Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 08 Maret 2011

Ksatria Penyelamat

Oleh: @geeshaa



Nera. 22.45. Kampus. Hari ini.

Ah, ya ampun, sudah jam segini saja.

Inilah kan, beres rapat himpunan selalu beres malam. Bahkan, ini sebetulnya yang paling ‘pagi’. Rapat proker kemarin bahkan sampai jam 12 malam.

Aku menghembuskan napas panjang, dan aku bisa melihat uap mengepul di sekitar hidungku. Ya, mala mini begitu dingin, dan aku harus pulang sendiri hari ini. Bukan karena teman-temanku tidak mau mengantarku, tapi merek sudah ada acara sendiri—menjenguk salah satu rekan seangkatan kami yang ada di rumah sakit. Aku tidak ikut, karena tadi sore aku sudah ke sana, dan sekarang aku harus segera sampai ke rumah.

Aku lalu berjalan menyusuri lorong grdung jurusanku, menuju ke gerbang depan kampusku—berharap masih ada angkutan kota yang lewat jam segini. Harapannya 80%.. 80% gak ada yang lewat maksudnya. Haha, aku cuma bisa tersenyum miris saat berdiri di depan gerbang kampus sendirian, dengan ditemani beberapa orang satpam yang sedang menonton pertandingan bola di televise pos jaganya.

10 menit…

20 menit…

Resmi nih, aku bakalan menunggu teman-temanku pulang dari rumah sakit dan meminta mereka mengantarkanku pulang. Kalau tahu begini jadinya sih, lebih baik aku ikut saja ke rumah sakit tadi. Huff…

Aku merapatkan jaket himpunan yang melekat di badanku, lalu memutuskan untuk kembali ke himpunan saja. Daripada aku berjamur menunggu kepulangan teman-temanku di sini, sendirian.

Saat aku baru saja melangkah masuk kembali ke kampus, tiba-toba seseorang memanggilku.

“Ner! Nera!”

Suara yang familiar di telingaku. Aku menoleh—terima kasih Tuhan—itu adalah Aga, salah satu seniorku yang baru saja lulus bulan kemarin. “Hey, Ga!” aku segera berlari menghampirinya yang berada di atas motor.

“Lo ngapain di sini? Sendirian pula. Gak balik lo?” tanyanya sambil membuka helmnya.

“Gue lagi nunggu angkot tadinya. Justru, gue mau pulang—gak ada angkot. Jadi gue mau balik lagi ke himpunan, biar nunggu anak-anak nganterin gue pulang.” Aku menjawab sambil cengengesan. Merasa senang akhirnya bertemu dengan manusia yang kukenal di malam hari seperti ini.

“Buset, nungguin anak-anak balik mah pasti lama, apalagi mereka kayanya makan malem sekalian.” Aga berkomentar.

“Iya makanya.. Eh, kok lo ada di sini? Lo gak ikut jenguk ke rumah sakit?”

“Iya, gue baru dari kosan temen gue tadi, ngambil barang ketinggalan bentar, terus kebeneran pulangnya lewat sini dan ada lo nangkring sendirian di sini.” Ia memperhatikanku sebentar, lalu tersenyum mengejek. “Lo mau gue anterin pulang aja gak? Daripada tar lo nunggu di kampus ada yang nyulik, dikira bocah hilang jam segini.”

Sial! Dia meledekku!

Tapi spontan aku langsung menjerit, “MAU!”

Ini kebetulan sekali! Aku tidak usah pulang naik angkot sendirian, atau pulang lewat tengah malam lagi karena menunggu orang yang kiranya sudi mengantarku pulang. Aga tertawa, lalu ia menyodorkan satu helm lagi ke arahku. Dengan semangat, aku segera memakainya dan melompat naik ke atas motor Satria milik Aga.

Aku cukup dekat dengan Aga, aku merasa dia adalah senior yang menyenangkan, karena semenjak aku pertama kali kenalan dengannya di saat ospek jurusan, dia selalu menjadi orang yang bercerita mengenai menyenangkannya menjadi mahasiswa. Dan satu lagi nilai plusnya.. cukup terakreditasi di mataku—ganteng maksudnya!

Jadilah ia mengantarku dengan selamat sampai di depan rumahku, dengan berbagai percakapan yang seru selama perjalanan. Ini benar-benar kebetulan yang menyenangkan!



Aga. 12.32. Kampus. Dua tahun yang lalu.

Aga memperhatikan sekelompok mahasiswa jurusannya yang baru, yang kini sedang disuruh berdiskusi tentang beberapa isu masyarakat—untuk nanti dipresentasikan di forum. Matanya kini tertuju pada seorang peremuan yang mengenakan baju angkatan yang kebesaran, mengenakan celana jeans belel lengkap dengan sepetu keds biru tua yang cukup eye-catching. Ia tersenyum memperhatikan gerak-gerik perempuan itu, yang begitu anomali di tengah-tengah kelompoknya yang begitu aktif membahas isu yang diangkat—ia malah asyik menggambar di selembar kertas yang ia sobek dari buku catatannya.

Aga lalu berbisik pada teman yang sedang berada di sampingnya, sang coordinator acara, “Dri, cewek yang sepatunya biru itu siapa namanya?”

Temannya mencari posisi gadis yang ditanyakan, lalu berusaha mengingat namanya. “Hmm.. namanya Nera kalo gak salah.” Ia mencari nama gadis itu di kertas absen. “Iya, Nera Maraglia. NIM 108. Kenapa emangnya?”

“Nggak apa-apa kok,” Aga tersenyum sambil terus menatap gadis itu. “Dia cantik.”



Aga. 19.20. Kampus. Hari ini.

“Rapat proker mau beres jam berapa hari ini, Fan?” Tanya Aga pada Irfan, sang Ketua Departemen.

Irfan melirik kea rah jam dinding di himpunannya, “Hmm, jam sebelaslah—kalau bisa sih kurang. Mau ngejenguk Bella yang di rumah sakit. biar masih keburu.”

Aga mengernyitkan keningnya. “Siapa aja yang ke sana?”

“Semua, kayanya. Kita belum pada jenguk soalnya. Yang udah jenguk baru Nera, tadi sore. Kita juga tahunya dari dia kalau Bella masuk rumah sakit.” jawab Irfan sambil menghapus whiteboard yang akan ia pakai untuk rapat sebentar lagi.

Aga berpikir sejenak. Itu berarti Nera tidak akan ikut ke rumah sakit. itu berarti Nera akan pulang jam segitu. Itu berarti Nera tidak akan ada yang mengantar pulang. Pandangan Aga lalu terlempar ke arah seorang gadis yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di depan himpunan, lengkap dengan jaket himpunan dan tas punggungnya yang berwarna hitam. Gadis itu terlihat sangat ceria dan bersemangat, dan cantik—sama seperti saat ia melihatnya dua tahun yang lalu.

Sambil melangkah keluar himpunan, Aga lalu tersenyum penuh arti. Inilah kesempatannya, untuk memulai semuanya. Nanti malam, sekitar jam sebelas. Dimulai dengan sedikit kebetulan yang disengaja, ia akan menjadi ksatria penyelamat untuk sang gadis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!