Baju Polka Dot Warna Kuning
Oleh: Wicak Hidayat
http://manterakata.blogdetik.com
Jedung! Kepala pening. Sulit sekali membuka mata. Buram. Semuanya berputar. Gelap.
Jedung! Akh, perih. Sulit sekali untuk bergerak. Samar. Sepertinya sebuah ruangan. Gelap.
Jedung! Oke. Harus. Bisa. Mengendalikan. Diri. Ada seseorang di kejauhan.
Blaaar! Cahaya terang bukan main membanjiri wajah. Siapa yang berdiri di balik cahaya? Sosoknya tak jelas. Tapi
sepertinya aku tahu.
"HEE-EI! Apa-apaan sih?" aku teriak. Suara parau. Memantul-mantul saja di dinding.
Orang di balik cahaya diam. Lampu masih menyorot wajah. Memicingkan mata. Mencoba untuk melihat. Tidak jelas, tapi
sepertinya ada yang akrab.
Tek. Tok. Tek. Tok. Tek. Langkah kaki di belakangku. Lalu sesuatu yang dingin menyentuh pipi. Tangannya, seperti
habis direndam dalam es.
Lalu ia menyentuh pipiku, pelipis, kening, hidung. Leher. Bahu.
Dada.
Perut.
Paha.
Sekujur tubuhnya dingin. Kulitnya menyentuhku. Aroma bacin menyandera pernapasanku.
Blep! Cahaya mati.
Deru napasnya jelas-jelas terdengar. Begitu dekat. Degup jantungnya, aliran darahnya, semua seperti berlomba-lomba
di balik kulit yang beku itu.
Cras! Beruntung pikiranku punya pertahanannya sendiri. Pada saat seperti ini aku bisa melayang jauh. Tiba-tiba ada
di sebuah tanah lapang, padang rumput, ilalang. Angin hangat. Matahari merajam kulit. Lalu hujan deras. Dingin
menenggelamkan tubuhku. Seperti di dalam laut. Di balik lapisan es tipis, pada sebuah danau yang beku.
Kraaaak! Permukaan danau itu pecah. Sebuah kapal baja membelahnya. Deru mesinnya bising dan menggetarkan. Buih-buih
lautan, gelembung kacau bagai dalam air bersoda.
Blass! Aku terapung. Lalu tenggelam. Terapung. Lalu tenggelam. Terhunjam sesuatu yang tidak tajam.
Bruk! Tubuhku kembali di ruangan yang gelap. Terjatuh di lantai, tak lagi terikat pada sebuah kursi.
Tek. Tok. Tek. Tok. Tek. Langkah kaki menjauh.
Lalu sebuah jemari yang hangat menyentuhku. "Sudah. Jangan menangis. Besok kamu boleh pulang ya," suara itu
berbisik. Lembut. Empuk. Mesra.
Cras! Kraaak! Blass!
Dia juga!?
Tak ada yang kuingat lagi dari kejadian itu. Hanya samar-samar. Buram. Dan juga imaji --yang menyelamatkanku dari
kegilaan jika harus mengingat setiap detil yang sungguh-sungguh terjadi.
Oh ya. Satu hal lagi. Mereka meninggalkanku sebuah pakaian. Overall polkadot warna kuning, dengan lingkaran-
lingkaran warna biru.
Aku memilih untuk mengabaikan wig hijau, hidung merah dan sepatu kebesaran di samping baju itu.
--TAMAT--
(@writingsession 5 Agustus 2010)
... .. .... .. .:. .... ..: .::: .: :.
Oleh: Wicak Hidayat
http://manterakata.blogdetik.com
Jedung! Kepala pening. Sulit sekali membuka mata. Buram. Semuanya berputar. Gelap.
Jedung! Akh, perih. Sulit sekali untuk bergerak. Samar. Sepertinya sebuah ruangan. Gelap.
Jedung! Oke. Harus. Bisa. Mengendalikan. Diri. Ada seseorang di kejauhan.
Blaaar! Cahaya terang bukan main membanjiri wajah. Siapa yang berdiri di balik cahaya? Sosoknya tak jelas. Tapi
sepertinya aku tahu.
"HEE-EI! Apa-apaan sih?" aku teriak. Suara parau. Memantul-mantul saja di dinding.
Orang di balik cahaya diam. Lampu masih menyorot wajah. Memicingkan mata. Mencoba untuk melihat. Tidak jelas, tapi
sepertinya ada yang akrab.
Tek. Tok. Tek. Tok. Tek. Langkah kaki di belakangku. Lalu sesuatu yang dingin menyentuh pipi. Tangannya, seperti
habis direndam dalam es.
Lalu ia menyentuh pipiku, pelipis, kening, hidung. Leher. Bahu.
Dada.
Perut.
Paha.
Sekujur tubuhnya dingin. Kulitnya menyentuhku. Aroma bacin menyandera pernapasanku.
Blep! Cahaya mati.
Deru napasnya jelas-jelas terdengar. Begitu dekat. Degup jantungnya, aliran darahnya, semua seperti berlomba-lomba
di balik kulit yang beku itu.
Cras! Beruntung pikiranku punya pertahanannya sendiri. Pada saat seperti ini aku bisa melayang jauh. Tiba-tiba ada
di sebuah tanah lapang, padang rumput, ilalang. Angin hangat. Matahari merajam kulit. Lalu hujan deras. Dingin
menenggelamkan tubuhku. Seperti di dalam laut. Di balik lapisan es tipis, pada sebuah danau yang beku.
Kraaaak! Permukaan danau itu pecah. Sebuah kapal baja membelahnya. Deru mesinnya bising dan menggetarkan. Buih-buih
lautan, gelembung kacau bagai dalam air bersoda.
Blass! Aku terapung. Lalu tenggelam. Terapung. Lalu tenggelam. Terhunjam sesuatu yang tidak tajam.
Bruk! Tubuhku kembali di ruangan yang gelap. Terjatuh di lantai, tak lagi terikat pada sebuah kursi.
Tek. Tok. Tek. Tok. Tek. Langkah kaki menjauh.
Lalu sebuah jemari yang hangat menyentuhku. "Sudah. Jangan menangis. Besok kamu boleh pulang ya," suara itu
berbisik. Lembut. Empuk. Mesra.
Cras! Kraaak! Blass!
Dia juga!?
Tak ada yang kuingat lagi dari kejadian itu. Hanya samar-samar. Buram. Dan juga imaji --yang menyelamatkanku dari
kegilaan jika harus mengingat setiap detil yang sungguh-sungguh terjadi.
Oh ya. Satu hal lagi. Mereka meninggalkanku sebuah pakaian. Overall polkadot warna kuning, dengan lingkaran-
lingkaran warna biru.
Aku memilih untuk mengabaikan wig hijau, hidung merah dan sepatu kebesaran di samping baju itu.
--TAMAT--
(@writingsession 5 Agustus 2010)
ada apa dengan overall polka dot kuning, esp. lingkaran warna birunya? si badut?
BalasHapusinformasinya masih kurang menurutku, padahal aku liha ini bisa jadi poin penting. badut itu apa hubungannya dengan 'aku'?
tapi tulisan kamu bagus, dramatis. :)
aku ada keinginan menambah lagi dari tulisan ini, semacam 'sekuel' mungkin :p
BalasHapuscuma belom sempat2 euy
thx 4 the comment rofianisa :)