Oleh: jerukwangi
(jerukwangi@yahoo.com)
Padamulanya aku hanya iseng. Iseng mempertanyakan bagaimana jika seseorang berteman dengan sebuah penyakit? Ternyata itulah yang tengah dialami oleh Sandra, adik bungsuku. Dan inilah buku hariannya yang terungkap dari sudut pandangku…
“Aku sendiri tak mengerti, mengapa aku selalu ketinggalan topi sekolahku? Lain kali malah kunci rumahku yang menghilang tak jelas dimana rimbanya.” keluh Sandra sewaktu ia duduk di kelas II Sekolah Dasar.
“Makanya, sebelum pulang, periksa kembali apa saja yang kamu bawa ke sekolah. Jangan tergesa-gesa cengengesan bergembira karena bel pulang sudah berbunyi.”ujarku pura-pura mengomel kepadanya.
“Dan sekarang semua teman-temanku mentertawakan serta meledekku karena mama menulisi bagian dalam tasku supaya aku memeriksa topi dasi atau kunci rumah yang kubawa ke sekolah.”
Aku hanya merangkulkan tanganku ke lehernya dan mengecup keningnya dengan lembut. “ Jangan lupa belajar. Kalo kamu pintar, teman-temanmu itu pasti akan berhenti meledekmu.”
Dan hal itu pun terbukti.
Waktu terus berjalan hingga Sandra beranjak remaja.
“Aku ga ngerti,kak.” tangisnya,”Kenapa hanya aku saja yang selalu kena marah mama. Padahal aku ga punya maksud demikian. Aku betul-betul lupa mematikan keran air di bak kamar mandi. Sebetulnya sesudah aku mandi, aku ingin segera mematikan kran tersebut. Tapi karena bak mandi kosong, makanya aku nyalakan keran airnya. Aku tak bermaksud untuk membuang-buang air,kak. Aku hanya keasyikan mendengarkan radio hingga air di kamar mandi meluap-luap. Aku ga menyangka kalo mama akan mengamuk seperti itu” susah payah Sandra menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku sore itu.
“Kakak dengar tadi siang juga kamu dipukul mama karena katanya waktu mama jemput ke sekolah kamu ternyata sudah pulang naik bis bersama teman-temanmu,ya?” Sambil sesenggukan pun Sandra mengangguk. “Sandra sama sekali lupa kalo pagi tadi Sandra sudah janjian sama mama untuk minta dijemput sepulang sekolah. Sandra betul-betul tidak ingat!” Aku yang waktu itu baru duduk di semester awal di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung hanya bisa meminta Sandra untuk memaklumi sikap mama yang bereaksi keras terhadap kelalaian-kelalaiannya. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku pun bertanya-tanya,” Apa sebetulnya yang sedang terjadi pada adikku? Sejak usia dini dia kerap lupa akan hal-hal kecil yang remeh temeh tetapi lumayan penting. Masa dia terkena pikun usia dini?”
Ketika Sandra berumur 23 tahun, orang tua kami bercerai. Kebetulan proses persidangan perceraian orang tua kami ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.Disinilah Sandra mengamuk sejadi-jadinya kepada papa dan mama. Untunglah waktu itu mama, setelah curhat kepada seorang sahabatnya waktu di SMA dulu, diperkenalkan atau lebih tepatnya langsung menghubungi Dr.Seruni Tresnawati, seorang psikiater yang dulu pernah menangani keponakan sahabatnya mama ini.
Beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masa kecil Sandra pun terlontar dari Dr. Seruni kepada mama. Beberapa diantaranya adalah,” Apakah sewaktu kecil dulu Sandra sering ketinggalan barang di sekolah atau kehilangan barang di sekolah?”
“Iya, dok.”
“Apakah Sandra kecil memiliki sifat hiperaktif atau agak hiperaktif?”
Sekali lagi mama mengiyakan jawaban dokter.
“Apakah kalau bermain Sandra kecil cepat merasa bosan dengan satu permainan atau tidak fokus?”
Mama pun menganggukkan kepalanya. Wajahnya sekarang berubah serius karena diam-diam mama terkejut akan kemampuan Dr. Seruni dalam menebak masa kecil Sandra.
“Apakah Sandra sulit berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan sesuatu atau bahkan ketika ia sedang bermain?”
“iya,dok.”
“Kesimpulan sementara saya adalah Sandra kemungkinan besar mengidap Bipolar Disorder. Tapi nanti akan kita tes terlebih dulu untuk lebih pastinya.”
Dan begitulah. Sebuah tes dikerjakan oleh Sandra. Yang mengantarkannya kepada sebuah kenyataan, bahwa Sandra telah lama mengidap Bipolar disorder. Dalam tiap otak manusia terdapat sejumlah hormon-hormon yang mengatur fungsi anggota tubuh. Salah satunya adalah hormon Serotonin yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan mood seseorang. Penderita Bipolar Disorder sama sekali tidak memiliki hormon ini. Hal inilah yang menyebabkan mood swing atau nama lain dari Bipolar Disorder itu.
Setelah sekian lama menjalani perawatan dan konseling dengan Dr. Seruni, akhirnya Sandra mendapatkan obat yang berfungsi sebagai Mood Stabilizer dan tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan Sandra secara keseluruhan.
Dan kehidupan seorang Sandra pun menjadi lebih teratur dan terarah. Prestasi demi prestasi terus diraihnya. Kini ia hidup berdampingan dengan Bipolar Disorder-nya.
Pada sepotong sore yang cerah, Sandra menghampiriku dan berkata,” Kak, kini aku telah berteman dengan Bipolar Disorder.”
“Maksudmu?” gerakan jariku segera berhenti begitu aku menoleh.
“Iya, kini aku telah bisa menerima bahwa hidup dengan penyakit Bipolar Disorder itu tidak lah seburuk yang aku kira. Malah setelah aku melakukan konseling dan rutin meminum obat, aku dapat menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang. Terbukti bahwa berteman dengan penyakit bukanlah hal yang terburuk yang terjadi pada kita.”
“Kalo menurutku,itu semua karena kamu mampu dan mau mengubah penyakit menjadi faktor penting yang menjadi pendorongmu untuk maju terus dalam menjalani hidupmu.” Kepeluk adik semata wayangku itu dan kucium pipinya,”aku bangga dan sayang sekali kepadamu,dik”
(jerukwangi@yahoo.com)
Padamulanya aku hanya iseng. Iseng mempertanyakan bagaimana jika seseorang berteman dengan sebuah penyakit? Ternyata itulah yang tengah dialami oleh Sandra, adik bungsuku. Dan inilah buku hariannya yang terungkap dari sudut pandangku…
“Aku sendiri tak mengerti, mengapa aku selalu ketinggalan topi sekolahku? Lain kali malah kunci rumahku yang menghilang tak jelas dimana rimbanya.” keluh Sandra sewaktu ia duduk di kelas II Sekolah Dasar.
“Makanya, sebelum pulang, periksa kembali apa saja yang kamu bawa ke sekolah. Jangan tergesa-gesa cengengesan bergembira karena bel pulang sudah berbunyi.”ujarku pura-pura mengomel kepadanya.
“Dan sekarang semua teman-temanku mentertawakan serta meledekku karena mama menulisi bagian dalam tasku supaya aku memeriksa topi dasi atau kunci rumah yang kubawa ke sekolah.”
Aku hanya merangkulkan tanganku ke lehernya dan mengecup keningnya dengan lembut. “ Jangan lupa belajar. Kalo kamu pintar, teman-temanmu itu pasti akan berhenti meledekmu.”
Dan hal itu pun terbukti.
Waktu terus berjalan hingga Sandra beranjak remaja.
“Aku ga ngerti,kak.” tangisnya,”Kenapa hanya aku saja yang selalu kena marah mama. Padahal aku ga punya maksud demikian. Aku betul-betul lupa mematikan keran air di bak kamar mandi. Sebetulnya sesudah aku mandi, aku ingin segera mematikan kran tersebut. Tapi karena bak mandi kosong, makanya aku nyalakan keran airnya. Aku tak bermaksud untuk membuang-buang air,kak. Aku hanya keasyikan mendengarkan radio hingga air di kamar mandi meluap-luap. Aku ga menyangka kalo mama akan mengamuk seperti itu” susah payah Sandra menceritakan apa yang telah terjadi kepadaku sore itu.
“Kakak dengar tadi siang juga kamu dipukul mama karena katanya waktu mama jemput ke sekolah kamu ternyata sudah pulang naik bis bersama teman-temanmu,ya?” Sambil sesenggukan pun Sandra mengangguk. “Sandra sama sekali lupa kalo pagi tadi Sandra sudah janjian sama mama untuk minta dijemput sepulang sekolah. Sandra betul-betul tidak ingat!” Aku yang waktu itu baru duduk di semester awal di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung hanya bisa meminta Sandra untuk memaklumi sikap mama yang bereaksi keras terhadap kelalaian-kelalaiannya. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku pun bertanya-tanya,” Apa sebetulnya yang sedang terjadi pada adikku? Sejak usia dini dia kerap lupa akan hal-hal kecil yang remeh temeh tetapi lumayan penting. Masa dia terkena pikun usia dini?”
Ketika Sandra berumur 23 tahun, orang tua kami bercerai. Kebetulan proses persidangan perceraian orang tua kami ini memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.Disinilah Sandra mengamuk sejadi-jadinya kepada papa dan mama. Untunglah waktu itu mama, setelah curhat kepada seorang sahabatnya waktu di SMA dulu, diperkenalkan atau lebih tepatnya langsung menghubungi Dr.Seruni Tresnawati, seorang psikiater yang dulu pernah menangani keponakan sahabatnya mama ini.
Beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masa kecil Sandra pun terlontar dari Dr. Seruni kepada mama. Beberapa diantaranya adalah,” Apakah sewaktu kecil dulu Sandra sering ketinggalan barang di sekolah atau kehilangan barang di sekolah?”
“Iya, dok.”
“Apakah Sandra kecil memiliki sifat hiperaktif atau agak hiperaktif?”
Sekali lagi mama mengiyakan jawaban dokter.
“Apakah kalau bermain Sandra kecil cepat merasa bosan dengan satu permainan atau tidak fokus?”
Mama pun menganggukkan kepalanya. Wajahnya sekarang berubah serius karena diam-diam mama terkejut akan kemampuan Dr. Seruni dalam menebak masa kecil Sandra.
“Apakah Sandra sulit berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan sesuatu atau bahkan ketika ia sedang bermain?”
“iya,dok.”
“Kesimpulan sementara saya adalah Sandra kemungkinan besar mengidap Bipolar Disorder. Tapi nanti akan kita tes terlebih dulu untuk lebih pastinya.”
Dan begitulah. Sebuah tes dikerjakan oleh Sandra. Yang mengantarkannya kepada sebuah kenyataan, bahwa Sandra telah lama mengidap Bipolar disorder. Dalam tiap otak manusia terdapat sejumlah hormon-hormon yang mengatur fungsi anggota tubuh. Salah satunya adalah hormon Serotonin yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan mood seseorang. Penderita Bipolar Disorder sama sekali tidak memiliki hormon ini. Hal inilah yang menyebabkan mood swing atau nama lain dari Bipolar Disorder itu.
Setelah sekian lama menjalani perawatan dan konseling dengan Dr. Seruni, akhirnya Sandra mendapatkan obat yang berfungsi sebagai Mood Stabilizer dan tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan Sandra secara keseluruhan.
Dan kehidupan seorang Sandra pun menjadi lebih teratur dan terarah. Prestasi demi prestasi terus diraihnya. Kini ia hidup berdampingan dengan Bipolar Disorder-nya.
Pada sepotong sore yang cerah, Sandra menghampiriku dan berkata,” Kak, kini aku telah berteman dengan Bipolar Disorder.”
“Maksudmu?” gerakan jariku segera berhenti begitu aku menoleh.
“Iya, kini aku telah bisa menerima bahwa hidup dengan penyakit Bipolar Disorder itu tidak lah seburuk yang aku kira. Malah setelah aku melakukan konseling dan rutin meminum obat, aku dapat menjalani hidup yang lebih baik dan lebih tenang. Terbukti bahwa berteman dengan penyakit bukanlah hal yang terburuk yang terjadi pada kita.”
“Kalo menurutku,itu semua karena kamu mampu dan mau mengubah penyakit menjadi faktor penting yang menjadi pendorongmu untuk maju terus dalam menjalani hidupmu.” Kepeluk adik semata wayangku itu dan kucium pipinya,”aku bangga dan sayang sekali kepadamu,dik”
blognya ada di :
BalasHapushttp://jerukwangi.blogspot.com/2010/08/aku-sayang-sekali-kepadamudik.html
dan
http://jerukwangi.multiply.com/journal/item/16/AKU_SAYANG_SEKALI_KEPADAMUDIK
@ admin :
BalasHapusKalo yang ini temanya Freestyle
thx :)