Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 17 Juni 2011

Si Gila

Oleh: @rezanufa


“Gluk... gluk... gluk,” suara air ditenggak.

Seorang lelaki paruh baya berjalan sempoyongan, menenteng botol arak--baunya menyengat keramaian. Dia begitu ‘berani’ pada sekitar; pada warung-warung yang dijaga wanita bertudung, dia singgah, lalu melemparkan senyum cabulnya; pada para pelajar yang mencari ilmu, dia menyergap, lalu menodongkan senjatanya; kemudian pada seorang jompo yang hendak menyeberang jalan, begitu tanpa perasaan dia rebut tongkat orang tua itu ... kemudian tertawa lepas!

Berbaju kusut seribu lipatan, dengan kulit kusam panuan, dan wajah yang terlihat lelah memaksakan senyuman. Lelaki gila ini sudah tak peduli pada dunia sekitar. Cibiran Tuhan dia acuhkan, kitab-kitab agama tua yang pernah dipelajarinya pun telah punah dibakar, dan semua nilai hidup yang pernah dianut habis-habisan kini jadi bahan lawakan dalam kedosaan. Tidak ada kegiatannya selain menenggak arak dan menikmati wanita jalang. Kekayaan membuatnya lupa, dan kepandaian membuatnya malas. Ya, itulah dia; si Gila.

***

13 tahun yang lalu

“Prang!! Prang!!” Piring-piring melayang mencipta kegaduhan.

“Aku minta cerai!!” Teriak seorang wanita pada suaminya.

“Apa yang salah? Bukankah aku telah membuatmu bahagia?”

“Tidak! Engkau begitu memaksakan maumu sendiri. Sedangkan aku dan anak-anakku layaknya boneka kayu yang kau jejali makanan. Di rumah ini kami tidak bisa menikmati kebebasan!”

Suasana rumah megah itu sudah berantakan. Anak-anak juga terkena dampak emosional; terkurung dalam kamar dan menjauh dari kehidupan luar. Keluarga ini telah sampai pada titik jenuh, sebab kebencian memang telah tertanam dari puluhan tahun silam.

Pertengkaran berlangsung tiga hari dua malam, tanpa jeda bahkan untuk bergantian dalam hujatan. Hasil dari semua itu adalah sebuah perceraian. Mereka berpisah, jauh pada tempat yang tak terjangkau perasaan. Dan anak-anak pun jadi korban, mereka tak lagi punya seorang yang menuntun langkah dalam kerasnya kehidupan. Semuanya jadi saling membenci, mencurigai, dan alergi pada sentuhan.

***

Si anak berjalan sendirian, kabur dari istananya, mencari pengisi ruang hampa dalam hatinya. Mencari cinta. Namun yang terhampar pada dunia hanyalah wajah-wajah cantik yang memberi keteduhan palsu, yang mengincar emas dan berlian warisan yang terbengkalai. Hanya sendiri ... pada selongsong senja merayu agar datang ketenangan, namun justru tiba kepiluan yang menawarkan keraguan akan masa depan. Ragu, dan ragu, akankah cinta bisa kembai datang? Akankah hatinya bisa kembai tenang?! Ah, dia memang tidak pernah siap akan perceraian kedua orangtuanya itu.

Pemuda itu turun dari perbukitan kala gelap datang. Ada amarah menunggangi gelisahnya. Kalap! Dia menghajar setiap tanaman yang di sepanjang jalan. Kehancuran. Inilah kehancurannya seorang yang teridik dan hartawan. Apa yang kurang? Ya, cinta. Tidak ada cinta, membuatnya hilang.

“Bang!!” Seketika saja moncong mobil menghantam tubuhnya. Dia terlempar menghantam bahu jalan. Sedari tadi dia tak sadar bahwa dirinya sudah berlarian di tengah jalanan kota. Dan kini, dia bercucuran darah butuh pertolongan.

***

Si pemuda itu baru siuman, kini dia terdampar pada ranjang rumah sakit.

Lalu, seorang asing datang menghampirinya, “sudah sadar?” Tanyanya.

Pemuda itu tak menjawab. Dia masih kebingungan akan apa yang terjadi.

“Kenapa engkau berlari telanjang demikian? Masih waras kan?” Orang asing itu kembali bertanya.

Namun si pemuda tetap diam. Dia bingung akan dirinya sendiri. Kehilangan jati diri. Kehilangan kemauan untuk bangkit. Kehilangan hasrat untuk berkarya. Kehilangan segala yang harusnya dimiliki oleh manusia waras, bahkan dia sudah lupa akan kemauannya terhadap cinta.

“Hey! Sekiranya engkau mau menjawab satu saja pertanyaanku, pasti akan lebih baik,” sambung orang asing itu. “Oiya, siapa namamu. Mungkin untuk saat ini itulah yang paling ingin aku tahu.”

Bibir si pemuda itu bergetar.

Hening...

Dia menatap kosong, “In ... donesia. Namaku... iya, itu namaku. Kalau tidak salah, itu namaku,” Lirih dan terbata ucapannya. Dan kembali membisu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!