Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 15 Juni 2011

Saksi Bisu


Oleh: Melissa Olivia (@moliviatjia)


Ruangan ini terasa sesak sekali malam ini. Sesak karena amarah, emosi, dan tangis air mata. Sudah kesekian harinya sejak kepindahan mereka ke sini, mereka tak kunjung berhenti bertengkar. Ada saja hal-hal yang bisa memicu mereka untuk ribut.

Malam ini, mereka bertengkar karena sudah hampir sebulan sang suami pulang pagi buta. Pertengkaran malam ini, lagi-lagi membuat sang istri menangis tersedu-sedu. Melihat istrinya tengah menangis, sang suami bukannya menghibur atau minta maaf, malah keluar dengan membanting pintu. Keterlaluan!

Malam itu, lagi, mereka pisah ranjang.

Sungguh malang keluarga ini. Aku tak tahu sebab musabab hubungan mereka yang tak harmonis begini. Sejak awal mereka pindah pun sudah ada pertengkaran, terutama soal peletakan barang. Ck...ck...ck... Aku tak mengerti, sebenarnya mereka menikah karena cinta atau terpaksa?

Di tengah isak tangisnya, sang istri bergumam sendiri, meratapi nasibnya. Tak lama telepon genggamnya berdering. Ia meraihnya dan dalam sekejap berusaha menghentikan tangisnya, lalu menjawab, "Ya, Timmy. Ini aku.. Ada apa?"

Ah, Timothy lagi? Sudah sebulan ini juga aku sering mendengar nama ini dari HP sang istri. Setiap ada masalah, ia selalu curhat ke Timothy, teman masa SMA-nya. Masih single di umur 30. Pernah suatu kali, ia mengundang Timothy ke rumah ini dan berbicara panjang lebar dengan sang istri.

"Tidak... Aku..." Lalu ia terdiam, tak lama kemudian ia mulai sesenggukan lagi. "Kamu sangat memahami aku. Tapi kenapa suamiku sendiri tidak bisa? Kamu tahu, akhir-akhir ini ia sering pulang larut malam bahkan hingga pagi buta, seperti hari ini. Alasannya meeting. Tapi, apa ada meeting hingga pulang harus pagi buta? Belum lagi, ia hanya punya waktu sedikit untuk tidur dan pagi harinya harus bangun bekerja lagi.

"Aku khawatir dengan kesehatannya. Tapi, ia selalu menuduhku cerewet dan terlalu mengatur hidupnya. Belum lagi ia pulang dengan bau alkohol yang cukup pekat. Istri normal mana yang tidak cemas?

"Aku tak habis pikir, apakah semua laki-laki akan berubah setelah menikah?"

"Aku tak tahu harus bagaimana lagi, Tim. Aku sudah nyaris putus asa. Rasanya aku ingin berpisah saja. Tak sanggup aku harus begini setiap harinya.

"Kamu tahu, kadang-kadang aku merasa ia bohong. Jangan-jangan ia punya wanita lain di luar sana. Aku takuuuttt!!!" Tangisnya kembali pecah...

"Iya... Makasih yah, kamu udah mau dengerin curhatan aku.

"Iya, aku akan istirahat sekarang. Besok pas lunch kita ketemu di Romazo. Thanks a lot yah, Tim..."

Sementara itu, di ruangan lain, sang suami juga tengah curhat dengan seorang wanita. Kudengar namanya Naya. Sang suami juga curhat mengenai istrinya dan pertengkaran yang baru saja dihadapinya.

Sang suami ini juga mulai rutin berhubungan dengan Naya. Entah teman dari mana, tapi aku sering mendengar mereka saling telepon pada jam-jam segini. Sudah ada sebulan lebih sepertinya.

"Hufff... Ya Nay, aku baru bertengkar lagi. Kali ini, ia mengeluhkan soal aku pulang malam. Ia tidak percaya kalau aku baru pulang dari Cirebon. Ia selalu saja menuduhku yang bukan-bukan. Bohonglah, katanya aku ada WIL-lah, tak mengerti kekhawatiran dia-lah. Padahal aku kan kerja keras buat keluarga ini juga. Aku capek dituduh yang bukan-bukan terus...

"Haha... Iya, untung ada kamu yang bisa ngertiin aku dan masih mau lagi dengerin curhatan aku pagi buta begini. Kamu nggak ngantuk apa? Beberapa jam lagi kerja lho...

"Haha... Bisa aja kamu, kita kan teman... Teman yang sudah lama tak bersua. Hei, kita lanjut besok saja ya. Kita ketemuan pas lunch. Biar ceritanya lebih enak. Oke? Sekarang kamu istirahat gih. Nanti besok ketemu aku, kamu berubah jadi panda lagi.
"Oke deh. Aku juga mau istirahat. Good night and have a nice dream. See you tomorrow at Romazo."

Wow! Mereka akan bertemu dengan, entah teman atau "teman" mereka di tempat yang sama? Aku penasaran apa yang akan terjadi besok. Apakah pertengkaran akan bertambah parah, atau mereka justru akan berdamai? Tidak ada yang tahu.

Pagi semakin buta. Mereka sudah ke peraduan masing-masing. Apa yang akan terjadi esok, hanya Tuhan yang tahu. Aku tak punya kemampuan apapun untuk memperingatkan mereka. Toh, aku hanyalah sebuah dinding yang tak bisa berbicara. Aku hanya bisa menyaksikan mereka dan turut prihatin. Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!