
            Seminggu setelah hari meninggalnya Vira, Mama masih saja bersedih, bahkan setiap hari Mama ditemani Papa selalu mengunjungi makam Vira. Sepeninggal Vira pun perhatian Mama dan Papa nggak berubah, hanya Vira yang diperhatikan, bukan aku.
            Saat aku membersihkan kamar Vira – inipun karena Mama yang minta padaku, aku menemukan kotak musik. Sepertinya rusak, karena tuas pemutarnya patah. Aku buka kotak musik itu, ada sobekan kertas terjepit di antara mesin kotak musik. Aku pun merusak kotak musik itu, sampai akhirnya sobekan kertas itu ada di tanganku. Hanya ada angka 10 dan huruf N, S, Y. Aku tidak bisa membaca tulisan ini secara lengkap karena sepertinya kertas ini bekas di sobek-sobek kasar.
            Panggilan Mama dari ruang tamu mengagetkanku, “Vina…”
            “Iya Ma, Vina ada di kamar Vira,” jawabku.
            “Wah, sudah agak lumayan, kamar ini baru seminggu di tinggal, tapi bau debu nya bikin Mama alergi,” kata Mama sambil memelukku mengucapkan terima kasih padaku.
            “O, iya Vin, Vira ninggalin buku hariannya buat kamu,” kata Mama sembari meninggalkanku dan menuju kamarnya mengambil buku harian Vira yang dititipkan ke Mama dua hari sebelum Vira meninggal.
            Buku harian Vira sekarang ada di tanganku, buku harian berwarna merah usang. Aku sepertinya mengenali buku harian ini dan juga corak kertas nya. Aku sedikit gemetar, apa yang ingin Vira sampaikan kepadaku yah?
            Halaman demi halaman aku baca, dan aku nggak menyangka, kalau Vira justru iri sama aku, karena aku bebas bermain sedangkan Ia tidak. Tiba-tiba aku terpaku pada satu halaman, 10 Harapanku, halaman yang berisi harapan Vira dan berharap terkabul di hari ulang tahunnya – ulang tahun kita.
  1. Di umur 11 tahun aku ingin bisa naik sepeda.
  2. Di umur 12 tahun aku ingin pakai seragam SMP.
  3. Di umur 13 tahun aku ingin merasakan Haid pertamaku.
  4.  Di umur 14 tahun aku ingin jalan-jalan ke Bali.
  5. Di umur 15 tahun aku ingin memakai seragam abu-abu.
  6. Di umur 16 tahun aku ingin rambutku panjang seperti model iklan shampo.
  7. Di umur 17 tahun aku ingin merayakan Sweet Seventeen ku bersama teman-teman di rumah, bukan di rumah sakit.
  8. Di umur 18 tahun aku ingin merasakan ospek dan kuliah.
  9. Di umur 19 tahun aku ingin sembuh dari penyakitku.
Tunggu Harapan yang ke-10 kok nggak ada yah?
******
            Aku membanting pintu kamar Vira. Hari ini aku bertengkar lagi sama Vira. Yuan punya aku, Vira sudah ambil Mama dan Papa.
            “Vin, aku punya 10 Harapan, tiap tahun mulai tahun depan, di hari ulang tahun kita, aku berharap, satu harapanku terkabul,” kata Vira seraya menunjukkan buku hariannya di ulang tahun kita yang ke-10.
            Aku pun membaca 10 Harapan yang Vira tulis di buku harian itu, dan di saat aku membaca harapan ke-10, aku marah,
  1. Di umur 20 tahun aku ingin Nikah Sama Yuan.
Aku pun spontan menyobek tulisan Harapan ke-10 itu. Aku tidak mau Vira merebut Yuan dariku, cukup Mama dan Papa saja yang dia rebut, tidak dengan Yuan ku.
******
            Aku gemetar membaca sobekan kertas usang ini, rupanya ini adalah sebagian kertas tulisan 10 harapan Vira, yang aku sobek 10 tahun lalu. Dan ternyata Vina menyembunyikan sobekan kertas itu di kotak musik pemberian Yuan di ulang tahun kita yang ke-10. Saat itu lah, Vina tlah jatuh cinta pada Yuan.
            Selamat ulang tahun yang ke-10 Vina, dengarkan kotak musik ini, agar harapanmu terkabul. (Yuan)
 Kartu ucapan ulang tahun dari Yuan untuk Vina pun ada di buku harian ini.
            Mama mendekatiku, sambil memelukku, mama pun minta maaf karena tak pernah ada waktu buatku, semua Mama lakukan karena Mama menganggap aku bisa mengurus diri sendiri, tidak dengan Vira. Dan aku baru tahu, karena kita terlahir kembar, Vira hanya mempunyai 1 ginjal, karena ginjal yang satu nya rusak sedari dalam kandungan. Dokter pun mengatakan, umur Vira nggak akan lama, dan ternyata benar.
            Aku sangat menyesal telah membenci Vira selama ini. Seharusnya aku bersyukur, aku terlahir sehat tidak seperti Vira. Aku menangis dalam pelukan Mama sembari memeluk buku harian dan kotak musik milik Vira.





4 komentar:

  1. sedih2 gimana gitu bacanya :') "dalem" ya ceritanya...
    btw, mungkin penggunaan kata 'akut' kurang tepat. 'akut' untuk penyakit dalam KBI artinya "timbul secara mendadak dan cepat memburuk" sedangkan Vira sudah sakit sejak kecil ya?

    salam :)

    BalasHapus
  2. wah.. baru baca komennya... :D
    makasih dianggap BOTN walau bukan hehehe

    iya neh, pengganti kata akut apa yah.. sakit sedari kecil..

    masih banyak belajar

    BalasHapus
  3. Kiki Avicenna28 Maret 2011 20.39

    nice story.

    aku coba jawab ya... sakit dari kecil... mmm mungkin kronis. kalau bawaan lahir jadi kongenital.

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!