Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 23 Juni 2011

Semoga Jakarta Mendengar

Oleh: Dheril Sofia (@sofiadhe)

Rani baru berusia sepuluh tahun saat ayahnya merantau ke Sumatra. Meninggalkan istri dan putri semata wayangnya di sebuah petak berlapiskan karton-karton bekas yang berbau aneh. Kardus-kardus itu dipungut dari tempat sampah sebelum petugas lain mengambilnya, lalu ditata oleh ibu Rani yang nampaknya sudah tak peduli lagi dengan penampilannya. Lihat, daster batik berkain tipis dengan corak kembang sepatu berwarna abu-abu dengan segala aksesorisnya- cipratan lumpur dan dekil saat perempuan itu kembali dari TPA nampak lengkap dengan gelungan rambut yang yang melingkar di bagian belakang kepalanya. Rani masih memperhatikan ibunya yang lalu lalang mengambil sesuatu yang bisa dimakan dari sebuah bak berawrna biru dengan tulisan “Recycle” berwarna putih. Sebuah bungkusan yang bentuknya sudah amburadul diangkatnya lalu dimasukkannya pada tas plastik. Rani nampak heran.

“Kenapa kita masih makan begituan ibu?”

Mata perempuan itu menyorot tajam, membuat nyali bertanya Rani semakin tinggi.

“Ibu gak mau makan makanan kayak itu?” telunjuk mungil gadis berambut merah terbakar matahari itu mengarah pada logo besar berwarna kuning yang nampak seperti huruf W terbalik. Outlet makanan cepat saji itu ramai dikunjungi orang. Ada selembar reklame bertuliskan “Hari Jadi Kota Jakarta”

“Bukannya Jakarta ulang tahu, Bu? Kenapa kita tidak merayakannya?”

“Uang dari mana untuk dihambur-hamburkan begitu saja!” si ibu terlihat naik beberapa derajat suhu darahnya. Mendengat pertanyaan anaknya yang sebenarnya juga membuat hatinya miris.

Melihat ibunya beringsut begitu saja dari depan tong biru yang selalu jadi ‘restoran’ gratisnya sehari-hari Rani semakin ingin menanyakan pertanyaan dengan kata kunci “Mengapa?”

*

“Hari ini aku makan nasi bungkus lagi,” suara Rani menggema di dalam drum bekas minyak tanah yang tergeletak di depan istana kardusnya.

“Aku makan steak ikan pari!” celetuk bocah laki-laki berkaos hijau dengan gambar Hulk sedang merengut menampakkan amarahnya. Kontras, mereka berdua seperti dua manekin kecil, yang satu baru keluar dari etalase, satunya lagi seperti baru keluar dari pipa pembuangan.

“Namamu Keris kan?”

“Chris! C-H-R-I-S! Chris! Berapa kali aku harus mengulangnya?”

“Hahaha...oya, bagaimana HI?”

“Seperti biasa, ratusan mobil berputar-putar mengelilinginya setiap hari,”

“Tapi bukannya hari ini hari jadi Jakarta? Tidak ada hal lain?”

“Ah...aku lupa tadi ada atraksi macam-macam di Monas,”

Rani menerawang ke langit, membuka matanya lebar-lebar seakan ingin memasukkan semua yang ingin dia lihat ke dalam matanya, “Andaikan aku bisa melihatnya, aku juga ingin merayakannya...” nada gadis cilik itu menjadi sendu.

Anak laki-laki bersepatu kets itu menendangkan kakinya ke tong besar di depannya. “Tidak usah, kita bisa merayakannya sendirian!”

Rani langsung menatap Chris. Anak seorang pemilik hotel yang ada di belakang rumahnya itu memiliki warna mata yang selalu membuat Rani heran, biru tapi ada semburat hijau kekuningan. Setelah memastikan kalau anak itu tidak berbohong, Rani pun tersenyum memamerkan gigi-gigi kuningnya.

*

Hari mulai gelap saat dua bocah itu masih berlarian menelusuri bagian ‘suram’ dari kemegahan hotel terkenal di kota metropolitan itu. Di sudut Jakarta yang entah berantah...dua makhluk kecil sedang mengais sesuatu di sekitar TPA yang tak jauh dari deretan kardus yang disulap menjadi istana sederhana.

“Aku dapat sisa lilin ulang tahun, tapi tinggal segini...” Rani membuka kepalan tangannya yang kuat, dia tak mau kehilangan benda itu hingga dia genggam erat. Potongan lilin sepanjang tak lebih dari lima senti itu remuk di tengah, terbelah dua.. “Yah...patah,” Rani merasa bersalah.

“Tak apa...” Chris mengeluarkan kotak makanan yang dia ambil dari ranselnya. Sepotong cheese cake dari oven mamaanya dia ambil sebelum pergi menemui teman mainnya siang tadi. Cheese cake yang membuat Rani berkali-kali menelan lagi ludahnya.

“Haha..kau sudah tak sabar ya?”

“Bisa kita mulai?”

Mereka duduk berhadapan, Rani dengan terusan lecek berwarna setengah pink setengah abu-abu karena aneka debu menempelinya dan Chris dengan baju yang masih sangat rapi dan bersih. Cheese cake itu ditaruh di atas kotak kayu bekas menyimpan sayuran, lalu Chris mulai menata lilin yang ditemukan Rani di atas sepotong kue itu. Jess..korek api dari tangan Rani menyala dan setitik sinar itu berpindah pada puncak lilin berwarna merah muda.

“Nah, sekarang apa harapanmu untuk Jakarta?” Chris menatap Rani dengan mata terpicing, ingin mendengar apa yang akan keluar dari mulut anak kecil yang selalu mengajaknya berdebat, Chris heran, dia bersekolah di sekolah internasional dan sudah mengenyam pelajaran yang lebih dari pelajaran SD, tapi mengapa dia selalu kalah berargumen dengan Rani, si tukang cari sampah yang sama sekali tidak pernah tahu apa itu sekolah.

“Aku harap Jakarta tidak jahat padaku, aku harap Jakarta seramah kardus-kardus yang walau bau tapi bisa melindungiku, aku harap Jakarta tidak pernah lupa dengan orang-orang sepertiku...Amiin” kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Rani terdengar sangat khusyuk. Diusapkan kedua belah tangannya ke muka dan kembali menatap lilin kecil yang mulai habis. “Lalu apa yang kita lakukan?”

“Tiup lilinnya,”

Fuuh...segaris asap muncul beberapa detik setelah lentera kecil itu mati, mulut Rani baru maju beberapa senti dan dia tak merasa mengeluarkan angin dari mulutnya. Tapi lilin sudah mati dengan sisa-sia yang masih meleleh.

“Jakarta yang meniupnya, lebih tepatnya angin Jakarta,” Chris memotong ujung cheese cake itu, membiarkan sepotong stoberi besar di atasnya lalu disuapkannya ke mulut Rani yang masih mengerucut. “Semoga harapanmu didengar oleh Jakarta...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!