Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 08 Agustus 2010

"Dreaming of New York"

Oleh: As_3d
Lagu itu mengalun lembut dari sela-sela restoran mewah itu. Ah aku selalu terkesima dengan lagu-lagu lama. Malam ini lagu yang mengalun dan menggema di telingaku adalah berasal dari suara khas Frank Sinatra, New york New york. Mendengar seksama liriknya ingin sekali aku menjelajahi kota big Apple itu.

'I want to wake up in that city
that doesn't sleep
And find i'm king of the hill
Top of the heap'

"Dek, Ayo!"

Pria itu langsung menggandeng tanganku dan menarikku berjalan menjahui restoran itu. Ah dia kasar sekali memperlakukan wanita. Aku mendengus kesal karena sikapnya itu.

"Kenapa? Marah?"

Ia seperti bisa membaca pikiranku. Aku terdiam. Capek bertengkar dengannya. Aku hanya ingin mendengarkan lagu sebentar saja tidak boleh.

"Sudah jangan terlalu banyak bermimpi!!" ketusnya kasar dan mempercepat langkahnya. Tanganku semakin tertarik kedepan dan langkahku terpaksa mengikuti kecepatan langkahnya.

Aku memutar bola mataku. Entahlah sudah berapa kali ia menasehatiku seperti itu. Aku bosan. Aku tahu diri koq. Aku tahu, diriku ini tidak akan bisa pergi ke New york. Tapi mimpi kan sah-sah saja, kan tidak melukai siapapun. Aku kembali mendengus.

'If I can make it there
I'll make it anywhere
It's up to you
New york, New York'

Ia menoleh menatapku marah. Entah kenapa dia marah, aku hanya mendengus dan tidak berkata apa-apa.

"Udah gw bilang kan? Jangan mimpi!!" pekiknya "Lo itu gelandangan! Nggak pantes mimpi!! apalagi mau ke luar negeri"

Aku menghentakkan tanganku, melepaskan dari genggamannya.

"Memang kenapa ngga boleh mimpi? Mimpi gw kan gak ngeganggu idup lo?"

"Ganggu!!"

"He?" aku melipat tanganku "Koq bisa?"

Pria itu membuang muka dan berjalan meninggalkanku berdiri sendirian di tengah trotoar jalan. Ah aku tidak suka. Kenapa harus aku yang mengerti perasaannya dan bukan dia yang mengerti perasaanku?

Aku berjalan mengikuti langkah pria muda itu. Biarkan saja dia menggerutu seharian, aku ingin menikmati malam ini sambil menyadungkan lagunya opa Frank.


'New york, new york
I want to wake up in a city, that never sleeps
And find I'm a number one of top of the list, king
of the hill
A number one'

"HENTIKAN!!" Teriaknya tiba-tiba. Ia berhenti mendadak dan membuatku menabrak tubuh tingginya

"Apaan sih?" kuraba dahiku yang membentur punggungnya

"Berhenti bermimpi! Mimpimu membuat gw sedih"

"Hah? sedih? koq bisa?"

Ia memegang daguku dan menatapku dengan tatapan sedih. "Karena mimpimu membuatku takut akan kehilanganmu"

Apa maksudnya? Takut kehilanganku? Memang aku akan hilang kemana? Dan kenapa tiba-tiba pria ini ber 'aku-kamu'? Aduh koq jadi deg-deg an ya?

"New york terlalu jauh bagiku. Jika mimpimu terwujud, pasti aku akan sangat merindukanmu"

Tangannya tetap memegang daguku dan tatapannya mengunci mataku. Aku menutup mataku. Ini pasti mimpi. Koq tiba-tiba pria kasar ini menjadi sok-sok lembut seperti ini.

"Yang pasti" bisik pria itu pelan "Aku ini bukan mimpi"

Aku tetap menutup mata. Berusaha menganggap pria itu tidak ada. Tapi yang kurasakan malah sentuhan lembut dipipi kananku. Ciuman? Pria itu menciumku?

Tak lama kurasakan angin menerpa wajahku. Kubuka perlahan mataku. Tidak ada siapa-siapa di hadapanku. Ah. benar bukan. Aku mimpi. Seperti aku memimpikan ada di New York.

"DOR!!!"

Pria itu mengangetkanku dari belakangku. Aduh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!