Oleh: e-mail : nee_icut@yahoo.com
twitter : @ichacingcut
Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu Aku sudah ada di tempat yang begitu asing. Di rekaman kepalaku, tak pernah sekali pun Aku merasa ada di tempat kini aku terduduk sendiri. Begitu mataku membuka, pemandangan yang ada tak lebih dari sebuah gudang tua lapuk yang bau apek dengan satu jendela kecil di tembok sebelah kiri yang menghantarkan berkas cahaya matahari lurus menembus sampai ke lantai.
Baru saja ingin kugerakkan tanganku untuk menyentuh kepala, tiba-tiba seekor tikus melintas dari arah depan, membuatku limbung, jatuh bersama kursi yang sejak tadi kududuki. Saat itulah baru kusadari bahwa tangan, kaki, dan kursi tadi sudah dipersatukan dengan tali-temali.
Apa-apan ini? Di mana ini? Siapa yang berani-berani melakukan ini? SETAN! Tidak tahu apa aku ini Suwiryo anggota dewan yang terhormat?! Pasti musuhku dari Partai gembel itu! Cih!
Bergantian pertanyaan-pertanyaan itu belingsatan menyesaki kepalaku yang terasa nyut-nyutan setelah terbentur lantai.
Tak mau gegabah, Aku berusaha mellepaskan ikatan tali itu sehening mungkin. Meskipun tak sepenuhnya berhasil bergerak tanpa suara, tapi usahaku melepaskan tali dari tangan perlahan-lahan menunjukkan hasil. Ikatan itu melonggar dan tak lama kemudian tangan kiriku berhasil lolos dari belenggu.
Yeess!
Tinggal satu tangan lagi, disusul kedua kaki, maka Aku akan bebas.
Tepat ketika ikatan tangan kanan sudah mengikuti jejak tangan kiri, Aku mendengar suara langkah kaki dari kejauhan. Semakin kuperhatikan, suara itu terdengar semakin dekat. Tampaknya ada beberapa orang yang berjalan ke arah sini. Salah satunya pasti wanita, karena ada suara peletak-peletok hak tinggi tertangkap telinga.
Dengan terburu, Aku bangun dari posisi ambrukku. Cepat-cepat aku melepaskan tali kekang di kaki, lalu duduk manis seolah-olah tangan dan kakiku masih terkunci tali. Beberapa rencana berkelebatan di dalam kepala. Mungkin setelah pintu itu terbuka, aku akan segera lari. Atau ada pilihan lain misalnya negosiasi. Jangan-jangan mereka penculik dari lawan politik yang super licik. Ah, sudahlah, bagaimana nanti.
Aku menelan ludah dan merasakan degupan di sekitar dada semakin terasa menggema, seirama dengan suara tetesan dari talang air di dekat jendela.
KLIK.
Akhirnya pintu itu terbuka.
Tak ada satupun yang tertangkap oleh mata, karena saat itu yang mataku terima adalah siraman cahaya yang memaksaku memicing, bahkan menutup mata seketika.
Segera, setelah beberapa detik tak kuasa membuka mata, kuberanikan mengerjap-ngerjap, membiasakan volume cahaya berlebih itu agar bias dicerna.
Dan voila! Setelah itu aku berhasil melihat dengan sempurna. Ada tiga sosok manusia yang kini berdiri di depanku. Ketiganya berpakaian serba puith. Yang dua pria, yang satu wanita. Sempat aku melihat ke arah pintu yang membuka. Ada angka 478 menempel di sana.
“Selamat pagi, Pak Suwiryo, bagaimana tidur anda?” perempuan satu-satunya diantara tiga orang tak dikenal itu akhirnya bicara.
Tak ada bau apek, tak ada ruang gudang lapuk, tak ada tikus yang melintas, bahkan Aku tak duduk di atas kursi! Aku justru berbaring di atas kasur keras yang juga berwarna putih. Gila, ini pasti bercanda!
“Siapa kalian?”
“Tidak penting siapa kami. Yang penting Bapak nyaman dan tidak bandel hari ini.” Wanita dengan pakaian mirip dokter itu mendekat, bersamaan dengan dua laki-laki di belakangnya yang tiba-tiba dengan cepat memegangi tubuhku dari dua arah.
Dalam posisi begini, Aku baru menyadari bahwa ternyata tubuhku dibalut dengan pakaian super ketat yang melilit kedua tangan dan kakiku. Sekujur tubuhku kaku, tak bisa digerakkan. Aku seperti bayi yang dibalut kain flannel. Dibedong, istilah sundanya.
“Hey, mau apa kalian? Lepaaaaass!” Aku berteriak sekuatnya, berusaha mengelak ketika salah satu diantara lelaki yang memegangi tubuh sisi kiriku mengingkap lengan pakaian yang kukenakan. Sementara itu sang wanita berkostum dokter tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatku dengan sebuah suntikan yang tampak siap diinjeksikan.
“Dilemaskan ya, Pak!”
Wanita itu lalu benar-benar menyuntikkan zat yang entah-apa itu ke tubuhku,
Setelah itu, kedua lelaki berseragam putih tadi juga melepaskan cengkramannya. Aku masih meronta, meskipun tak lama setelah itu pandanganku meremang.
Sayup-sayup masih bisa kudengar pembicaraan antara ketiga orang tadi.
Salah satu lelaki diantaranya berkata, “Kasihan ya, dok. Segitunya pengen jadi anggota legislatif.”
Lalu lelaki satunya lagi berkata, “Ya iya lah, pasti dia rugi Bandar, segala udah dijual, eh taunya gagal. Stress lah dia.”
Setelah itu giliran wanita yang tadi dipanggil ‘dok’ itu berkomentar, “Makanya, jadi orang jujur-jujur aja, jangan serakah dan gila harta. Kalau iman dan mental nggak kuat, gagal mencalonkan diri jadi anggota dewan ujungnya hanya dua, bangkrut atau bangkrut dan gila seperti dia.” Wanita itu menunjuk tepat ke arahku.
Sejurus kemudian, pintu itu kembali tertutup, begitu pula dengan mataku.
Sembarangan sekali mereka bicara! Pasti ini hanya ilusi.
Pasti ini hanya ilu….si
Pasti hanya i…lu
Pasti ha..nya
Pas..ti..
Pas..
ZZZzzz
whew ... aku suka cerita ini. menggambarkan keadaan yang sebenarnya di sekitar kita. orang yang terlalu berharap akan kekuasan, rela melakukan apa saja dan ... gagal. dia akhirnya cuma punya 1 senjata, yaitu denial. ceritanya bagus banget! ;)
BalasHapusboleh tahu kenapa "a" pada aku pake huruf kapital?
BalasHapuswidih,kirain gada yg baca..abis postingan ini udah lama..haha
BalasHapus@whiteowl : makasih banyak yah :)
@jia : typo mbak..kebiasaan nulis begitu. salah yah padahal
huuhuu jadi maluuu..makasih ya koreksinya :)
hehe, biasanya kapital di tengah kalimat itu untuk menunjukkan nama, tetapi enggak untuk kata ganti, kecuali kata ganti itu merujuk unsur ketuhanan.
BalasHapusbenul sekali..seratus buat mbak jia, sepuluh buat saya, kembaliannya buat abang bakso!
BalasHapusokray..maklum, maen submit aja, ga pake ba-bi-bu baca lagi.
danke! =)