Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 21 Juni 2011

Semua Karena Tarot

Oleh: Melissa Olivia (@moliviatjia)

Ya! Benar! Ini semua gara-gara tema kurang ajar itu! Kenapa sih pakai tema itu segala, jadinya hal itu bisa muncul di kepalanya?! Umpatku dalam hati. Kalau saja aku nggak mengajukan taruhan bodoh itu, sekarang aku tak akan terjebak dalam situasi-paling-aneh seperti sekarang ini. Aku mau nangis rasanya. Huhuhuhu....

"Udah dong, ah... Jangan merengut terus gitu! Cantik-cantik kok cembetut.. Tar cowok-cowok pada kabur lho... Hihihi..," goda Winnie sambil colek-colek daguku.

"Idih... Apa-apaan sih!" Aku menepis tangannya, "Pake colek-colek dagu segala. Centil! Tar dikira kita lesbian. Ogah! Amit-amit jabang bayi!" Aku mengetok meja di hadapanku 3x.

"Ya habis, orang mau ketemu doi kok muka dilipat kayak cucian belum kering," kata Winnie lagi.

Aku mendengus kesal. "Ini semua gara-gara kamu juga! Sebagai sahabat, bukannya mendukung malah menjerumuskan!" sergahku. Keki habis!

"Hei, itu semua kan bukan keputusan aku semata. Keputusan bersama tahu. Pakai voting! Aku pribadi sih sudah pilih nggak setuju. Tapi yang lain malah setuju tuh... Ya gimana donk...Bisa apa aku?" jawabnya dengan tatapan penuh rasa kasihan.

Huh! Memangnya senaas itu apa nasibku?!

***

Seminggu sebelumnya...

"Teman-teman, minta perhatiannya sebentar dong!" Tiara, si ketua OSIS, tengah berkoar-koar dengan suara soprannya di depan kelasku pada saat jeda jam pelajaran. "Hari Jum'at depan kan kita mau adain festival budaya nih. Kita dari tim OSIS minta perwakilan teman-teman dari setiap kelas untuk turut berpartisipasi. Tema kita tahun ini adalah "Ancient Culture". Melalui tema ini, kita akan belajar tentang berbagai macam budaya dari masa lampau, entah itu tradidi, mitos, legenda, dll dari berbagai belahan dunia.

"Setiap kelas boleh memilih antara membuka stand atau mau perform di panggung, selama tidak lari dari tema. Untuk performance di panggung, durasinya terbatas, jadi saya rasa tidak memungkinkan kalau semua kelas perform di panggung. Oleh karena itu, kami memutuskan, setiap kelas memberikan dua jenis proposal, satu untuk performance, dan satu lagi stand. Mana yang paling unik dan menarik, itulah yang akan kami ambil untuk mewakili masing-masing kelas. Pengajuan proposal paling lambat hari Rabu besok dan pengumumannya akan dipasang di mading pada hari Kamis. Setelah itu, teman-teman punya waktu seminggu untuk persiapan. Untuk detail waktu penyelenggaraan, teman-teman nanti bisa liat di mading, yah. Sampai sini ada yang ingin bertanya?" Selesai juga Tiara berpidato.

Hening. Seperti biasa.

"Oke, kalau begitu, kita pamit dulu, yah. Nanti kalau ada yang ingin ditanyakan, kita ada di ruang OSIS. Jangan lupa, yah proposalnya. Bye!" Tiara dan kawan-kawan akhirnya melenggang keluar. Karena guru Sosiologi tercinta kami yang seharusnya mengajar sekarang tidak masuk, Robert, sang ketua kelas berinisiatif untuk membahas soal festival tadi segera. Tak lupa, ia memanggilku untuk maju ke depan, sang wakil yang selalu bertentangan dengannya.

"Gimana, Sha? Setuju, nggak?" tanyanya tiba-tiba, mengejutkanku.

"Hah, apaan?" bisikku gelagapan. Malu juga kepergok bengong di depan kelas.

"Kita nggak usah ajuin performance. Pasti kelas lain juga ada yang ajuin. Kita langsung maju dengan buka stand tarot aja!" serunya riang.

Dasar magicholic. Aku tidak semudah itu menyetujuinya."Nggak ah, hari gini masih percaya ramalan? Tarot? Emang kamu bisa baca tarot?" bantahku.

"Bisa donk! Tiap hari aku belajar gitu lho... Kalau pada mau, nanti bisa aku ajarin! Haha..," jawabnya enteng.

Oh ya, aku lupa, dia maniak soal beginian. "Aku usul performance. Kita bikin fashion show ala dewa-dewi Yunani aja!"

And the voting begins.... Karena hasilnya seri, kami sama-sama mengajukan keduanya. Siapa yang terpilih, lihat saja nanti. Aku yakin, aku akan menang.

***

Ternyata OSIS meluluskan proposal Robert, dan disinilah aku berada. Di stand TAROT kesayangan Robert! Lengkap dengan kostum ala penyihir seperti keinginannya. Benar-benar memalukan. Ini bukan aku! Ingin rasanya aku menjerit dan keluar dari stand--yang ternyata sangat diminati orang terutama gadis-gadis. Aku dan delapan kawan lainnya selama seminggu ini "berguru" sama "Master" Robert soal tarot-menarot paling sederhana. Kenapa aku bisa terjebak di sini? Berkat kebodohanku yang dengan sombongnya berkelakar kalau aku akan memenuhi semua keinginan si Robert itu kalau proposalnya terpilih dan sebagai gantinya kalau aku menang, dia yang harus menuruti semua keinginanku di hari festival! But, the reality did not support me at all... Winnie, sahabat baikku yang jugaanggota OSIS tidak bisa membantu banyak.

Namun begitu, kagum juga aku sama ide gilanya. Dari tadi stand kami nggak pernah sepi pengunjung. Kalau sampai sore begini terus, stand kami bisa dapat penghargaan. Hohoho! Ramainya pengunjung sedikit mengobati kegundahanku yang nggak terbiasa sama hal-hal aneh kayak gini. Heran juga, di abad milenium begini, masih banyak orang pengen diramal tarot.

"Hai, boleh saya ikutan diramal?" tanya seorang pengunjung yang berhasil mengalihkan perhatianku.

OMG! Seorang cowok ganteng sudah duduk manis di depanku minta diramal? Wow! I never imagine this one! Yihaaa...

"Tentu saja boleh... Silahkan kocok kartunya dan ambil 3 buah kartu...," tukasku dan memberikan senyum yang paling manis, semanis-manisnya.

And my love story begins after that day... Haha... Thanks Robert, thanks Tarot! I love you all!


--
Best Regards,

Melissa Olivia

1 komentar:

  1. Yeay! Cerita kita persis sama, ya. Xixixixi...

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!