Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 20 Maret 2011

Supermoon

Oleh: @nrprtm_
http://www.facebook.com/narapratama

November 25, 2009.

Temboknya berwarna jingga, merah merekah bercahaya disinari mentari dari jendela.
Disudut itu, kita terkadang telanjang, saling berangkulan, cumbu-mencumbu, dan berbagi dunia kecil milik berdua. Hanya berdua.

Kamu membawaku menutup mata, terbang mencari bintang untuk kubawa pulang disaat mentari beranjak pergi dan air laut sudah setinggi dada.

-
"Hentikan, sudah cukup banyak bintang pemberianmu yang kusimpan, aku ingin mengirim mereka kembali menuju kegelapan," pintanya tenang, sambil membebaskan bintang-bintang dari bungkusan harapannya.

"Kenapa ? Bukankah kamu ingin bintang menjadi pembimbing jalanmu ?"
Aku sering memetik bintang untuknya, karena tidak setiap saat aku dapat tinggal dan menjaga tidurnya.

"Mereka semakin langka, diburu, dan dipanah. Mereka dibunuh dengan tembaga, oleh manusia, dan polusi cahaya dari lampu kota. Mari kita jadikan bulan sebagai penggantinya. Berjanjilah kamu akan berada disini, 18 tahun dari sekarang, disaat bulan semakin mendekat, membawa kabar baik, entah buruk,"

"Aku berjanji."
Dan kami menghabiskan malam berpelukan, berlinang air mata.
-

Semakin hari, semakin sulit untuk memandang bintang. Kapasitas cahaya lampu kota yang berlebihan menghalangi pandanganku akan indahnya langit malam. Namun bulan selalu bercahaya, hanya terkadang muncul setengah hati dan malu-malu bersembunyi dibalik awan kelam. Maka kami memilihnya.

-
"Bintang itu, bintang yang selalu muncul disetiap malamku,"
Aku menunjuk salah satu bintang disudut timur, berkelap-kelip menunjukkan kehadirannya yang tepat berada dibawah bulan.

"Aku akan selalu berada disana, sebagaimana bintang itu selalu ada untukmu. Namai dia namaku, aku ingin selalu melihatmu sambil berdiam diri dibawah terang rembulan, nyaman, damai,"
Dengan tenang, dilepasnya genggaman tanganku, dan ditinggalnya aku kesana, dibawah sinar bulan, dikelap-kelip bintang yang hadir menjaga setiap malamku.

"Pergilah, aku akan menepati janjiku untuk menyapamu dihari itu, dimana bulan datang mendekat dan menatap sendu,"
Kami berpisah.
-

Hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun kuhabiskan untuk mencari cara membersihkan cahaya kota demi melihatmu kembali disaat hari itu tiba.
Aku meninggalkan segala kewajibanku, berpindah kesana-kemari mencari tempat terendah sampai terttinggi.
Terobsesi dengan hari tanpa cahaya kota,
hanya untuk melihatmu kembali 1 malam saja.
Namun segalanya sia-sia, siapa peduli dengan usahaku ? Apa untungnya mereka mewujudkan impianku ?
Mereka tertawa, mereka menghina, mencaci-maki penuh benci.
Aku menyerah, aku mengalah.

Super Moon:

Malam ini aku mencari posisi terbaik untuk memandang fenomena alam yang terjadi 18 tahun sekali, dari pulau Dewata.
Aku terus mencari-cari pantai dan langit terbuka tanpa cahaya lampu kota, sendiri.
Aku yakin, tepat pukul 02:10 nanti kita akan kembali bertemu dalam diam, saling memandang melepas rindu dalam haru-biru.
Percayalah, aku sudah lelah disini, dan ingin sekali berada disampingmu, dibawah sinar bulan itu.
Mungkin nanti, dikala malam telah meredup, lampu-lampu kota perlahan dimatikan, dan yang terdengar hanya bisik angin.
Untuk saat ini, biarlah kita terus berkirim pesan melalui angin malam, sampai mereka sadar akan keindahan langit malam, dan ikut duduk bersampingan denganku, memandangmu, memandang mimpi mereka masing-masing.

Aku percaya kamu masih disana, bersama bulan dengan awal barunya, hari ini.

Sampai bertemu nanti, Ibu.

1 komentar:

  1. Wooow ini penggabungan dari lagu Ambilkan Bulan, Bu sama Supermoon ya? Asik twistnya hehe :0

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!