Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 13 Juni 2011

Seseksi Karung Beras

Oleh: @himiauralya


Cantik itu relatif. Ah basi! Cantik itu absolut. Punya kiteria mutlak yg tak bisa disanggah. Bentuk – bentuk tertentu yg sudah secara paten yang disepakati menjadi unsur pendukung kesimpulan cantik. Kulit halus putih menawan. Hidung mancung bukan ke dalam, dagu yang berbentuk sedikit cekung dan proporsional. Mata yg tajam, dan bulu mata lentik. Mungkin akan lebih tepat dikatakan bahwa cantik itu di definisikan dalam ranah – ranah tertentu. Setiap wilayah, beda kriterianya. Punya lingkup wilayah yang masyarakatnya sepakat secara diam – diam, atau kadang juga secara ramai berpendapat bahwa cantik itu seperti itu, itu, dan itu.
Lebih – lebih seksi. Lebih banyak lagi itu persyaratannya! Pengorbanannya juga banyak. Maintanancenya tidak kalah sama eksperimen para ahli di laboratorium. Salah takaran, salah treatment, ulang dari awal! Cantik dan seksi itu anugerah sekaligus siksaan buat wanita. Jika terlahir tanpa keduanya, hanya orang – orang istiqomah yang bisa memperolehnya.
Sudah 24 tahun, cermin yang tergantung di sebelah ruang makan ini menjadi perekam setia wajah sumringahku setelah makan dengan lahap. Menyantap masakan ibuku hingga tak bersisa. Dan cermin ini seperti layaknya dementor yang sanggup menyedot bahagiaku setelah makan masakan ibu itu. Senyumku yang mengembang itu menguncup, beringsut ingsut bersembunyi dibalik wajah bulat, ia masuk lagi ke dalam menyusuri lorong – lorong gelap timbunan lemak di badanku yang berlipat – lipat . Cermin ini, jika diberi kesempata nberbicara mungkin dia sebal dan bingung, mengapa setiap aku melihatnya, bibirku maju tiga senti, merengut lalu menghambur pergi.
Aku lari, lari dari fakta tak terbantah. Yang dari orang awam hingga berpendidikan tahu bahwa aku gendut. Berat badanku berlebihan. Yang kata dokter aku obesitas. Saat itu aku masih 14 tahun. Punya semua yang kata orang cukup membuatku menjadi anak beruntung. Keluarga cukup, prestasi sekolah gemilang dan tentu saja, beruntung tidak busung lapar. Walau perutku tak ada bedanya dengan mereka. Buncit. Tapi aku tak punya satu. Aku tak punya kegembiraan atas berat badan. Tapi tak tau juga caranya untuk berhenti makan.
Sudah sepuluh tahun lalu ketika aku mulai naksir dengan si pemimpin upacara di sekolah. Kakak kelas. Keren, populer, tampan, dan tentu saja memiliki badan yang athletis. Buatku dia memenuhi syarat yang secara kedaerahan, atau mungkin teritorial umurku bahwa dialah makhluk lelaki sempurna yang pernah ku tahu. Setiap aku lewat depan kelasnya. Dia tentu saja tak melihatku, tapi hatiku rasanya lari. Jantungku yang dag dig dug bermarathon tak karuan. Namun saat itu terbebani oleh ketambunan ku. Ah, lagi-lagi karena aku gendut! Mana mau dia denganku! Aku kan palem botol dan dia seperti pohon kamboja. Indah menawan.
Samar – samar aku ingat dari saat itulah aku mulai mengurangi makan. Entah ada angin apa aku rajin lari – lari tiap pagi keliling kampung. Sambil melirik rumah si kakak kelas, yang kebetulan tetangga. Ahay, setiap dia membuka pagar rumah, melepas gembok untuk membukakan pintu pagar mobil ayahnya, aku sengaja lewat dan menantinya tersenyum. Dan aku, semakin mendekat rumahnya semakin kencang hingga kadang aku tak tau dia benar –benar tersenyum atau tertawa lucu melihat adek kelas tambunnya ini lari lari seperti bola menggelinding di pagi hari.
“Manda, makan dulu nak. Dari tadi kamu sentum senyum sendiri depan cermin” ujar ibuku. Makanan sudah terhidang sedari tadi di meja. Aku masih mengingat – ingat bagaimana cermin yang berbentuk persegi panjang ini sekarang dengan jarak sejengkal mampu mengcapture seluruh tubuhku, tak ada selipatan tubuhku pun yang keluar dari bingkai kaca ini. Padahal dulu, sepuluh tahun lalu, dengan jarak tiga ubin marmer ini saja, kaca ini tak muat, aku harus mundur lagi agar bisa melihat seluruh aku. Tanpa bagian – bagian itu lari bersembunyi di balik sisi kakan kiri kaca yang terbuat dari kayu. Yang tak bisa menggambarkan lipatan – lipatan pinggang. Entah sejak kapan bermin ini cukup. Entah sejak kapan.
“Mas Awan tadi kesini Manda, kayaknya dia pengen ketemu kamu. Sebelum kamu PTT ke luar jawa. Selama kamu koas kan kamu tak pernah pulang nak. Dia tanya, tanggal berapa kamu wisuda koas”, kata ibuku.
“Kamu ndak bilang kah, kalo kamu pulang? Sepertinya dia tadi kaget ibu bilang kamu pulang, tapi kamu sedang ke rumah mbahmu”, ibu mulai lagi .
Ibu tahu, ibu tahu dari dulu aku suka sama anak Pak Hardiman, tetangga beda blok itu. Dari saat aku masih tambun hingga menjelang kuliah
Tapi ibu tidak tahu bagaimana si pemimpin upacara pujaan hati ini ini dulu lah yang merobek harapan atas kepercayaan tidak semua orang ganteng itu merasa penting, tidak semua orang yang berbadan bagus itu juga tidak melihat “tubuh” orang lain sebelum bicara tentang orang lain itu.
Ketika itu mas Ganteng ini berada di puncak kepopulerannya. Kelas 3 SMA, dan aku yang sudah mulai kempes dari usaha diet dan olah raga yang meski tak bisa dibilang proporsional juga. Aku adik kelas tingkat satu. Penggemar nomer satu. Dengan sumringahnya aku membaca hasil wawancara dengannya di majalah sekolah ketika dia ditanya tenyang pendapatnya tentang siswa ideal. Dia bilang bahwa penampilan cantik atau ganteng itu relatif. Ukuran badan dan paras wajah tak sepatutnya menjadi dasar penilaian seseorang.
Namun alagkah kecewanya ketika aku dengar sendiri dia berkata kapada temannya saat orientasi dan pemilihan ketua osis, dia setengah berbisik, namun masih jelas kudengar.
“Masak kita pilih ketua osis yang kayak karung beras begini. Malu lah kita, sekolah kita. Kita pilih yang seksi, cantik. Masalah ga pinter, nanti kan temen – temennya bantuin” katanya sambil tersenyum.
Aku masih ingat, masih ingat.
“Manda, Mas Awan nelpon. Besok pagi katanya kamu mau diajak ke SMA, mungkin pengen reunian berdua “, ibuku sumringah sekali menyampaikan pesan si pemimpin upacara
“Bilang aja bu, kalo mau nostalgia jangan bawa- bawa karung beras”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!