Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 09 Juni 2011

Laki-laki Celung Mata Hitam



Oleh: Ellena Ekarahendy | @yellohelle | the-possibellety.blogspot.com


Mereka menyebutnya hewani. Ia menyebutnya hakiki.
Kita bicara tentang nafsu birahi.

Nafasnya menderu sesisa malam, dengan dada naik dan turun mengikuti pompa jantungnya.
“Tidak, Sayang. Saya tidak akan berhenti.”
Malam hening tidak menjawab, hanya sesekali cicit tikus terdengar dari arah gudang. Ia tidak peduli. Lembab tanah sehabis hujan mengisi udara malam pinggiran Jakarta, membawa aroma bangkai kucing yang tertabrak tadi siang menyelinap masuk ke dalam kamar, sepenuhnya mengusik indra penciuman. Ia tidak peduli. Peluh berbutir-butir jagung mengikisi sisa-sisa pemulas, menyembulkan bekas jerawat yang ditutup-tutupi. Ia tetap tidak peduli.
Matanya adalah kelam, menyaru dengan langit ibukota yang memuram mendekati dini hari. Kelam dari dua iris melekat pada laki-laki di hadapannya yang membalas tanpa senyuman. Bukan absensi senyuman yang ia pedulikan, karena menurutnya, sudah bukan dari mulut manusia seharusnya berkata-kata. Mata. Adalah mata yang membahasakan perihal yang tidak bisa dilampaui kata, dan adalah lidah yang selama ini telah menjadikannya semu. Mata sang lelaki yang ia pedulikan. Lalu bagaimana ia mendengar jika bukan dengan bibir lagi telinga dipasangkan? Ia memilih untuk mendengar lewat celah-celah pori-pori yang menyelubungi sekujur tubuhnya. Adalah kulit yang menjadikan mereka bertangkapan kata-kata.
Pertemuan kulit dua individu adalah kotor, sebut bekas teman-temannya. Namun, pikirnya, hanya dengan laki-laki ini aku bisa bahagia. Laki-laki ini yang telah menjadikan dia sebagai dirinya sendiri. Laki-laki ini yang membiarkan ia berbicara tentang kesiapaan yang dianggap bidah. Begitulah. Mereka berjumpa dalam kesamaan akan keterasingan, sama-sama saling terpesona oleh keapaadaan, dan yang terpenting: mereka adalah sama dalam pertanyaan tentang siapa diri mereka sendiri.

Pada awalnya hanya saling melempar pandang. Ia hanya berdiri di samping bingkai jendela setinggi dinding bangunan yang menjatuhkan bayangannya sampai ke tubuh si laki-laki. Sang laki-laki tak bergeming, hanya membalas tatapan yang canggung dengan senyuman. Ia datang menghampiri.
“Saya iri pada ilalang.” Ujarnya pada awal perkenalan. Kalimat pembuka paling klise yang selalu ia ucapkan pada setiap laki-laki yang mulai mengambil hatinya.
“Kenapa? Kenapa tidak iri saja pada mawar?” timpal si laki-laki.
Ia tersenyum lalu menjawab, “Karena meski seluruh spesies manusia menyebut mawar adalah indah dan baik, sembari dengan tidak langsung menyebut ilalang adalah sampah, ilalang tetap tumbuh dengan bebas dan menjadi dirinya sendiri.”
Si laki-laki, dengan matanya yang gelap, menatap dengan kekaguman. “Kamu.. pasti satu dari ilalang yang pantas disimpan pulang.”
Ia tersipu. Untuk pertama kalinya, pertanyaan klisenya tidak berakhir dengan kerut-kerut penuh tanda tanya di dahi si laki-laki yang menyeret kakinya pergi melangkah menjauhi. Mata sang laki-laki menghujaninya dengan pesona. Ia makin tersipu. Semakin dalam ia menyelami gelap mata sang laki-laki, semakin dalam ia menikmati ketidakberdayaannya untuk berenang pulang ke tepian. Di dasar gelap mata si laki-laki, ia menemukan rumah, yang bukan sekedar tempat singgah.
Pada laki-laki ini ia jatuh cinta. Lalu di dalam bangunan yang sama dan di ruang yang sama tempat mereka pertama kali mengenal, keduanya berjanji untuk terus bertemu. Kencan.  Dengan saling membalas tatapan mata, keduanya menyetujui kencan setiap malam. Rindu kadang adalah keserakahan.
Dan cinta membawa mereka pada pertemuan-pertemuan sepanjang malam: menghabiskan menit-menit dengan masing-masing merangkak ke dalam pangkal pikiran masing-masing yang menggelitik untuk dinikmati. Mereka menikmati kencan-kencan mereka, yang dihabiskan bukan dengan gerungan asap knalpot jalanan protokol, bukan dengan kisah percintaan basi di bioskop, juga bukan dengan kilau piring resto yang hanya akan membuat masing-masing sibuk dengan dagingnya sendiri-sendiri. Mereka berkencan dengan indera mereka bersenggama: mata yang berbicara; bibir yang terkatup mengagumi bersama lidah; telinga bias oleh hening; hidung yang rakus menghirupi sisa pikiran yang berceceran; dan kulit yang saling bertemu, dengan peluh mengikuti kenaluriannya sebagai manusia.

Ada cinta yang membumbung tinggi, menyembul keluar dari genting merah yang menaungi kencan mereka. Ada cinta yang mengisi oksigen-oksigen mereka yang dihirupi dengan penuh rasa. Biasanya ada cinta. Malam ini memang dimulai dengan cinta, dan tentunya birahi, namun berakhir dengan gelisah.

“Kenapa malam ini harus jadi yang terakhir?” Ia mengelap peluh di dahinya, berkata dengan gemetar nyaris menangis.
Si laki-laki menatapnya, masih dalam diam. Celung matanya semakin hitam sepanjang malam. Mungkin si laki-laki adalah manusia yang terlalu letih membiarkan siapa saja menyelami gelap matanya, mengorek habis tentang dirinya hingga tidak ada rahasia yang bersisa. Apalagi tenaga seseorang jika bukan dari rahasia-rahasia kehidupan: masa lalu, mimpi gila, dan cita-cita utopis, semangat hidupnya dibangun?
“Kamu bosan dengan saya?” Ia merengek. “Apa kencan kita membosankan?”
Tidak ada kerutan di dahi si laki-laki, tidak ada kedutan di celung matanya, tidak ada guratan yang meninggi di bawah bibirnya. Tidak ada perubahan apa-apa di wajahnya. Hanya matanya semakin menghitam.
“Apa semua laki-laki adalah sama?” Matanya merah dan nanar. Si laki-laki tetap tidak menjawab.
Ia menghentikan desahnya yang telah panjang mengisi sunyi, mulai berganti dengan isakan yang meninggi. Sudah tidak bisa lagi ia bertanya, hanya menangis saja meraung-raung. Sayangnya, air mata tidak membuat si laki-laki sekedar menatapnya iba. Beremosi pun juga tidak. Ia mendongak menatap mata si laki-laki, dan hitamnya adalah kesolidan kebertiadaartian. Tangisnya memelan, bergantian dengan sengal nafas yang berisi marah. “Kalau kamu bosan, ya sudah! Saya masih bisa cari pengganti!”
Si laki-laki celung mata hitam tidak menjawab, hanya menatap punggung yang tadi sesegukan menyampaikan ‘selamat tinggal’. Iya, segesa itu ia akan menikmati mata laki-laki lain untuk berbagi kata untuk membahasakan pikirannya yang mengelana sepanjang harinya yang sepi.
“Hai,” ujarnya, “Kamu tahu? Saya kadang iri dengan ilalang.”
Ia membuka percakapan, menatap penuh cinta dan obsesi pada mata laki-laki di hadapannya sekarang. Matanya sama hitam, celungnya menceritakan kesepian, ekspresi jiwanya yang tidak tergapai.
Ia menjulurkan tangan kanannya, melanjutkan pikirannya menyetir ini dan itu.
Ia tenggelam pada celung hitam mata laki-laki yang baru, dengan birahi yang meninggi, lupa pada hari yang telah disusupi pagi. Ia terus tenggelam dalam pikirannya dan pikiran laki-lakinya yang baru. Laki-laki celung mata hitam yang dulu hanya menatap dari sisi dinding di belakangnya, tidak pernah berkata apa-apa lagi. “Sudah bisa ia, sudah mati,” bisiknya pada laki-laki celung hitam yang baru.

Tetangga sebelah rumahnya melongok dari ujung jalan. Ia menoleh sebentar, tidak peduli, hanya melanjutkan kencannya dengan laki-laki yang baru yang lebih menggairahkan, meski pagi ribut minta disapa. Tetangganya mencibiri persetubuhan yang terlihat dari balik jendela. Ia hanya balas mencibir. “Manusia tukang menghakimi. Memangnya kamu itu orang benar.”
Ia mendengus lalu menutup tirai jendela.
Si tetangganya mengawali hari tentang kelibatan pikiran yang tidak bisa disimpan sendiri. Tetangganya yang lain berpapasan setelahnya, sama-sama bergidik dengan apa yang baru mereka curi lihat. Mereka bersapaan dengan tatapan.
Satu dari mereka yang mulai berbagi dengan ngeri, “Gila. Bahkan sekarang sampai pagi!”
“Apanya?”
“Dulu ia berbicara dengan lukisan minyaknya sendiri, sekarang bahkan bercumbu dengannya!”
Lalu hening yang canggung mengisi antara mereka, yang memutuskan untuk berjalan dalam diam tanpa perlu merespon apa-apa. Ilalang di lahan kosong bergoyang sambil tertawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!